Bisnis.com, JAKARTA – Laba bersih tahun berjalan PT Bank QNB Indonesia Tbk. (BKSW) tercatat menyusut hingga September 2025, di tengah rencana perseroan menutup sejumlah kantor cabangnya di beberapa wilayah di Indonesia.
Untuk diketahui, Bank QNB Indonesia mengumumkan akan menghentikan operasional kantor cabang di Bandung Dago, Semarang Gajah Mada, Surabaya Darmo, dan Jakarta Pluit mulai 5 Januari 2026. Operasional akan dialihkan ke beberapa kantor cabang di Jakarta, seperti Jakarta SCBD dan Jakarta Gajah Mada.
Dalam laporan keuangan yang dipublikasikan, Bank QNB Indonesia pada kuartal III/2025 membukukan laba bersih tahun berjalan senilai Rp14,46 miliar. Capaian itu menyusut 78,66% secara tahunan (year on year/YoY) dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp67,78 miliar.
Penurunan laba bersih itu disebabkan oleh pendapatan bunga bersih yang turun sebesar Rp21,90% YoY menjadi Rp273,54 miliar hingga akhir kuartal III/2025. Pada periode yang sama tahun lalu, Bank QNB Indonesia meraup pendapatan bersih senilai Rp350,23 miliar.
Pendapatan bunga bersih yang menyusut itu dipicu oleh beban bunga yang membengkak sebesar 20,64% YoY menjadi Rp243,97 miliar dari sebelumnya Rp202,24 miliar. Pada saat yang sama, pendapatan bunga turun 6,33% YoY dari Rp552,47 miliar menjadi Rp517,51 miliar.
Bank milik QNB Group asal Qatar ini mencatatkan penurunan pada beban operasional lainnya sebesar 18,08% YoY menjadi Rp221,94 miliar pada kuartal III/2025, setelah sebelumnya sebesar Rp270,93 miliar.
Salah satu komponen beban operasional nonbunga yang mengalami penurunan yaitu beban promosi yang turun 61,74% YoY menjadi Rp901,00 juta hingga September 2025. Beban lainnya dan impairment juga menyusut masing-masing sebesar 32,04% dan 19,71% YoY dibanding periode yang sama tahun lalu.
Sementara itu, beban tenaga kerja meningkat sebesar 7,07% YoY dari Rp189,23 miliar menjadi Rp202,61 miliar hingga September 2025.
Dengan demikian, bank dengan kode emiten BKSW itu membukukan laba operasional sebesar Rp51,59 miliar. Angka itu turun 34,94% YoY dari kuartal III/2024 yang sebesar Rp79,30 miliar.
Dari sisi intermediasi, bank besutan investor Qatar itu membukukan pertumbuhan kredit sebesar 17,05% menjadi Rp8,39 triliun pada kuartal III/2025. Pada periode yang sama tahun lalu, perseroan menyalurkan kredit senilai Rp7,17 triliun.
Dana pihak ketiga (DPK) yang berhasil dihimpun oleh perseroan juga mengalami pertumbuhan. Pada kuartal III/2025 DPK Bank QNB Indonesia mencapai Rp7,22 triliun naik 31,13% YoY dari sebelumnya Rp5,51 triliun.
Pertumbuhan itu ditopang oleh simpanan tabungan dan deposito. Perinciannya, simpanan tabungan tumbuh signifikan 105,93% YoY menjadi Rp614,67 miliar dari sebelumnya Rp298,48 miliar. Kemudian, simpanan deposito naik 32,62% YoY menjadi Rp5,90 triliun dari sebelumnya Rp4,44 triliun.
Sementara itu, simpanan giro turun 6,78% YoY, dari Rp763,48 miliar pada kuartal III/2024 menjadi Rp711,72 miliar pada kuartal III/2025.
Melihat indikator keuangan, rasio kewajiban penyediaan modal minimum (KPMM) turun dari 61,55% pada kuartal III/2024, menjadi 59,58% pada kuartal III/2025. Kemudian, NPL gross tercatat meningkat menjadi 3,15% dari 1,28% dan NPL net naik dari 0,19% menjadi 0,82%.
Adapun, pendapatan bunga bersih (net interest margin/NIM) menyusut dari 4,27% menjadi 3,14% hingga September 2025, sedangkan biaya operasional terhadap pendapatan operasional meningkat dari 88,36% menjadi 92,19%.