#30 tag 24jam
Menjaga rupiah tetap berdaulat di perbatasan
Di Jagoi Babang, Kabupaten Bengkayang, Kalbar, batas negara kadang terasa lebih tipis dari pada sinyal telepon.Ponsel di saku Carsan, yang akrab disapa Asep ... [2,009] url asal
Layanan ini sangat membantu masyarakat karena akses transaksi keuangan kini dapat dilakukan lebih dekat dari tempat tinggal mereka
Bengkayang (ANTARA) - Di Jagoi Babang, Kabupaten Bengkayang, Kalbar, batas negara kadang terasa lebih tipis dari pada sinyal telepon.
Ponsel di saku Carsan, yang akrab disapa Asep Dea, tiba-tiba menangkap sinyal operator Malaysia saat ia melangkah menuju SDN 08 Risau tempatnya mengajar. Itu, bukan hal aneh di kawasan perbatasan Kabupaten Bengkayang itu.
Siaran radio Malaysia terdengar lebih jernih, jaringan telepon negeri jiran kerap lebih kuat, bahkan sebagian kebutuhan sehari-hari warga berasal dari Sarawak. Tak sedikit pula warga Jagoi Babang yang hampir setiap hari melintasi perbatasan untuk berdagang di Pasar Serikin, Sarawak, yang dikenal sebagai weekend market.
Di pasar itu, hasil bumi, sayur-mayur, buah-buahan hingga kerajinan tangan dari wilayah perbatasan Indonesia dipasarkan kepada pembeli dari Malaysia, India, Brunei Darussalam, bahkan wisatawan mancanegara yang datang saat akhir pekan.
Bagi masyarakat Jagoi Babang, Malaysia bukan sekadar negara tetangga. Selama bertahun-tahun, negeri itu menjadi tempat berbelanja, menjual hasil kebun, hingga menukar mata uang. Ringgit pun beredar cukup akrab di tangan warga dan berdampingan dengan rupiah dalam sejumlah aktivitas ekonomi. Sementara itu, akses terhadap layanan perbankan Indonesia tidak selalu mudah dijangkau.
Perubahan demi perubahan yang kini terjadi di wilayah perbatasan itu disaksikan langsung oleh Asep Dea. Ia bukan sekadar guru yang mengajar di Jagoi Babang, melainkan juga saksi hidup bagaimana masyarakat perbatasan menjalani keseharian di antara dua negara, sekaligus perlahan beradaptasi dengan kemajuan layanan keuangan Indonesia.
Asep telah mengabdikan dirinya di dunia pendidikan selama bertahun-tahun. Kariernya dimulai pada 2002 di SD Wirata 3, yang berada di kawasan Sentimok, Desa Kumba, wilayah perbatasan Kabupaten Sambas dengan Kecamatan Sajingan Besar. Kemudian ia melanjutkan pengabdian di Kecamatan Seluas, Kabupaten Bengkayang sejak 2007 hingga 2020.
Setelah itu, ia mendapat penugasan di SDN 06 Sei Take Jagoi Babang pada 2020 hingga 2023 sebelum akhirnya mengajar di SDN 08 Risau Kecamatan Jagoi Babang Bengkayang sejak 2023 hingga sekarang. Sejak itu, Asep juga menetap di Seluas, sebuah kawasan yang berbatasan langsung dengan Malaysia.
Bagi warga perbatasan, nama Asep bukan hanya dikenal sebagai pendidik. Ia adalah sosok yang tumbuh bersama denyut kehidupan masyarakat di wilayah tapal batas Indonesia-Malaysia.
Perbatasan Indonesia-Malaysia bukan hanya dipisahkan oleh garis imajiner antarnegara, tetapi juga oleh tantangan akses dan jarak.
Selama hampir dua dekade, ia menyaksikan bagaimana warga harus berjuang mengatasi keterbatasan akses, termasuk untuk mendapatkan layanan keuangan.

QRIS
Ia masih mengingat masa ketika masyarakat harus menempuh perjalanan jauh hanya untuk melakukan transaksi perbankan. Kini, perlahan kondisi itu berubah. Kehadiran layanan perbankan yang semakin dekat dengan masyarakat, termasuk transaksi digital melalui QRIS dan berbagai layanan keuangan lainnya, mulai mengubah pola hidup dan menggerakkan perekonomian warga di kawasan perbatasan.
Sebagai orang yang sehari-hari hidup dan beraktivitas di Jagoi Babang, Asep Dea melihat langsung bagaimana roda ekonomi masyarakat berputar dengan segala dinamika dan tantangannya.
"Melihat perkembangan digitalisasi keuangan di Jagoi Babang itu seperti melihat dua sisi mata uang yang sangat kontras. Di satu sisi ada potensi yang luar biasa, tapi di sisi lain tantangan di lapangan juga masih ada," kata Asep Dea kepada ANTARA, Minggu.
Sebagai masyarakat yang tinggal di wilayah beranda terdepan negara yang berbatasan langsung dengan Malaysia, ia menilai transformasi digital bukan sekadar mengikuti perkembangan zaman atau gaya hidup semata.
"Digitalisasi keuangan di perbatasan ini menjadi instrumen penting untuk memperkuat kedaulatan ekonomi sekaligus pemerataan. Jadi manfaatnya bukan hanya untuk transaksi, tetapi juga membuka akses yang lebih luas bagi masyarakat," ujarnya.
Menurut Asep Dea, inklusi keuangan di kawasan perbatasan kini semakin terasa manfaatnya. Jika dahulu masyarakat harus bepergian ke Sanggau Ledo atau Kota Bengkayang untuk mengakses layanan perbankan, kini berbagai layanan keuangan mulai hadir lebih dekat melalui agen perbankan dan layanan digital.
Meski akses layanan fisik masih banyak terpusat di titik-titik strategis seperti kawasan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Jagoi Babang, Jagoi Take maupun Seluas, kehadiran agen bank di desa-desa penyangga seperti Risau dan Sentangau Jaya mulai mengikis hambatan geografis yang selama ini dihadapi masyarakat.
"Inklusi keuangan di sini bukan lagi sekadar slogan. Ini sudah menjadi kebutuhan nyata untuk mendukung perdagangan lintas batas dan aktivitas ekonomi masyarakat," katanya.
Perubahan tersebut semakin terasa sejak beroperasinya PLBN Jagoi Babang. Pedagang lokal, pelaku UMKM hingga warung-warung kecil mulai mengadopsi transaksi digital melalui QRIS.
Di sisi lain, agen perbankan seperti Agen BRILink menjadi tumpuan masyarakat untuk melakukan berbagai transaksi keuangan, mulai dari transfer, setor tunai, tarik tunai hingga pembayaran berbagai kebutuhan tanpa harus pergi jauh ke kota.
"Agen BRILink ini seperti pahlawan inklusi keuangan di desa. Warga bisa setor hasil panen atau menarik uang kiriman tanpa harus mengeluarkan ongkos perjalanan yang besar," ujar Asep Dea.
Ia menggambarkan potret transaksi masyarakat perbatasan saat ini masih bersifat hibrida, yakni perpaduan antara transaksi tunai dan digital.
Pada sektor pertanian dan perkebunan, transaksi jual beli hasil bumi seperti sawit, lada maupun hasil pertanian lainnya masih banyak dilakukan secara tunai. Sebagian petani masih merasa lebih nyaman menerima pembayaran dalam bentuk uang fisik setelah hasil panen diserahkan.
Di sisi lain, transaksi digital mulai berkembang pesat di sektor ritel, warung sembako, toko pertanian, kalangan generasi muda hingga aparatur sipil negara (ASN).
Kemudahan buat guru
Menurut Asep Dea, digitalisasi juga memberikan kemudahan bagi para guru dan ASN yang bertugas di wilayah perbatasan. Sistem penggajian, pelaporan administrasi hingga berbagai layanan publik kini semakin banyak dilakukan secara digital sehingga lebih efisien dan menghemat waktu.
Penggunaan QRIS pun semakin mudah ditemui di sejumlah warung dan toko di Jagoi Babang maupun Sanggau Ledo.
"Kalau pakai QRIS lebih praktis. Tinggal scan, masukkan PIN, transaksi selesai tanpa perlu repot memikirkan uang kembalian," katanya.
Namun di balik perkembangan tersebut, Asep Dea mengakui masih terdapat sejumlah tantangan yang harus dihadapi. Tantangan terbesar, menurut dia, adalah infrastruktur jaringan telekomunikasi yang belum sepenuhnya stabil di sejumlah wilayah perbatasan.
Di beberapa desa penyangga, kualitas sinyal seluler masih naik turun. Bahkan tidak jarang telepon genggam masyarakat justru menangkap jaringan operator dari Malaysia.
"Ini persoalan klasik tetapi sangat krusial. Keuangan digital sangat bergantung pada internet. Ketika jaringan terganggu, transaksi juga ikut terhambat," ujarnya.
Selain persoalan jaringan, tingkat literasi keuangan digital masyarakat juga masih menjadi pekerjaan rumah bersama. Sebagian warga, terutama kelompok usia lanjut, masih terbiasa menggunakan uang tunai dan belum sepenuhnya percaya terhadap transaksi digital karena khawatir terhadap risiko penipuan maupun keamanan data.
Tantangan lain yang tidak kalah menarik adalah masih aktifnya penggunaan ringgit Malaysia dalam aktivitas perdagangan tradisional masyarakat perbatasan.
Kedekatan geografis dengan Serikin, Sarawak, membuat perputaran ringgit dan rupiah berlangsung berdampingan dalam sejumlah aktivitas ekonomi masyarakat.
Situasi tersebut menghadirkan tantangan sekaligus pekerjaan rumah bagi berbagai pihak, yakni bagaimana memperkuat kehadiran layanan keuangan nasional agar semakin dekat dengan masyarakat. Sebab, menjaga rupiah tetap berdaulat di perbatasan tidak cukup hanya dengan menyediakan mata uang, tetapi juga memastikan masyarakat memiliki akses yang mudah, cepat, dan aman terhadap layanan keuangan Indonesia.
Karena itu, Asep Dea menilai penguatan layanan keuangan digital dan pembayaran lintas negara menjadi penting untuk memperkuat posisi rupiah di wilayah perbatasan.
