Bisnis.com, JAKARTA — Rentetan bencana alam hingga banjir bersejarah yang melanda Vietnam sepanjang tahun ini telah menimbulkan kerugian yang diperkirakan menembus US$3 miliar atau sekitar Rp50,26 triliun (asumsi kurs Rp16.756 per dolar AS).
Berdasarkan data pemerintah Vietnam, upaya pemulihan terus berlanjut di lima provinsi utama yang dilanda banjir besar dan longsor. Korban jiwa dari bencana di kawasan ini setidaknya mencapai 98 orang dalam sepekan terakhir, dengan kerugian ekonomi sebesar 14 triliun dong atau sekitar US$546 juta.
Banyak keluarga melaporkan kehilangan rumah dan mata pencaharian setelah banjir berkepanjangan merendam kawasan terdampak.
“Vietnam merupakan salah satu negara yang paling rentan terdampak risiko bencana alam. Banjir besar merupakan dampak dari perubahan iklim, kondisi alam dan kebijakan adaptasi yang lemah,” kata Nguyen Phuong Loan, akademisi iklim dari University of New South Wales, Australia, dikutip dari Bloomberg.
Vietnam tercatat telah menghadapi 14 badai besar sepanjang tahun ini. Tantangan iklim dan cuaca ekstrem diperkirakan akan makin besar bagi negara yang garis pantainya rentan diterjang badai dan banjir tersebut.
Dampak badai sendiri setidaknya telah memicu kerugian ekonomi senilai 85 triliun dong atau sekitar US$3,2 miliar sepanjang tahun ini. Pada 2024, total kerugian ekonomi karena bencana alam yang ditanggung Vietnam mencapai US$3,5 miliar dengan korban jiwa mendekati 500 orang. Kerugian ini terutama disebabkan oleh Topan Super Yagi yang memicu kerusakan parah di Vietnam utara.
Dalam beberapa pekan terakhir, pusat pariwisata Hoi An, Danang, dan Nha Trang semuanya terendam. Kota bersejarah Hue diguyur hujan dengan intensitas lebih dari 1.700 milimeter (5,6 kaki) dalam 24 jam pada Oktober, mendekati rekor global. Sementara itu, ibu kota Hanoi terendam air dua kali dalam dua minggu sehingga membuat pusat kota lumpuh total.
Hujan deras juga membuat panen di provinsi penghasil kopi terbesar di Vietnam, Dak Lak, tertunda. Para petani setempat masih menilai tingkat kerusakan tanaman.
Meskipun studi menunjukkan peran perubahan iklim dalam memperburuk keparahan bencana alam baru-baru ini, dampaknya juga diperburuk oleh kegagalan dalam strategi ketahanan iklim.
“Ini mencakup deforestasi, pembangunan perkotaan yang tidak terencana dengan baik, reklamasi lahan, dan terhambatnya sistem drainase alami," menurut Loan.
Rencana adaptasi iklim Vietnam yang diajukan ke Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada September menunjukkan banyaknya celah dalam strategi ketahanan negara tersebut. Beberapa sistem peringatan dini untuk insiden seperti banjir bandang atau tanah longsor belum memenuhi persyaratan, di mana 70% tanggul laut belum ditingkatkan, dan lebih dari 1.000 waduk terdegradasi atau rusak.
"Kebijakan saat ini lebih berfokus pada pemulihan bencana daripada pencegahan," kata Loan.
Sementara itu, estimasi Bank Dunia memperkirakan nilai kerugian ekonomi akibat perubahan iklim di Vietnam akan setara dengan 12% hingga 14,5% PDB-nya pada pertengahan abad ini, jika tidak diiringi dengan langkah-langkah adaptasi dan mitigasi yang tepat.
Selain itu, investasi tambahan yang diperlukan Vietnam untuk adaptasi iklim pada 2040 diperkirakan mencapai US$254 miliar.
“Sulit bagi Vietnam untuk memenuhi permintaan tersebut tanpa kontribusi dari sumber eksternal," kata rencana adaptasi tersebut.
Pengalaman Vietnam dalam menghadapi bencana iklim turut tercermin di seluruh kawasan Asia Tenggara. Negara-negara seperti Thailand, Filipina, dan Malaysia terguncang banjir dan longsor akibat hujan lebat dalam beberapa bulan terakhir. Negara-negara tetangga juga menghadapi tantangan serupa dalam meningkatkan kemampuan mereka untuk menahan dampak perubahan iklim.
Asia Tenggara membutuhkan sekitar US$20 miliar pendanaan adaptasi iklim per tahun dan hanya menerima sekitar US$2,5 miliar, menurut Climate Policy Initiative dalam sebuah laporan yang dirilis pada September 2025.