Bisnis.com, JAKARTA — Silang pendapat dan adu kepentingan tak hanya mewarnai meja perundingan konferensi iklim PBB COP30 di Belem, Brasil. Persaingan juga mengemuka antara Australia dan Turki untuk merebut status sebagai tuan rumah pertemuan iklim pada 2026 atau COP31.
Baik Turki maupun Australia belum bersedia mengalah, sementara negara-negara yang ditugasi menengahi belum mencapai kata sepakat dalam proses yang mensyaratkan konsensus penuh. Hasil akhirnya bisa membawa konferensi tersebut ke Adelaide, Australia, atau Antalya, Turki.
Jika tak ada keputusan hingga akhir COP30, Jerman akan menjadi tuan rumah secara otomatis sebagai negara tempat sekretariat UNFCCC bermarkas.
Status tuan rumah kerap dianggap strategis. Posisi sebagai pemimpin negosiasi iklim dan penyelenggara konferensi biasanya menghadirkan puluhan ribu delegasi dari seluruh dunia serta menarik investasi hijau dalam jumlah besar. Status tuan rumah juga menjadi kesempatan langka untuk memamerkan kebijakan iklim, potensi ekonomi, dan budaya nasional sembari menarik arus wisata dan perdagangan.
Mengutip Bloomberg, Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, mengatakan pada Kamis (13/11/2025) bahwa ia menerima surat dari Presiden Turki, Recep Tayyip Erdoğan, dalam 24 jam terakhir. Surat itu berisi penegasan posisi Turki dalam pencalonan tuan rumah, setelah Australia juga mempertahankan posisinya. Negosiasi bilateral diperkirakan berlanjut pekan depan ketika para menteri tiba di Belém.
Para pendukung pencalonan Australia menilai penyelenggaraan COP31 di negara tersebut akan menjaga sorotan pada masyarakat adat sekaligus menempatkan kawasan Asia-Pasifik dan negara-negara pulau sebagai pusat perhatian global. Bagaimanapun, negara-negara berlokasi di kawasan yang paling terdampak perubahan iklim.
Paul Hunyor, CEO Wollemi Capital, mengatakan bahwa konferensi di Australia akan menunjukkan bahwa kawasan ini stabil, aman, dan dinamis untuk investasi transisi energi.
“Australia memiliki kumpulan dana pensiun terbesar keempat di dunia. Yang akan terlihat adalah percepatan mobilisasi modal untuk mentransformasi Australia menjadi kekuatan energi terbarukan,” katanya.
Tiga tahun lalu ketika Australia pertama kali mencalonkan diri bersama negara-negara Pasifik, peluangnya tampak hampir pasti. Namun Erdoğan pada COP29 tahun lalu menyatakan bahwa Turki juga akan mengajukan diri sebagai tuan rumah KTT 2026. Negara tersebut menargetkan net zero pada 2053.
Negosiator Australia berharap Turki akan mengalah setelah Albanese memenangkan masa jabatan kedua pada Mei 2025. Ia dikenal sebagai sosok yang lebih pro iklim.
Namun yang terjadi justru sebaliknya. Pada pertemuan awal COP30 di Bonn, Jerman, pada Juni, kepala negosiator Turki meluncurkan presentasi megah yang menampilkan kota pesisir Antalya dan menekankan peran Turki sebagai jembatan antar kawasan dunia.
Sebagai catatan, KTT iklim PBB beberapa tahun terakhir telah diselenggarakan di Mesir, Uni Emirat Arab, dan Azerbaijan. Kawasan di sekitar Pasifik belum pernah menggelar hajatan akbar tersebut dalam lima tahun belakangan.
“Belum pernah ada COP yang diselenggarakan di Pasifik. Para tetangga kita, begitu pula Australia, menilai sudah saatnya konferensi ini digelar di kawasan tersebut,” kata Albanese. Dia sekaligus menegaskan bahwa negara-negara Pasifik seperti Tuvalu dan Kiribati terancam krisis iklim dan keberadaannya terancam.
Para negosiator dan aktivis berpengalaman menilai penyelenggaraan konferensi di Oceania akan memperkuat suara negara-negara pulau kecil yang berada di garis depan krisis iklim.
Hal ini dapat mendorong hasil yang lebih progresif, termasuk komitmen yang lebih agresif untuk meninggalkan bahan bakar fosil, isu sensitif bagi negara produsen minyak di Timur Tengah.
Perselisihan ini dimediasi oleh kelompok Western Europe and Others (WEOG), yang mencakup Inggris, Jerman, Prancis, serta Australia, Kanada, dan Selandia Baru. Meski para pejabat Australia yakin telah mengantongi dukungan mayoritas, keputusan tuan rumah tetap membutuhkan konsensus penuh dalam kelompok tersebut.
Untuk mengatasi kebuntuan, Brasil sebagai tuan rumah COP30 telah menunjuk Sekretaris Iklim negara tersebut, Mauricio Lyrio, dan ketua negosiator Azerbaijan, Yalchin Rafiyev, untuk berkonsultasi dengan kedua kubu. Sejumlah opsi muncul, termasuk kepresidenan bersama atau kemungkinan Turki menjadi tuan rumah KTT pemimpin dunia yang terkait dengan konferensi.
Australia merupakan eksportir besar bahan bakar fosil dan termasuk salah satu pengemisi per kapita tertinggi di dunia. Namun Albanese berupaya mengubah reputasi Australia sebagai penghambat agenda iklim dengan menetapkan target penurunan emisi yang mengikat tak lama setelah menjabat.
Target baru yang diumumkan pada September menargetkan pemotongan emisi 62–70% dari level 2005 pada 2035. Sementara itu, Partai Liberal yang merupakan oposisi utama pemerintah Albanese justru mencabut komitmennya untuk mencapai net zero pada 2050.