Menurut dia, optimalisasi QRIS Cross Border antara Indonesia dan Malaysia dapat menjadi salah satu solusi agar transaksi lintas negara berlangsung lebih mudah, aman dan efisien.
Ia juga berharap penguatan menara BTS serta edukasi keuangan digital berbasis komunitas terus diperluas hingga ke pelosok desa.
"Sosialisasi tidak cukup hanya lewat pamflet. Perlu pendampingan langsung kepada kelompok tani, UMKM, ibu rumah tangga, termasuk melalui sekolah. Guru juga bisa menjadi bagian dari motor literasi digital bagi generasi muda," katanya.
Asep Dea juga menilai peran perbankan, khususnya BRI, cukup strategis dalam menggerakkan ekonomi masyarakat perbatasan.
Melalui jaringan Agen BRILink yang menjangkau desa-desa, akses permodalan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR), serta berbagai layanan digital yang terus dikembangkan, BRI dinilai membantu memperkuat aktivitas ekonomi masyarakat sekaligus menjaga penggunaan rupiah dalam transaksi sehari-hari.
"Dengan semakin aktifnya layanan perbankan di wilayah perbatasan, penggunaan rupiah semakin kuat. Ini penting agar rupiah tetap menjadi tuan rumah di negeri sendiri," ujarnya.

Perkuat inklusi dan literasi keuangan
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk melalui Kantor Cabang Pembantu (KCP) Bengkayang terus memperkuat inklusi dan literasi keuangan masyarakat hingga wilayah perdesaan dan perbatasan melalui pengembangan layanan branchless banking atau perbankan tanpa kantor.
Pimpinan BRI KCP Bengkayang Vendy Aries Martcahyo mengatakan, strategi tersebut dilakukan untuk memastikan masyarakat dapat mengakses layanan keuangan dengan mudah, cepat, dan aman meskipun berada jauh dari kantor perbankan.
"Pendekatan yang digunakan BRI tidak hanya mengandalkan kantor cabang, tetapi juga kombinasi layanan digital BRImo, AgenBRILink, serta pendekatan lapangan melalui jemput bola petugas bank," kata Vendy saat dihubungi ANTARA di Bengkayang.
Menurut dia, inovasi branchless banking menjadi solusi efektif dalam menjawab tantangan geografis Kabupaten Bengkayang yang memiliki banyak wilayah perdesaan dan kawasan perbatasan dengan jarak tempuh yang cukup jauh menuju pusat layanan perbankan.
Ia menjelaskan Agen BRILink saat ini menjadi salah satu layanan yang paling banyak dimanfaatkan masyarakat karena mampu menghadirkan berbagai layanan transaksi keuangan langsung di tingkat desa.
Melalui Agen BRILink, masyarakat dapat melakukan tarik tunai, setor tunai, transfer, pembayaran tagihan hingga berbagai transaksi keuangan lainnya tanpa harus datang ke kantor bank.
"Layanan ini sangat membantu masyarakat karena akses transaksi keuangan kini dapat dilakukan lebih dekat dari tempat tinggal mereka," ujarnya.
Selain memperluas akses layanan keuangan, BRI juga secara rutin melaksanakan edukasi literasi keuangan kepada pelajar, mahasiswa, pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), hingga masyarakat umum.
Materi yang diberikan meliputi pengelolaan keuangan yang bijak, pemanfaatan layanan digital seperti BRImo dan QRIS, keamanan transaksi digital, serta pemanfaatan produk simpanan dan kredit sesuai kebutuhan masyarakat.
Menurut Vendy, peningkatan literasi keuangan menjadi faktor penting dalam mendorong masyarakat agar mampu memanfaatkan layanan perbankan secara optimal sekaligus terhindar dari berbagai risiko kejahatan digital.
"BRI secara konsisten melakukan edukasi keuangan kepada masyarakat sekaligus memperluas akses layanan perbankan digital guna meningkatkan inklusi keuangan, khususnya di wilayah perdesaan dan perbatasan," katanya.
Ia menambahkan penggunaan aplikasi BRImo dan transaksi digital di Bengkayang terus menunjukkan perkembangan yang positif seiring meningkatnya pemahaman masyarakat terhadap layanan keuangan berbasis teknologi.
Hingga 17 Mei 2026, jumlah pengguna aktif bulanan atau Monthly Active User (MAU) BRImo di wilayah kerja BRI KCP Bengkayang tercatat mencapai 2.958 pengguna. Sementara volume transaksi finansial melalui BRImo telah melampaui Rp565 juta dengan jumlah transaksi lebih dari 300 ribu transaksi.
Menurut dia, capaian tersebut menunjukkan semakin tingginya kepercayaan masyarakat terhadap layanan perbankan digital yang menawarkan kemudahan, kecepatan, dan keamanan dalam bertransaksi.
Selain penggunaan BRImo yang terus meningkat, pemanfaatan sistem pembayaran digital melalui QRIS juga semakin meluas di kalangan masyarakat dan pelaku usaha. Hingga Mei 2026, populasi merchant QRIS binaan BRI di wilayah kerja KCP Bengkayang tercatat mencapai 398 merchant.
"Angka tersebut menunjukkan masyarakat semakin terbiasa memanfaatkan layanan digital dalam berbagai aktivitas ekonomi sehari-hari, termasuk pelaku UMKM yang kini semakin banyak menerima pembayaran non tunai," ujarnya.
BRI, lanjut dia, terus mendorong pemanfaatan BRImo dan QRIS sebagai bagian dari upaya mempercepat transformasi digital serta memperluas akses layanan keuangan formal hingga ke wilayah yang sebelumnya memiliki keterbatasan akses perbankan.
Di sisi lain, BRI juga terus memperkuat pemberdayaan UMKM melalui pendampingan usaha, pelatihan manajemen keuangan, pemasaran digital, pengembangan produk, hingga akses pembiayaan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR).
Sektor usaha yang mendapatkan pendampingan cukup beragam, mulai dari kuliner, kerajinan tangan, fesyen, pertanian olahan hingga usaha berbasis digital. BRI juga membuka akses promosi bagi pelaku usaha melalui berbagai program pemberdayaan dan kegiatan pameran untuk meningkatkan daya saing produk lokal.
Menurut Vendy, penguatan literasi keuangan dan akses layanan perbankan memiliki peran penting dalam mendukung pertumbuhan UMKM yang menjadi salah satu penggerak utama perekonomian daerah.
Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Bengkayang Esidorus menyatakan dukungannya terhadap pengembangan inovasi digital di sektor perbankan karena dinilai mampu memberikan kemudahan bagi masyarakat dalam mengakses layanan keuangan.
"Tentu kami mendukung adanya inovasi digital perbankan karena sangat membantu memberikan kemudahan kepada masyarakat pengguna jasa perbankan," katanya.
Menurut Esidorus, layanan digital seperti BRImo dan Agen BRILink telah membantu masyarakat melakukan berbagai transaksi keuangan secara lebih praktis tanpa harus datang langsung ke kantor bank.
Ia menilai kemudahan akses layanan keuangan tersebut juga berdampak positif terhadap aktivitas ekonomi masyarakat, termasuk pelaku UMKM yang kini semakin banyak memanfaatkan transaksi digital dalam kegiatan usaha mereka.
"Dengan layanan yang semakin mudah, cepat dan aman, kami berharap masyarakat semakin terbantu dalam melakukan aktivitas ekonomi maupun kebutuhan transaksi sehari-hari," katanya.
Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2026
Nyobeng jadi magnet wisata budaya perbatasan
Ratusan masyarakat Malaysia hadiri tradisi Nyobeng yang digelar masyarakat Dayak Bidayuh di Dusun Sebujit, Desa Hlu Buei, Kecamatan Siding, Kabupaten ... [623] url asal
Pontianak (ANTARA) - Ratusan masyarakat Malaysia hadiri tradisi Nyobeng yang digelar masyarakat Dayak Bidayuh di Dusun Sebujit, Desa Hlu Buei, Kecamatan Siding, Kabupaten Bengkayang di mana kegiatan tersebut menjadi magnet wisata budaya di perbatasan Kalbar.
"Tradisi Nyobeng ini terus berkembang menjadi daya tarik wisata budaya perbatasan yang mampu menarik kunjungan masyarakat lintas daerah hingga mancanegara," kata Bupati Bengkayang, Sebastianus Darwis, saat menghadiri perayaan Nyobeng 2026 yang berlangsung di Rumah Adat Baluk Sebujit, Senin.
Menurut Bupati, pemerintah Kabupaten Bengkayang menargetkan kawasan itu menjadi salah satu destinasi wisata budaya unggulan Kalimantan Barat sekaligus pusat pelestarian warisan budaya Dayak.
Menurut Darwis, tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun tersebut bukan sekadar ritual adat, tetapi juga aset budaya yang memiliki nilai strategis bagi pengembangan pariwisata dan ekonomi masyarakat di kawasan perbatasan Indonesia-Malaysia.
"Kegiatan ini harus terus dilestarikan karena merupakan identitas masyarakat Dayak Bidayuh sekaligus kekayaan budaya Kalimantan Barat yang dapat menjadi daya tarik wisata," katanya.
Tradisi Nyobeng merupakan kebudayaan yang diwariskan leluhur masyarakat Dayak Bidayuh dan hingga kini tetap dijaga sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat perbatasan.
Dalam pelaksanaannya, kebudayaan tersebut menjadi momentum mempererat persaudaraan masyarakat Dayak Bidayuh yang tersebar di Indonesia dan Malaysia, sekaligus memperkuat hubungan budaya satu rumpun yang telah terjalin selama ratusan tahun.
Bupati mengungkapkan pemerintah daerah berencana melakukan penataan kawasan secara bertahap, termasuk penyelesaian berbagai aspek pendukung agar kawasan tersebut dapat berkembang menjadi destinasi wisata budaya berskala nasional.
Menurutnya, keberadaan Rumah Adat Baluk memiliki nilai historis dan budaya yang tinggi. Bahkan replika rumah adat tersebut telah dibangun di kawasan Taman Mini Indonesia Indah sebagai representasi budaya Dayak Bidayuh Kalimantan Barat.
