Bisnis.com, BANDA ACEH — Lonjakan harga minyak global akibat perang Iran membuka peluang besar bagi industri kendaraan listrik (electric vehicle/EV), dengan China menjadi pihak yang paling diuntungkan di tengah pergeseran tersebut.
Harga minyak yang menembus US$100 per barel akibat terganggunya pasokan energi yang melalui Selat Hormuz, meningkatkan biaya bahan bakar secara signifikan. Situasi ini membuat kendaraan berbahan bakar minyak semakin mahal untuk dioperasikan, sementara EV menawarkan biaya yang lebih stabil dan murah.
“Penutupan Selat Hormuz bisa menjadi game changer bagi kendaraan listrik. Lonjakan harga minyak hingga 50% membuat EV jauh lebih menarik secara finansial, dan di negara yang memiliki akses EV murah dari China, keunggulan dibanding mobil berbahan bakar bensin akan muncul lebih cepat,” ujar analis energi David Brown, dikutip Oil Price, Minggu (29/3/2026).
Negara Tirai Bambu itu pada 2025 telah menjadi penjual mobil terbesar di dunia, melampaui Jepang. Produsen seperti BYD dan Geely bahkan mulai mengungguli merek Jepang di pasar global, didorong oleh ekspansi agresif mereka soal EV.
Lonjakan harga minyak mempercepat transisi global ke EV yang selama ini sudah berlangsung. Tren ini secara langsung dapat menguntungkan China.
Keunggulan China semakin terlihat dari kinerja ekspor. Negara tersebut mengirimkan 8,32 juta kendaraan ke luar negeri dalam setahun, naik 30%. Kontribusi kendaraan listrik mencapai 2,32 juta unit atau tumbuh 38%. Pasar utama meliputi Eropa, Asia Tenggara, Amerika Latin, hingga Timur Tengah.
EV Magazine melaporkan, krisis energi akibat perang Iran membuat biaya operasional kendaraan listrik jauh lebih rendah dibandingkan mobil bensin. Dalam kondisi harga minyak tinggi, biaya penggunaan mobil bensin mencapai sekitar US$162 per bulan, sedangkan EV hanya sekitar US$76. Hal ini tentu memperkuat daya tarik kendaraan listrik di tengah masyarakat global.
Lonjakan harga minyak juga mendorong peningkatan minat masyarakat terhadap EV secara signifikan. Data Google Trends menunjukkan pencarian kendaraan listrik melonjak tajam setelah konflik Iran dimulai.
Ketergantungan terhadap minyak, membuat sektor transportasi sangat rentan terhadap konflik geopolitik.
Kendaraan listrik menjadi solusi strategis karena menawarkan stabilitas biaya dan mengurangi ketergantungan terhadap komoditas energi global yang fluktuatif.
Kondisi tersebut secara tidak langsung memperkuat posisi China yang sejak awal agresif mengembangkan EV. Selain memiliki rantai pasok yang terintegrasi, China juga dinilai lebih fleksibel dalam sumber energi, sehingga mampu menjaga pertumbuhan industri EV meski terjadi gejolak global.
Perang Iran menjadi momentum strategis bagi China untuk memperluas dominasi di pasar EV global. Peralihan energi yang dipicu konflik ini tidak hanya bersifat sementara, tetapi berpotensi mengubah peta industri otomotif dunia dalam jangka panjang.