Darwis optimistis pembukaan akses perbatasan yang direncanakan dalam beberapa tahun mendatang akan semakin meningkatkan kunjungan wisatawan ke kawasan Siding dan Sebujit.
"Kita ingin kawasan ini menjadi tujuan wisata budaya unggulan Kalimantan Barat yang mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat tanpa meninggalkan nilai-nilai adat dan budaya yang diwariskan leluhur," katanya.
Selain pelestarian budaya, Bupati juga menekankan pentingnya penguatan ekonomi masyarakat melalui sektor pertanian, ketahanan pangan, dan pengembangan desa wisata.
Menurutnya, budaya dan pembangunan ekonomi harus berjalan beriringan agar masyarakat adat tidak hanya menjadi penjaga tradisi, tetapi juga memperoleh manfaat langsung dari berkembangnya sektor pariwisata.
Ia berharap kolaborasi antara pemerintah daerah, tokoh adat, masyarakat, dan berbagai pihak dapat terus diperkuat untuk menjadikan kawasan perbatasan Bengkayang sebagai salah satu etalase budaya Kalimantan Barat.
Di tempat yang sama, Ketua Panitia Nyobeng 2026, Gunawan, mengatakan tema kegiatan tahun ini adalah "Nyobeng sebagai Warisan Leluhur, Berakar dalam Tradisi dan Tumbuh dalam Kebersamaan".
Menurutnya, nilai utama yang diwariskan melalui tradisi tersebut adalah gotong royong, persaudaraan, penghormatan kepada leluhur, dan pelestarian budaya di tengah perkembangan zaman.
"Tujuan kegiatan ini untuk mempererat hubungan persaudaraan masyarakat Dayak Bidayuh yang berada di Indonesia maupun Malaysia serta meningkatkan kecintaan masyarakat terhadap budaya daerah sebagai bagian dari identitas bangsa," ujarnya.
Pelaksanaan Nyobeng tahun ini mendapat perhatian luas, termasuk dari masyarakat dan komunitas Dayak Bidayuh serumpun dari Malaysia.
Panitia mencatat sedikitnya 420 tamu dari berbagai wilayah hadir dalam kegiatan tersebut, termasuk rombongan dari Kuala Lumpur dan Sarawak, Malaysia. Kehadiran tamu mancanegara dinilai menjadi bukti bahwa budaya Dayak Bidayuh memiliki daya tarik yang mampu menembus batas negara.
Selain ritual adat, pengunjung juga disuguhkan berbagai atraksi budaya khas masyarakat Dayak Bidayuh, mulai dari prosesi adat, pertunjukan tradisional, hingga atraksi panjat tiang yang menjadi salah satu ikon budaya di kawasan tersebut.
Perwakilan Dewan Adat Dayak Kabupaten Bengkayang, Dewan Adat Dayak Kabupaten Bengkayang, menilai Nyobeng telah menjadi salah satu warisan budaya penting yang perlu terus dijaga dan diperkenalkan kepada generasi muda.
"Kegiatan ini merupakan milik kita bersama yang harus terus dilestarikan agar tetap hidup dan dapat dinikmati oleh generasi mendatang," ujarnya.
Pemerintah Kabupaten Bengkayang juga menaruh perhatian terhadap pengembangan kawasan Rumah Adat Baluk Sebujit sebagai pusat wisata budaya Dayak Bidayuh.
Pewarta: Rendra Oxtora
Editor: Budhi Santoso
Copyright © ANTARA 2026
Di sela mengajar, guru perbatasan menjaga anyaman bidai tetap hidup
Jemari Tuti Susanti (34) bergerak pelan menyelipkan helai demi helai rotan berwarna hitam dan cokelat. Di hadapannya, selembar bidai hampir rampung dianyam. ... [1,669] url asal
Dulu hampir setiap rumah membuat bidai. Sekarang sudah semakin sedikit yang masih bertahan
Bengkayang (ANTARA) - Jemari Tuti Susanti (34) bergerak pelan menyelipkan helai demi helai rotan berwarna hitam dan cokelat. Di hadapannya, selembar bidai hampir rampung dianyam. Motif khas Dayak mulai membentuk pola yang rapi dan indah.
Di sudut rumahnya di Dusun Preges, Desa Seluas, Kecamatan Seluas, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat, tampak tumpukan rotan yang baru didatangkan dari Kalimantan Tengah. Bahan baku itu menjadi bagian penting dari aktivitas yang telah dikenalnya sejak kecil, jauh sebelum dirinya menjadi seorang guru.
Kini kesehariannya terbagi dalam dua peran. Pada pagi hingga siang hari, ia mengajar di SD Negeri 15 Malayang, Dusun Rahadja, Desa Mayak, Kecamatan Seluas. Untuk mencapai sekolah, ia harus menempuh perjalanan sekitar satu jam menggunakan sepeda motor.
Ketika aktivitas belajar mengajar usai, Tuti kembali menekuni pekerjaan yang diwariskan turun-temurun oleh keluarganya, yakni membuat bidai, anyaman rotan khas Dayak yang menjadi salah satu identitas budaya masyarakat di perbatasan dengan Malaysia itu.
"Saya belajar membuat bidai sejak kelas enam SD. Setiap pulang sekolah kami membantu orang tua menganyam. Dari situlah lama-lama bisa membuat sendiri," kata ibu tiga anak itu kepada ANTARA, akhir minggu pertama Juni.
Keterampilan itu diwarisinya dari kedua orang tua yang sejak lama menekuni kerajinan bidai. Sembari melanjutkan anyaman, Tuti mengenang masa kecilnya yang lebih sering dihabiskan untuk memperhatikan orang tuanya bekerja dibanding bermain bersama teman-teman seusianya.
Dari kebiasaan itulah ia mengenal berbagai motif, cara memilih rotan berkualitas, hingga teknik menyusun anyaman yang membutuhkan ketelitian dan kesabaran.
Menurut Tuti, tidak semua orang mampu membuat bidai. Selain membutuhkan ketekunan, setiap motif memiliki tingkat kesulitan tersendiri yang harus dikuasai.
"Dulu hampir setiap rumah membuat bidai. Sekarang sudah semakin sedikit yang masih bertahan," kata dia.
Pada masa lalu, hasil anyaman keluarganya lebih banyak dipasarkan ke Pasar Serikin, Malaysia, yang berada tidak jauh dari kawasan perbatasan Indonesia-Malaysia. Saat itu, peminat bidai justru lebih banyak datang dari negeri jiran dibandingkan dari dalam negeri.
Dari rumahnya, perjalanan menuju Pasar Serikin hanya sekitar satu jam. Waktu tempuh itu lebih singkat dibandingkan menuju Kota Bengkayang yang membutuhkan sekitar dua jam perjalanan. Sementara untuk menuju Pontianak, ibu kota Kalimantan Barat, diperlukan waktu lebih dari lima jam perjalanan darat.
Setiap akhir pekan, hasil anyaman orang tuanya dibawa ke Serikin untuk dijual kepada para pembeli yang tertarik dengan keunikan dan kualitas bidai Dayak.
"Dulu peminatnya lebih banyak dari Malaysia. Hari Sabtu dan Minggu biasanya hasil bidai dibawa ke sana untuk dijual," kata Tuti.
Sempat terhenti
Aktivitas menganyam sempat terhenti ketika Tuti melanjutkan pendidikan tinggi di Salatiga, Jawa Tengah, pada 2012 hingga 2016. Selama kuliah, ia tidak lagi membuat bidai.
Setelah menyelesaikan pendidikan dan kembali ke kampung halaman, kerinduan terhadap pekerjaan yang telah dikenalnya sejak kecil kembali muncul. Ia mulai membeli bahan baku dan memproduksi bidai secara mandiri.
Semangat itu semakin kuat setelah menikah pada 2018. Bersama sang suami yang juga seorang guru dan memiliki keterampilan menganyam, Tuti kembali menghidupkan usaha keluarga.

Kini kedua orang tuanya tidak lagi menganyam. Sang ibu telah meninggal dunia, sedangkan ayahnya yang telah lanjut usia juga mengalami kondisi kesehatan yang menurun.
Bagi pasangan guru tersebut, membuat bidai menjadi pekerjaan sampingan yang memberi nilai tambah bagi keluarga. Selain menjaga tradisi, hasil penjualan bidai juga membantu memenuhi berbagai kebutuhan rumah tangga.
"Kami berpikir daripada pulang sekolah tidak ada aktivitas lain, lebih baik membuat bidai. Ada tambahan penghasilan juga untuk keluarga," kata Tuti.
Penghasilan dari bidai menjadi penopang di sela menunggu gaji bulanan sebagai guru. Hasil penjualan biasanya digunakan untuk membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari, mulai dari biaya bahan bakar kendaraan, membeli sayuran, hingga kebutuhan rumah tangga lainnya.
"Kalau menunggu gaji sebulan sekali kan lumayan lama. Jadi hasil bidai bisa membantu kebutuhan sehari-hari," ujarnya.
Seiring perkembangan teknologi, pemasaran bidai kini tidak lagi bergantung pada pasar perbatasan. Tuti memanfaatkan media sosial seperti Facebook, WhatsApp, dan Messenger untuk menawarkan hasil anyamannya.
Cara itu terbukti efektif menjangkau pembeli dari berbagai daerah. Pesanan datang dari Bengkayang, Singkawang, Pontianak, Ngabang hingga Sekadau. Sebagian pembeli menggunakan bidai untuk kebutuhan pribadi, sementara sebagian lainnya membeli untuk dijual kembali.
"Banyak yang bertanya motif, ukuran dan harga. Ada juga yang meminta dibuatkan motif tertentu sesuai pesanan mereka," katanya.
Tingginya permintaan bahkan sering membuat mereka kewalahan memenuhi pesanan. Dalam satu bulan, Tuti dan suaminya rata-rata hanya mampu menghasilkan enam hingga delapan lembar bidai berukuran 4 x 4 meter karena proses pembuatannya cukup panjang.
Rotan harus dipilih dan dibersihkan terlebih dahulu. Sebagiannya kemudian diolah menjadi warna hitam alami melalui proses perebusan menggunakan daun kayu tertentu selama dua hingga tiga hari. Setelah itu masih ada tahapan pengeringan, penyortiran, hingga penganyaman yang membutuhkan ketelitian tinggi.
Saat ini, satu lembar bidai bermotif dijual sekitar Rp1,4 juta. Harga tersebut bervariasi bergantung pada ukuran dan tingkat kerumitan motif.
Harga jual juga dipengaruhi kenaikan biaya bahan baku. Rotan yang digunakan didatangkan dari Kalimantan Tengah dengan harga sekitar Rp50 ribu per kilogram. Untuk membuat satu lembar bidai dibutuhkan sekitar delapan hingga sepuluh kilogram rotan.
Sementara itu, tali tumbaran yang digunakan sebagai pengikat anyaman kini juga semakin mahal dan sulit diperoleh.
BRILink bantu kelancaran usaha
Untuk membeli bahan baku, Tuti biasanya memanfaatkan layanan BRILink yang tersedia di wilayahnya. Melalui layanan tersebut, ia dapat mengirim uang kepada pemasok rotan dan tali dengan lebih mudah tanpa harus menempuh perjalanan jauh.
Sebagai perajin yang tinggal di kawasan perbatasan, kemudahan akses layanan keuangan menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga kelancaran produksi. Dengan adanya BRILink, kebutuhan transaksi usaha dapat dilakukan lebih cepat tanpa harus menyisihkan waktu dan biaya tambahan untuk bepergian ke pusat layanan perbankan yang lebih jauh.
Kemudahan transaksi itu sangat membantu keberlangsungan usaha kecil yang dijalankannya bersama suami.
"Layanan ini tentu sangat membantu pelaku usaha kecil seperti kami untuk melakukan transaksi keuangan dengan mudah sekaligus menghemat waktu dan biaya perjalanan," ujarnya.
Meski permintaan terus meningkat, jumlah perajin bidai di kampungnya justru semakin berkurang. Sebagian besar warga kini memilih bekerja di sektor perkebunan kelapa sawit karena dianggap lebih praktis dan menjanjikan pendapatan yang lebih pasti.
Akibatnya, hanya tersisa sekitar tiga hingga empat rumah tangga yang masih aktif membuat bidai.
Padahal, menurut Tuti, minat masyarakat terhadap bidai terus meningkat karena produk tersebut dikenal kuat, awet, mudah dibersihkan, dan mampu bertahan hingga puluhan tahun.
Kini, setelah memiliki seorang bayi, Tuti tidak lagi seaktif dulu dalam membuat bidai. Sebagian besar waktunya digunakan untuk mengurus anak. Meski demikian, ia masih sesekali membantu suaminya yang kini lebih banyak melanjutkan proses produksi.
"Bikin bidai sekarang tidak sesering dulu karena harus mengurus bayi. Tapi kalau ada waktu saya tetap membantu suami," katanya.
Di tengah kesibukannya sebagai ibu, guru, sekaligus perajin, Tuti menyimpan harapan sederhana. Ia ingin keterampilan membuat bidai yang diwariskan orang tuanya tidak berhenti pada generasinya.
Suatu saat nanti, ia berharap anak-anaknya juga mengenal dan mencintai kerajinan khas daerahnya sendiri.
"Saya ingin keterampilan ini tetap ada. Mudah-mudahan nanti bisa diwariskan lagi kepada anak," ujarnya.
Bagi Tuti, setiap helai rotan yang dianyam bukan sekadar kerajinan untuk dijual. Di dalamnya tersimpan cerita tentang keluarga, ketekunan, identitas budaya, dan perjuangan masyarakat perbatasan menjaga warisan leluhur agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Nilai guna tinggi
Salah seorang pelanggan setia kerajinan bidai Tuti Susanti, Suandi, menilai anyaman tradisional tersebut masih memiliki nilai guna yang tinggi di tengah maraknya produk modern yang beredar di pasaran.
Menurut dia, bidai tidak hanya berfungsi sebagai alas atau tikar untuk menerima tamu, tetapi juga menjadi bagian dari berbagai aktivitas masyarakat sehari-hari.
"Saya senang membeli bidai karena bisa digunakan untuk banyak hal, terutama sebagai tikar untuk tamu, kegiatan kumpul keluarga, dan berbagai acara lainnya," kata Suandi, yang merupakan Kepala Sekolah SDN 11 Saparan Jagoi Babang.

Menurut dia, hingga kini bidai masih dimanfaatkan masyarakat untuk berbagai kebutuhan rumah tangga maupun aktivitas pertanian. Selain digunakan sebagai alas berkumpul, bidai juga kerap dipakai untuk menjemur padi dan lada atau sahang yang menjadi salah satu komoditas andalan masyarakat Kalimantan Barat.
Suandi menilai keberadaan bidai sebagai warisan budaya leluhur harus terus dijaga agar tidak hilang ditelan zaman. Menurutnya, kemampuan menganyam bidai seperti yang dimiliki Tuti dan suaminya tidak dapat dipelajari secara instan karena membutuhkan keterampilan, ketelitian, serta pengalaman yang diwariskan secara turun-temurun.
"Banyak sekali manfaat bidai bagi masyarakat. Karena itu, warisan nenek moyang ini harus tetap dilestarikan. Menganyam bidai tidak mudah dan perlu keterampilan khusus yang harus terus diwariskan kepada generasi muda," ujarnya.
Untuk mendukung keberlanjutan usaha para perajin, ia berharap pemerintah dapat memberikan perhatian lebih melalui bantuan permodalan, program usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), maupun akses pinjaman dengan bunga ringan. Selain itu, diperlukan kerja sama berbagai pihak untuk memperluas pemasaran hingga tingkat nasional dan internasional.
Menurut dia, promosi yang lebih luas akan membantu meningkatkan permintaan produk bidai sekaligus mendorong masyarakat untuk tetap mempertahankan tradisi menganyam.
Suandi juga menyoroti tantangan yang saat ini dihadapi para perajin, yakni semakin terbatasnya ketersediaan bahan baku. Untuk itu, ia mendorong adanya upaya pelestarian lingkungan melalui penanaman kembali tanaman yang menjadi bahan utama pembuatan bidai.
"Harapan saya para perajin tetap berkarya dan jangan putus asa meskipun harus bersaing dengan berbagai jenis tikar modern. Untuk bahan baku, selain mencari pasokan dari daerah lain, masyarakat juga perlu menanam kembali pohon-pohon yang menjadi bahan utama pembuatan bidai. Program satu orang satu pohon perlu digalakkan lagi," katanya.
Sebagai pelanggan yang telah membeli bidai sejak 2017, Suandi mengaku terus memilih produk anyaman lokal karena kualitasnya yang baik serta memiliki motif khas yang tidak ditemukan pada produk pabrikan.
Ia mengatakan sejumlah kerabat dan kenalannya bahkan kerap meminta bantuan untuk membelikan bidai dari perajin yang sama karena tertarik dengan corak dan keunikan motif yang dihasilkan.
"Saya sudah membeli bidai sejak tahun 2017. Banyak keluarga dan kerabat yang juga meminta dibelikan. Selain anyamannya bagus, motifnya berbeda dan unik. Pembeli juga bisa memesan sesuai ukuran yang diinginkan. Ada yang memesan ukuran empat kali empat meter agar sesuai dengan ruang tamu mereka," ujar Suandi.
Menurut Suandi, fleksibilitas ukuran, kualitas anyaman, serta nilai budaya yang melekat menjadikan bidai tidak sekadar produk kerajinan, tetapi juga simbol identitas masyarakat yang patut dijaga keberlangsungannya dari generasi ke generasi.
Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2026
Panen raya jagung di Bengkayang perkuat ketahanan pangan keluarga
Pemerintah Kabupaten Bengkayang bersama Tim Penggerak PKK terus memperkuat ketahanan pangan keluarga melalui pemanfaatan lahan pertanian dan pekarangan yang ... [461] url asal
PKK turut berkontribusi dalam membangun kemandirian pangan keluarga
Bengkayang (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Bengkayang bersama Tim Penggerak PKK terus memperkuat ketahanan pangan keluarga melalui pemanfaatan lahan pertanian dan pekarangan yang ditandai dengan panen raya jagung hasil sinergi kelompok tani dan Program Kerja Pokja III PKK.
Bupati Bengkayang Sebastianus Darwis mengatakan, panen raya tersebut menjadi bukti bahwa kolaborasi antara pemerintah daerah, kelompok tani, kader PKK dan masyarakat mampu mendukung kemandirian pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan keluarga.
“Panen raya ini bukan sekedar simbol keberhasilan produksi pertanian, tetapi juga bukti nyata bahwa kolaborasi antara pemerintah, masyarakat dan organisasi kemasyarakatan mampu memberikan dampak positif bagi kesejahteraan masyarakat,” ujarnya saat kegiatan Panen Raya Jagung yang disinergikan dengan Program Kerja Pokja III PKK di Bengkayang, Jumat.
Menurut dia, jagung merupakan salah satu strategi komoditas yang memiliki nilai ekonomi tinggi serta berperan penting dalam mendukung ketahanan pangan daerah.
Oleh karena itu, peningkatan produksi jagung perlu terus didorong melalui optimalisasi lahan, penerapan teknologi pertanian yang tepat serta penguatan kapasitas petani agar hasil produksi semakin meningkat.
Bupati menilai keterlibatan PKK melalui Pokja III memiliki peran penting dalam memperkuat ketahanan pangan keluarga, terutama melalui pemanfaatan pekarangan rumah dan pengembangan usaha produktif berbasis rumah tangga.
“PKK turut berkontribusi dalam membangun kemandirian pangan keluarga sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat melalui berbagai program yang dijalankan,” ujarnya.
Ia berharap kegiatan tersebut dapat menjadi inspirasi bagi desa-desa lain untuk mengembangkan pertanian berbasis keluarga dan masyarakat sehingga mampu mengurangi ketergantungan terhadap pasokan pangan dari luar daerah.
Bupati Bengkayang menegaskan pemerintah daerah akan terus mendukung sektor pertanian melalui penyediaan sarana dan prasarana, pendampingan teknis, akses permodalan hingga pengembangan hilirisasi produk pertanian.
Langkah tersebut diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah hasil pertanian sekaligus memperkuat posisi petani sebagai pelaku utama pembangunan ekonomi daerah.
Sementara itu, Wakil Ketua I Tim Penggerak PKK (TP PKK) Provinsi Kalimantan Barat Donata Dirasig Krisantus Kurniawan mengatakan, panen raya jagung menjadi bukti bahwa gerakan PKK tidak hanya sebatas kegiatan administratif, tetapi mampu menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat.
Menurut dia, ketahanan pangan merupakan fondasi penting pembangunan keluarga yang harus dimulai dari lingkungan terkecil, yakni rumah tangga.
"Melalui program pemanfaatan lahan pekarangan dan pengembangan pangan lokal, kata dia, keluarga dapat memenuhi sebagian kebutuhan pangannya secara mandiri sekaligus meningkatkan kualitas gizi keluarga," ujarnya.
Ia menilai komoditas jagung memiliki manfaat yang tidak hanya berdampak pada perekonomian masyarakat, tetapi juga mendukung upaya penyediaan gizi dan pencegahan stunting.
“Jagung memiliki kandungan karbohidrat, serat dan vitamin yang baik untuk mendukung mencukupi gizi keluarga, terutama bagi anak-anak,” katanya.
Selain mendukung ketahanan pangan, dia juga mendorong masyarakat untuk mengembangkan produk makanan berbahan dasar jagung agar memiliki nilai tambah ekonomi yang lebih tinggi.
Pengembangan produk turunan seperti tepung jagung, makanan ringan dan berbagai olahan lainnya diharapkan dapat membuka peluang usaha baru bagi kelompok wanita tani dan pelaku usaha mikro di pedesaan.
Pewarta: Narwati
Editor: Budhi Santoso
Copyright © ANTARA 2026
Pendidikan Dinilai Kunci Pelestarian Budaya, Yulius Aho Salurkan Beasiswa
Ketua DPW Partai Perindo Kalbar Yulius Aho memberikan beasiswa pendidikan kepada pemenang juara pertama ajang pemilihan Bujang Dara di Kabupaten Bengkayang. Pelestarian... | Halaman Lengkap [405] url asal
#partai-perindo #bengkayang #pelestarian-budaya #pendidikan #beasiswa
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 02/06/26 20:52
v/238057/
BENGKAYANG - Pelestarian budaya lokal menghadapi tantangan regenerasi di tengah perubahan sosial dan perkembangan zaman. Karena itu, dukungan terhadap pendidikan generasi muda dinilai menjadi langkah penting untuk menjaga keberlanjutan adat sekaligus menyiapkan sumber daya manusia yang mampu berkontribusi bagi pembangunan daerah dan penguatan ekonomi masyarakat.Isu tersebut menjadi salah satu perhatian dalam penutupan event budaya tahunan Barape’ Sawa’ 2026 di Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat (Kalbar).
Dukung Regenerasi Budaya Dayak
Pada kesempatan tersebut, Ketua DPW Partai Perindo Kalimantan Barat Yulius Aho memberikan beasiswa pendidikan kepada pemenang juara pertama ajang pemilihan Bujang Dara. Menurut dia, penghargaan tersebut merupakan bentuk dukungan terhadap generasi muda yang berperan aktif dalam menjaga adat, budaya dan tradisi daerah.
“Kebetulan saya juga asli Dayak Kalbar. Dalam acara Barape’ Sawa’ tahun ini, saya dapat menyaksikan langsung adat dari sub-suku Dayak Bakatik, khususnya di Kabupaten Bengkayang. Kami melihat ajang Bujang Dara pada kegiatan ini dalam mengembangkan adat, budaya, serta tradisi sub-suku Dayak Bakatik sudah cukup baik. Sudah sepantasnya kami memberikan apresiasi berupa beasiswa,” ujar Yulius Aho dalam pernyataan tertulisnya, Selasa (2/6/26).
Dia menegaskan program tersebut tidak berhenti pada satu momentum, melainkan akan diberikan secara bertahap sebagai bentuk komitmen mendukung generasi muda yang berkontribusi dalam pelestarian budaya.
“Beasiswa ini secara bertahap kami berikan, dimulai dari pemenang yang meraih juara satu ajang Bujang Dara,” katanya.
Menurut Yulius, pelestarian budaya dan peningkatan kualitas pendidikan harus berjalan beriringan. Generasi muda yang memiliki pemahaman terhadap budaya daerah sekaligus akses pendidikan yang baik dinilai akan menjadi modal penting dalam memperkuat pembangunan daerah dan ekonomi kerakyatan berbasis potensi lokal.
Beasiswa Diharapkan Perkuat Regenerasi Budaya
Ketua Panitia Barape’ Sawa’ 2026, Rudi, mengapresiasi dukungan yang diberikan terhadap kegiatan budaya tersebut. Dia menyebut pemenang ajang Bujang Dara tahun ini memperoleh kesempatan melanjutkan pendidikan melalui program beasiswa yang disiapkan sebagai bentuk dukungan terhadap pengembangan generasi muda.
Apresiasi serupa disampaikan Sekretaris Dewan Adat Dayak (DAD) Kabupaten Bengkayang, Are Adji. Dia menilai program beasiswa dapat mendorong minat generasi muda untuk lebih aktif terlibat dalam kegiatan seni dan budaya sekaligus memperkuat regenerasi pelestari adat di daerah.
“Hal ini harus kita dukung supaya ke depannya tidak hanya pada ajang pemilihan Bujang Dara, tetapi kegiatan yang lain pun akan mendapatkan beasiswa. Dengan begitu, motivasi generasi muda untuk terus mengembangkan diri di bidang kebudayaan ataupun seni budaya akan semakin besar,” ujarnya.
Melalui dukungan pendidikan dan pelestarian budaya, generasi muda diharapkan tidak hanya mampu menjaga nilai-nilai adat yang diwariskan leluhur, tetapi juga memiliki kapasitas untuk mengembangkan potensi daerah.
Anyaman Dayak yang Mendunia: KUR BRI Dongkrak Ekonomi Kampung Kindau
Kampung Kindau di Desa Sekida, Kalimantan Barat, kini berkembang menjadi pusat ekonomi kreatif berkat dukungan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari BRI. [600] url asal
#bri #kur-bri #ikm-ton-sowa #fitri-nurjanah #kur-bri #malaysia #pasar-serikin #jagoi-babang #kalimantan-barat #sarawak #desa-wisata-jagoi #brimo #qris #kampung-kindau #bri-kcp-bengkayang #bank-rakyat
(CNN Indonesia - Ekonomi) 01/12/25 14:15
v/56528/
Di perbatasan Indonesia-Malaysia, Kampung Kindau di Desa Sekida, Jagoi Babang, Bengkayang, Kalimantan Barat, membuktikan bahwa akses pembiayaan yang tepat dapat mengubah sebuah komunitas. Wilayah yang dikenal dengan tradisi anyaman rotan dan bambu khas Dayak Bidayuh ini kini berkembang menjadi pusat ekonomi kreatif berkat dukungan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari Bank Rakyat Indonesia (BRI).
Sejak ditetapkan sebagai Kampung Kreatif pada 2017, warga Kindau terus menjaga tradisi menganyam yang diwariskan turun-temurun. Namun geliat ekonomi baru benar-benar terasa ketika para perajin mendapatkan akses permodalan yang lebih layak dan pembinaan usaha melalui program KUR BRI.
Transformasi ekonomi Kindau tak lepas dari cerita Fitri Nurjanah, salah satu penggerak IKM Ton Sowa. Fitri memulai usahanya dalam skala rumahan pada 2019, tepat ketika pandemi membuat banyak ibu rumah tangga kehilangan pendapatan. Ia kemudian mengajak para ibu untuk menghidupkan kembali tradisi menganyam agar tetap bisa mendapatkan pemasukan dari rumah.
Fitri mengaku, tantangan terbesarnya adalah modal. Produksi berjalan, tetapi terbatas. Pemasaran juga mulai berkembang lewat media sosial, tetapi jumlah pesanan sering tak dapat dipenuhi karena kurangnya bahan baku dan alat produksi.
Titik balik terjadi ketika pada 2021 Fitri memperoleh pembiayaan KUR BRI sebesar Rp50 juta. Dengan tambahan modal tersebut, omzet usaha meningkat sampai 50 persen, kapasitas produksi bertambah, dan lapangan kerja tercipta bagi 10 ibu rumah tangga yang kini menganyam setiap hari. Secara keseluruhan, kelompok IKM Ton Sowa mampu menghasilkan hingga 2 ribu produk per tahun.
"BRI sangat membantu. Tidak ada kendala berarti, semuanya sesuai prosedur," ujar Fitri.
Selain modal, BRI juga membantu pemasaran dengan membawa produk-produk Kindau ke berbagai pameran dan menyiapkan QRIS untuk memudahkan transaksi. Berkat dukungan tersebut, produk Kindau banyak diborong pembeli Malaysia setiap akhir pekan dan dikirim ke Pasar Serikin, Sarawak, melalui sistem purchase order.
BRI Jemput Bola ke Perbatasan: Akses KUR untuk Semua
Kampung Kindau bukan satu-satunya penerima manfaat. Melalui pendekatan berkonsep jemput bola, BRI KCP Bengkayang telah menyalurkan KUR kepada 127 pelaku usaha perbatasan dengan total pembiayaan Rp35,8 miliar hingga November 2025. Penyaluran tersebut diperkuat jaringan kantor unit BRI di berbagai kecamatan serta dukungan agen BRILink yang memudahkan transaksi harian masyarakat.
Pemimpin BRI KCP Bengkayang, Vendy Aries Martcahyo, menuturkan bahwa wilayah perbatasan memiliki tantangan tersendiri: banyak pelaku UMKM belum memiliki legalitas seperti NIB atau SKU, sebagian memiliki riwayat kredit bermasalah, dan ada pula usaha yang belum layak dibiayai. Namun pendekatan lapangan menjadi kunci penyelesaian.
"Melalui kunjungan langsung, kami bisa memastikan usaha benar-benar berjalan, sekaligus membantu menyiapkan administrasi yang dibutuhkan," kata Vendy.
Dengan cara ini, BRI bukan hanya menyalurkan modal, tetapi juga melakukan pembinaan, monitoring, dan edukasi keuangan. Sektor usaha yang dibiayai pun beragam, mulai dari perkebunan, peternakan, saprotan, kios sembako, hingga pengolahan hasil kebun.
BRI juga menyiapkan penguatan jangka panjang melalui KUR berbasis klaster komoditas, literasi digital melalui aplikasi BRImo, pendampingan pemasaran di e-commerce, hingga fasilitasi keikutsertaan UMKM dalam berbagai expo.
Dampak KUR BRI terasa hingga ekosistem ekonomi kreatif dan wisata. Kampung Kindau kini bekerja sama dengan Desa Wisata Jagoi, di mana wisatawan diarahkan membeli oleh-oleh ke Kindau.
Produk unggulan seperti bidai, yakni tikar rotan bermotif enggang, kelarai, dan bunga rimbang, menjadi favorit pasar lokal maupun internasional dengan harga Rp450 ribu hingga lebih dari Rp1 juta.
Kini hampir seluruh rumah di Kindau berubah menjadi studio kerajinan. Siang ke ladang, malam hari warga menganyam. Pendapatan perajin meningkat, dan Fitri sendiri memperoleh Rp5-10 juta per bulan. Akses bahan baku rotan juga tetap terjaga berkat pemasok lokal.
Sinergi modal, pemasaran, dan pendampingan menjadikan Kampung Kindau salah satu contoh sukses bagaimana pembiayaan mikro dapat mendorong masyarakat perbatasan menjadi mandiri dan sejahtera. Melalui KUR, pendampingan, dan layanan perbankan yang menjangkau kampung terjauh, BRI memastikan tidak ada pelaku usaha tertinggal.
API Award mendorongpertumbuhan ekonomi daerah dan nasional
Asisten Utusan Khusus Presiden Bidang UMKM, Ekonomi Kreatif, dan Digital Ery Punta Hendraswara menyatakan bahwa Anugerah Pesona Indonesia (API) Award telah ... [388] url asal
API Award terbukti menjadi ruang percepatan ekonomi daerah.
Bengkayang (ANTARA) - Asisten Utusan Khusus Presiden Bidang UMKM, Ekonomi Kreatif, dan Digital Ery Punta Hendraswara menyatakan bahwa Anugerah Pesona Indonesia (API) Award telah menjadi salah satu katalis paling efektif dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah dan nasional.
Ajang yang telah berlangsung hampir satu dekade itu, dinilai memperkuat ekosistem pariwisata sekaligus menggerakkan sektor ekonomi kreatif dan UMKM di seluruh Indonesia.
Ery mengatakan, di Bengkayang, Kalimantan Barat, Kamis, penyelenggaraan API bukan sekadar kompetisi destinasi wisata, tetapi sarana percepatan pembangunan ekonomi berbasis kreativitas daerah.
Ia menyebut bahwa pertumbuhan pariwisata melalui promosi API secara langsung meningkatkan pendapatan masyarakat dan memperluas aktivitas ekonomi di berbagai wilayah.
“API Award terbukti menjadi ruang percepatan ekonomi daerah. Ketika destinasi wisata dikenal dan dikunjungi, UMKM bergerak, jasa transportasi hidup, hunian terisi, dan masyarakat merasakan manfaatnya secara langsung,” ujarnya pula.
Dia menyoroti bahwa hingga 70 persen pelaku ekonomi kreatif di Indonesia adalah UMKM, sehingga setiap peningkatan kunjungan wisata akan memberikan efek berganda (multiplier effect) yang kuat terhadap perekonomian. Mulai dari pelaku kuliner, kerajinan, fesyen, hingga seniman lokal, semuanya mendapatkan dampak dari meningkatnya aktivitas pariwisata.
Ery juga menyampaikan bahwa kontribusi ekonomi kreatif terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Nasional pada 2024 telah melampaui Rp1.500 triliun, menjadikannya salah satu pilar utama ekonomi Indonesia. Penguatan sektor ini disebut berjalan paralel dengan peningkatan kualitas destinasi wisata dan keterlibatan daerah dalam ajang seperti API Award.
Berdasarkan data penyelenggara, API Award telah mendorong partisipasi lebih dari 1.500 nominasi dari 38 provinsi, dan melibatkan lebih dari 5,2 juta suara masyarakat. Dampaknya tercermin dari meningkatnya wisatawan di daerah pemenang dan bertambahnya Pendapatan Asli Daerah (PAD) sektor pariwisata pada tahun-tahun berikutnya.
“Banyak daerah mengalami pertumbuhan ekonomi signifikan setelah menjadi pemenang API Award. Ini menunjukkan bahwa promosi yang konsisten dan kolaboratif mampu menggerakkan roda ekonomi dari tingkat desa hingga nasional,” katanya pula.
Ia menambahkan bahwa pemerintah pusat di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto menempatkan pariwisata dan ekonomi kreatif sebagai sektor strategis yang berperan besar dalam penciptaan lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi inklusif. Tercatat, lebih dari 97 persen lapangan kerja nasional didukung oleh UMKM dan industri kreatif yang sangat terkait dengan aktivitas pariwisata.
Ery berharap API Award terus berkembang menjadi platform pengungkit ekonomi yang dapat menginspirasi daerah untuk memperkuat keunggulan lokal, memperluas inovasi, dan mempromosikan destinasi dengan pendekatan kreatif yang berkelanjutan.
Pewarta: Narwati
Editor: Budisantoso Budiman
Copyright © ANTARA 2025
Pemkab Bengkayang gelar pameran produk unggulan jelang API Award 2025
Pemerintah Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat, menggelar pameran produk unggulan daerah mulai 16 November 2025 menjelang malam puncak Anugerah Pesona ... [307] url asal
#api-award #2025 #bengkayang #anugerah-pesona-indonesia #pariwisata #kemenpar
Produk-produk ini mencerminkan kerja keras dan kualitas ekonomi kreatif daerah
Bengkayang, Kalbar (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat, menggelar pameran produk unggulan daerah mulai 16 November 2025 menjelang malam puncak Anugerah Pesona Indonesia Award 2025 yang ditetapkan berlangsung di daerah itu.
Malam puncak Anugerah Pesona Indonesia (API) Award 2025 akan berlangsung pada 18 November 2025 di Aula Rangkaya Kantor Bupati Bengkayang.
Bupati Bengkayang Sebastianus Darwis di Bengkayang, Minggu, menyebutkan pameran ini menjadi strategi untuk memperkenalkan kekayaan alam, budaya dan objek wisata Bengkayang.
Penunjukan Kabupaten Bengkayang sebagai tuan rumah API Awards 2025 dinilai sebagai keunggulan sekaligus peluang memperkuat citra Bengkayang sebagai destinasi wisata yang kompetitif.
Ia menjelaskan bahwa pameran produk unggulan berfungsi sebagai etalase kreativitas masyarakat, khususnya pelaku UMKM dan IKM.
“Produk-produk ini mencerminkan kerja keras dan kualitas ekonomi kreatif daerah,” ujar Bupati di sela kunjungan ke sejumlah stan di pameran itu.
Bupati menegaskan bahwa penyelenggaraan API Awards 2025 harus memberikan dampak ekonomi yang lebih luas, tidak hanya bagi sektor pariwisata tetapi juga bagi pelaku usaha lokal.
Ia berharap tamu dari berbagai daerah dapat membawa pulang pengalaman positif serta produk unggulan Bengkayang sebagai bentuk promosi berkelanjutan.
Pemerintah Kabupaten Bengkayang, lanjut Darwis, berkomitmen memberikan pendampingan dan fasilitasi bagi UMKM agar terus berkembang.
“Upaya peningkatan kualitas produk, perluasan pasar, hingga inovasi digitalisasi akan diperkuat agar produk lokal mampu bersaing di tingkat nasional bahkan internasional,” ujarnya.
Bupati juga berpesan kepada seluruh pelaku UMKM untuk memanfaatkan momen pameran sebagai sarana promosi, perluasan jejaring bisnis dan inspirasi berkarya.
Ia mengajak seluruh pihak yang melakukan kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha dan masyarakat demi membangun citra positif Bengkayang.
Pameran diikuti 10 peserta, terdiri dari Kabupaten Klaten, Kabupaten Buru, Kabupaten Sintang, serta sejumlah OPD dan pelaku UMKM Bengkayang seperti Dekranasda, Disporapar, Disperindag, Dinas Koperasi UKM dan Transmigrasi, Koperasi UMKM Bumi Sebalo, Dapur Bumi Emas dan Bengkel Taraz.
Pewarta: Narwati
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2025
Pemkab Bengkayang Pelajari Penyusunan Kajian Lingkungan Pembangunan PLTN
Pemkab Bengkayang mengkaji kelayakan lingkungan PLTN dengan Bapeten dan UGM, memastikan keamanan dan keberlanjutan sebelum pembangunan di Pantai Gosong. [371] url asal
#bengkayang-pltn #kajian-lingkungan-pltn #pembangunan-pltn-bengkayang #konsultasi-pltn-bengkayang #pltn-kalimantan-barat #energi-nuklir-bengkayang #kelayakan-lingkungan-pltn #pltn-emisi-nol #pltn-energ
(Bisnis.Com - Terbaru) 11/11/25 17:14
v/35406/
Bisnis.com, JAKARTA – Pemerintah Kabupaten Bengkayang membuka diri terhadap kajian kelayakan lingkungan dan sosial rencana pengembangan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) di wilayahnya.
Hal ini diwujudkan dengan konsultasi penyusunan kajian lingkungan hidup strategis (KLHS) untuk rencana pembangunan PLN antara Pemkab Bengkayang bersama Badan Pengawas Tenaga Nuklir dan tim ahli dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Senin (10/11/2025).
Wakil Bupati Bengkayang, Syamsul Rizal mengatakan kajian ini menjadi bagian dari tahapan awal dalam menilai kelayakan lingkungan dan sosial sebelum penetapan kebijakan pembangunan PLTN.
Menurutnya, pelaksanaan kajian lingkungan ini merupakan langkah penting untuk memastikan setiap rencana pembangunan energi, khususnya PLTN, tidak mengorbankan aspek keselamatan masyarakat dan kelestarian lingkungan.
“Rencana pembangunan PLTN harus disikapi secara terbuka, ilmiah, dan berbasis data. Semua pihak, terutama masyarakat, berhak memahami manfaat maupun risikonya,” ujarnya, dikutip dari Antara, Selasa (11/11/2025).
Kendati energi nuklir termasuk dalam kategori energi terbarukan yang berpotensi besar menyediakan energi bersih dan stabil, pihaknya mengakui kalau pengelolaannya harus dilakukan dengan standar keselamatan tinggi dan pengawasan berlapis.
“Prinsipnya bukan sekadar mengejar kemandirian energi, tapi juga memastikan keamanan dan keberlanjutan lingkungan. Tanpa itu, pembangunan PLTN tidak akan diterima masyarakat,” katanya.
Adapun rencana pembangunan PLTN di Pantai Gosong, Desa Sungai Raya, Kecamatan Sungai Raya Kepulauan, masuk dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034 dengan target operasional paling cepat pada 2032.
Pembangunan PLTN di Kalimantan Barat ini diharapkan mendukung transisi energi nasional menuju emisi nol bersih pada 2060. Syamsul berharap konsultasi publik ini menjadi sarana untuk menyerap aspirasi dan masukan masyarakat secara langsung, sehingga hasil kajian tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga mencerminkan kebutuhan dan kekhawatiran masyarakat Bengkayang.
Kepala Pusat Pengkajian Sistem dan Teknologi Pengawasan Fasilitas Radiasi dan Zat Radioaktif Bapeten, Taruniyati Handayani, menjelaskan bahwa KLHS merupakan instrumen penting untuk memastikan rencana pembangunan PLTN tidak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan dan masyarakat.
“Kami ingin memastikan bahwa pembangunan PLTN aman bagi lingkungan dalam jangka panjang dan memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat,” ujarnya.
Menurutnya, sejauh ini belum ada penolakan, hanya pertanyaan mengenai alasan pemilihan lokasi dan potensi dampaknya. Ia menegaskan bahwa setiap tahap pembangunan PLTN akan mengikuti standar keselamatan nasional dan internasional. Pengelolaan limbah nuklir juga akan dilakukan sesuai peraturan yang berlaku.
“Bapeten tidak akan memberikan izin pembangunan sebelum seluruh aspek keselamatan dan sosial dikaji dengan tuntas,” tambahnya.
Bengkayang matangkan persiapan jadi tuan rumah API 2025
Pemerintah Kabupaten Bengkayang, Kalbar mematangkan persiapan menjadi tuan rumah pelaksanaan Anugerah Pesona Indonesia (API) ke-9 Tahun 2025."Sebagai ... [450] url asal
#anugerah-pesona-indonesia #bengkayang #kalbar #api #bupati #sebastianus-darwis
Bengkayang (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Bengkayang, Kalbar mematangkan persiapan menjadi tuan rumah pelaksanaan Anugerah Pesona Indonesia (API) ke-9 Tahun 2025.
"Sebagai tuan rumah, kita berkomitmen menyukseskan ajang nasional tersebut dengan menghadirkan penyelenggaraan yang berkualitas sekaligus menjadi momentum memperkuat promosi pariwisata daerah," ujar Bupati Bengkayang, Sebastianus Darwis dalam rapat finalisasi persiapan API 2025, Jumat.
Bupati Darwis mengatakan, bahwa penunjukan Bengkayang sebagai tuan rumah API 2025 merupakan kehormatan besar sekaligus peluang strategis untuk mendorong investasi pariwisata dan efisiensi anggaran pembangunan daerah.
“Pelaksanaan API 2025 bukan hanya ajang penghargaan, tetapi juga sarana efektif untuk menarik investasi di sektor pariwisata. Dengan meningkatnya investasi, kita dapat menggerakkan ekonomi masyarakat sekaligus mengefisienkan penggunaan anggaran daerah,” ujar Darwis.
Menurutnya, pelaksanaan API di Bengkayang akan menjadi katalis dalam memperkuat sektor pariwisata berbasis masyarakat. Pemerintah daerah menyiapkan infrastruktur pendukung, promosi digital, hingga pelibatan pelaku UMKM, seniman lokal, dan komunitas kreatif agar manfaat ekonomi dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat.
“Momentum ini kita manfaatkan untuk memperluas jejaring, memperkenalkan potensi wisata, serta menarik investor agar ikut mengembangkan sektor pariwisata Bengkayang secara berkelanjutan,” katanya.
Bupati menambahkan, Bengkayang memiliki kekayaan wisata yang beragam mulai dari wisata alam, budaya, hingga wisata perbatasan yang menjadi daya tarik tersendiri. Saat ini dua destinasi wisata unggulan Bengkayang, yakni Riam Berawatn dan Kampung Kreatif Sekida, juga berhasil masuk nominasi API Award 2025.
“Kedua destinasi itu mencerminkan kekuatan karakter wisata Bengkayang. Riam Berawatn menawarkan keindahan alam yang luar biasa, sedangkan Kampung Kreatif Sekida menonjolkan potensi budaya dan ekonomi kreatif masyarakat,” ujarnya.
Anugerah Pesona Indonesia (API) merupakan rangkaian kegiatan tahunan yang diselenggarakan dalam upaya membangkitkan apresiasi masyarakat terhadap pariwisata Indonesia. Di samping itu penyelenggaraan API juga bertujuan untuk mendorong peran serta berbagai pihak, baik masyarakat, pihak industri/swasta maupun pemerintahan-pemerintahan daerah dari provinsi, kabupaten, dan kota, dalam mempromosikan pariwisata serta mengembangkan ekonomi kreatif secara langsung, nyata dan masif di masing-masing daerah.
Acara puncak API 2025 dijadwalkan berlangsung pada 18 November mendatang di halaman Kantor Bupati Bengkayang. Selain malam penganugerahan, kegiatan juga akan diramaikan dengan pertunjukan seni budaya dan penampilan artis nasional untuk memperkuat daya tarik pariwisata daerah.
Darwis berharap penyelenggaraan API 2025 dapat menjadi ajang promosi besar-besaran bagi Bengkayang sekaligus menggerakkan ekonomi lokal.
“Dengan kerja sama semua pihak, kita ingin membuktikan bahwa Bengkayang mampu menjadi tuan rumah yang baik, kreatif, dan berdampak bagi pembangunan ekonomi daerah,” ujarnya.
Ia kembali menambahkan, keberhasilan menjadi tuan rumah API 2025 diharapkan dapat mendorong tumbuhnya investasi baru di sektor pariwisata, meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan, serta memperkuat posisi Bengkayang sebagai salah satu destinasi unggulan di Kalimantan Barat.
“Melalui event nasional ini, kita ingin menunjukkan bahwa Bengkayang tidak hanya memiliki keindahan alam, tetapi juga kesiapan dalam mengelola potensi wisata secara profesional, kolaboratif, dan berkelanjutan,” ujar Bupati.
Pewarta: Narwati
Editor: Biqwanto Situmorang
Copyright © ANTARA 2025
Perjuangan ibu rumah tangga di balik program "cofiring" PLTU
Di balik nyala listrik yang stabil dan bersih dari PLTU Bengkayang, Kalimantan Barat, tersimpan kisah tentang tangan-tangan kecil yang bekerja dalam senyap. ... [1,557] url asal
#program-cofiring-biomassa-di-bengkayang #kalbar #energi-listrik
Bengkayang (ANTARA) - Di balik nyala listrik yang stabil dan bersih dari PLTU Bengkayang, Kalimantan Barat, tersimpan kisah tentang tangan-tangan kecil yang bekerja dalam senyap. Mereka bukan teknisi, bukan insinyur, melainkan ibu rumah tangga.
Mereka adalah sosok-sosok tangguh yang mengumpulkan limbah serbuk gergaji, menopang program cofiring biomassa dari akar rumput menuju energi bersih yang jarang tersorot.
PLTU Bengkayang menerapkan teknologi cofiring, yaitu mencampurkan biomassa berupa sisa-sisa olahan kayu ke dalam pembakaran batubara, sejak Juli 2024.
Setiap pagi, sebelum matahari tinggi, Selawati, ibu muda berusia 21 tahun warga Desa Duri 2, kecamatan Sungai Kunyit Kabupaten Mempawah sudah bersiap. Dengan satu anak yang ditinggal sebentar di rumah, ia dan sang suami mulai memasukkan serbuk kayu sisa-sisa kayu yang digergaji dari tempat penggergajian kayu dekat rumahnya.
Kegiatan itu telah menjadi rutinitas harian, menggantikan pekerjaan lamanya yang jauh lebih berat dan berisiko.
"Dulu saya cari kayu cerocok ke hutan, satu jam naik perahu. Sekarang tinggal kumpulkan sawdust (serbuk kayu) depan rumah," ujar Selawati sambil tersenyum dan tangannya tetap sibuk memasukkan serbuk kayu ke karung.
Dalam sehari, mereka bisa mengumpulkan 50–60 karung. Setiap karung dihargai Rp4.000 oleh PT Senator Karya Manages (SKM), mitra PLN dalam penyediaan bahan cofiring untuk PLTU.
Selawati tinggal di sebuah desa yang letaknya strategis, tak jauh dari dua proyek raksasa negara: Smelter PT BAI dan Pelabuhan Internasional Kijing. Namun, meski berada di jantung pembangunan nasional, denyut kehidupan warga di sini tetap berpijak pada alam.
Desa Sungai Duri 2 merupakan desa mandiri, jalan-jalannya sudah mulus, memudahkan akses ke kota dan pelabuhan. Namun, sumber penghasilan utama warganya belum banyak berubah, sebagian warga bekerja sebagai pencari kayu di hutan, sebagai nelayan dan pedagang kecil.
Mereka tetap hidup bersahaja, menggantungkan harapan dari hutan dan laut, bahkan ketika proyek-proyek besar terus tumbuh di sekeliling mereka.
Bagi Selawati, keberadaan smelter dan pelabuhan internasional belum sepenuhnya mengubah kesehariannya. Dia bukan satu-satunya. Ada puluhan ibu rumah tangga di kampung itu yang kini menggantungkan hidup dari limbah serbuk kayu.
Satu demi satu karung yang dikumpulkan berarti satu demi satu kebutuhan rumah tangga yang terpenuhi. Di tengah keterbatasan, program ini menjelma jadi harapan.
Program cofiring biomassa tidak hanya mengubah arah pengelolaan energi nasional menuju energi bersih, tetapi juga membuka lapangan kerja informal bagi masyarakat sekitar, terutama kaum perempuan yang sebelumnya hanya menjadi buruh kasar atau pengangguran tak berpenghasilan.
Sementara itu, di sudut lain Kalimantan Barat, tepatnya di Desa Megatimur, Sungai Ambawang, Kubu Raya, seorang ibu rumah tangga lain turut merasakan dampak nyata program cofiring. Namanya Baiti (25), ibu dua anak yang kini bekerja di fasilitas produksi biomassa milik CV Rezeki Insan Lestari (RIL), mitra PLN yang menyuplai wood chip ke PLTU Bengkayang.
Setiap pagi, Baiti bersama rekan kerjanya, Apung, mendorong gerobak kecil berisi potongan kayu menuju mesin pencacah. Jaraknya hanya lima meter, namun langkah mereka membawa lebih dari sekadar kayu, mereka menggerakkan roda ekonomi rumah tangga mereka sendiri.
"Saya dibayar Rp75 ribu per hari. Dulu cuma dapat Rp50 ribu per hari sebagai buruh cuci," kenang Baiti.
Kini, ia bahkan bisa menabung dan ikut arisan mingguan. Penghasilan tetap yang sebelumnya hanya impian, kini jadi kenyataan.
Dengan jam kerja yang relatif manusiawi, pukul 08.00 hingga 11.00, istirahat, lalu lanjut pukul 13.00 sampai 17.00, Baiti bisa tetap mengurus rumah dan anak-anaknya. Program ini bukan hanya membuka lapangan kerja, tetapi juga memberikan ruang bagi perempuan untuk tetap menjalankan peran ganda mereka tanpa terpinggirkan.
Program cofiring biomassa di PLTU Bengkayang nyatanya bukan sekadar inovasi energi. Ia adalah jembatan antara limbah dan keberdayaan, antara rumah tangga sederhana dan ekonomi sirkular. Dan di tengahnya berdiri para perempuan yang selama ini tak terlihat: ibu rumah tangga yang menjadi pahlawan energi.
Dalam tumpukan serbuk kayu dan kayu cacah, tersimpan kisah perjuangan. Kisah bahwa perubahan bisa dimulai dari rumah, dari dapur, dari tangan-tangan ibu yang penuh ketekunan.
Peluang ekonomi baru
Sejak pertengahan 2024, PT Senator Karya Manages (SKM) mulai mengembangkan biomassa berbasis limbah kayu di Kabupaten Bengkayang dan Mempawah, Kalimantan Barat. Mengandalkan bahan baku dari masyarakat lokal, perusahaan ini memproduksi woodchip dan sawdust (serbuk gergaji) untuk cofiring biomassa kebutuhan energi pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Bengkayang.
PT SKM telah menjadi mitra strategis PLN dalam penyediaan bahan baku cofiring di PLTU Bengkayang. Program cofiring biomassa telah membawa dampak positif bagi warga Kalimantan Barat, terutama ibu rumah tangga yang bekerja sebagai pengumpul sawdust. Program ini telah memberikan kesempatan kerja dan meningkatkan pendapatan keluarga.
Penanggung jawab PT SKM Nur Jaman mengatakan program energi terbarukan (EBT) melalui pemakaian biomassa untuk bahan bakar pencampur atau cofiring di pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Bengkayang ditujukan agar mampu memberikan manfaat positif bagi masyarakat.
PT SKM berharap upaya itu dapat meningkatkan penghasilan masyarakat melalui pemanfaatan limbah sawmill berupa sawdust yang selama ini terabaikan.
"Selama ini sawdust itu dibiarkan begitu saja. Daripada terbengkalai, sekarang dimanfaatkan sehingga mampu membuka lapangan kerja baru dan pastinya menambah penghasilan bagi masyarakat," katanya.
Dia mengatakan rata-rata pengumpulan sawdust dari warga mencapai 790 ton per bulan. Pekerjanya kebanyakan ibu rumah tangga dan pemuda yang sebelumnya masih menganggur.
"Siapapun masyarakat bisa menjualnya ke kami, kami siap terima. Karena kebutuhan kami itu setiap bulannya mencapai 790 ton untuk menyuplai ke PLTU. Sawdust ini juga ada yang diambil dari luar lokasi perusahaan," ujarnya.
“Awalnya kami memanfaatkan sawdust yang sebelumnya tidak terpakai. Setelah itu kami mulai produksi woodchip. Setiap hari kami bisa hasilkan sekitar 20 ton woodchip, atau sekitar lima mobil pengangkut per hari,” kata dia.
Dalam prosesnya, perusahaan ini menyerap empat orang tenaga kerja lokal dengan gaji bulanan antara Rp3 juta untuk tenaga bantu dan Rp3,5juta-Rp4,5juta untuk operator mesin.
“Kami terbuka untuk siapa pun masyarakat yang ingin menjual kayunya, baik kayu karet, rambutan, maupun durian. Bahkan, kami beli per karung serbuk kayu seharga Rp4ribu, ujarnya.
PT SKM menyuplai biomassa woodchip untuk kebutuhan PLTU dengan kapasitas hingga 390 ton per bulan dan 790 ton untuk sawdust per bulan.

Untuk menjamin keberlanjutan pasokan, SKM mulai merintis penanaman pohon jangka panjang di Mempawah dengan luas lahan sekitar 5 hektare, sekaligus melakukan pembibitan pohon penghasil kayu biomassa.
Meski memiliki potensi besar, Nur Jaman mengungkapkan bahwa operasional tidak lepas dari kendala.
“Bahan baku dari Bengkayang melimpah, tapi terkendala akses dari hulu yang jauh. Selain itu, kapasitas mesin produksi yang kecil seringkali mengganggu kelancaran suplai,” ujarnya.
Saat ini sistem kerja sama dengan penyedia bahan baku masih berbasis Memorandum of Understanding (MoU) dan belum memiliki regulasi khusus yang mengatur praktik pemanfaatan limbah kayu oleh masyarakat.
“Yang jelas, keberadaan kami memberikan dampak positif langsung bagi masyarakat lewat penyerapan tenaga kerja dan peningkatan pendapatan dari hasil menjual kayu,” ujarnya.
Dengan memasok limbah sawdust secara konsisten, PT SKM turut mendukung keberhasilan program cofiring yang bertujuan untuk meningkatkan efisiensi dan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Sementara itu, pemilik CV RIL, Supriyadi, memastikan seluruh tenaga kerja difasilitas produksinya berasal dari masyarakat lokal di sekitar lokasi. Langkah ini diambil sebagai bentuk kontribusi perusahaan dalam memberdayakan ekonomi warga setempat.
“Seluruh pekerja saya adalah warga sekitar. Saya senang karena keberadaan fasilitas ini bisa memberi manfaat langsung bagi masyarakat,” ujar Supriyadi.
Supriyadi menjelaskan bahwa upah pekerja yang ia berikan berkisar antara Rp75 ribu hingga Rp120 ribu per hari, tergantung beban kerja dan jam kerja. Jika terjadi lembur, upah pun ditambahkan.
Tak hanya menyerap tenaga kerja lokal, CV RIL juga memanfaatkan limbah kayu karet sebagai bahan baku utama produksi biomassa. Limbah tersebut umumnya berasal dari kebun-kebun karet milik warga yang kini mulai diganti dengan tanaman kelapa sawit.
“Banyak kebun karet yang ditinggalkan karena diganti sawit. Kayunya tidak dimanfaatkan, jadi kami olah jadi sesuatu yang bernilai,” ujarnya.
Menariknya, warga juga turut menyuplai kayu yang hanyut terbawa arus sungai. Limbah kayu yang dikumpulkan kemudian disetorkan ke fasilitas produksi CV RIL.
“Selain sungai jadi bersih, warga juga dapat penghasilan tambahan dari hasil mengumpulkan kayu limbah,” ujarnya.
Meski demikian, Supriyadi menyadari bahwa ketergantungan pada limbah kayu bukan solusi jangka panjang. Karena itu, ia mulai mempersiapkan langkah keberlanjutan dengan menyediakan bibit pohon akasia di depan fasilitas produksinya, yang bisa ditanam oleh warga yang berminat.
Dalam sehari, CV RIL mampu mengirimkan antara 20 hingga 25 ton biomassa ke PLTU Bengkayang. Ia berharap, program co-firing biomassa yang dijalankan PLN dapat terus berlanjut secara berkelanjutan.
Dorong keterlibatan masyarakat
PLN Energi Primer Indonesia (EPI) mencatat kebutuhan biomassa untuk mendukung program energi terbarukan di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Bengkayang masih terbuka lebar. Hingga kini, tercatat lebih dari 17 ribu ton biomassa telah dikirimkan ke PLTU Bengkayang melalui mitra PLN. Jumlah tersebut meningkat tiga kali lipat dibandingkan dengan Tahun 2024.
Sekretaris Perusahaan PLN EPI, Mamit Setiawan, mengatakan bahwa peluang besar masih tersedia bagi masyarakat untuk berpartisipasi dalam penyediaan biomassa sebagai bagian dari komitmen terhadap energi berbasis kerakyatan.
“Kami harap lebih banyak lagi masyarakat yang dapat terlibat dalam ekosistem biomassa ini,” ujarnya.
PLTU Bengkayang telah menerapkan teknologi cofiring dengan mencampurkan biomassa sawdust sebagai substitusi batu bara sejak Juli 2024.
Sawdust yang digunakan berasal dari limbah kilang kayu (sawmill) yang sebelumnya menjadi ancaman pencemaran lingkungan dan berpotensi memicu kebakaran lahan. Kini, limbah tersebut justru menjadi sumber energi alternatif yang dimanfaatkan dengan komposisi hingga maksimal di 10 persen dari total bahan bakar harian.
Selain mendukung transisi energi, program cofiring ini juga berdampak pada ekonomi lokal. Pengusaha sawmill mendapat peluang usaha baru, sementara masyarakat sekitar memperoleh lapangan kerja.
“Adanya program cofiring di PLTU Bengkayang dirasa dapat memberikan nilai ekonomi, meningkatkan penghasilan, serta menyerap tenaga kerja baru,” katanya.
Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2025
#50 tag sepekan
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56