Bisnis.com, JAKARTA — PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) terus memperkuat transformasi bisnis sebagai strategi untuk meningkatkan daya saing sekaligus menjaga pertumbuhan berkelanjutan.
Langkah tersebut ditopang penguatan digitalisasi, optimalisasi bisnis wholesale, hingga perbaikan kualitas aset yang menopang kinerja perseroan.
Direktur Finance & Strategy BNI Hussein Paolo Kartadjoemena mengatakan transformasi yang dijalankan tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan kinerja bisnis, tetapi juga memperkuat kemampuan perusahaan dalam menghadapi perubahan dan menangkap peluang pertumbuhan baru.
Menurutnya, langkah tersebut juga sejalan dengan penguatan tata kelola BUMN melalui Danantara Indonesia yang berorientasi pada penciptaan nilai jangka panjang.
"Transformasi yang kami jalankan tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan kinerja bisnis, tetapi juga memperkuat kemampuan perusahaan dalam menghadapi perubahan dan menangkap peluang pertumbuhan. Dengan fundamental yang semakin kuat, BNI dapat memberikan kontribusi yang lebih besar bagi nasabah, masyarakat, dan perekonomian nasional," ujar Paolo dalam keterangan tertulis, Senin (29/6/2026).
BNI menjalankan transformasi secara menyeluruh melalui penguatan kapabilitas digital, peningkatan produktivitas organisasi, optimalisasi jaringan layanan, hingga penguatan manajemen risiko. Strategi tersebut diarahkan untuk menciptakan pertumbuhan yang lebih sehat dan berkelanjutan.
Pada segmen ritel, BNI terus mengembangkan platform digital wondr by BNI. Hingga akhir 2025, aplikasi tersebut telah digunakan lebih dari 12 juta nasabah.
Peningkatan aktivitas transaksi melalui platform itu turut mendorong pertumbuhan tabungan ritel sekaligus memperkuat penghimpunan dana murah (CASA).
Di sisi wholesale banking, perseroan juga memperkuat layanan BNIdirect yang menyediakan layanan cash management, trade finance, bank guarantee, hingga supply chain financing bagi nasabah korporasi.
Sepanjang 2025, jumlah pengguna dan nilai transaksi BNIdirect tumbuh lebih dari 25% secara tahunan sehingga turut meningkatkan giro korporasi dan kualitas layanan transaksi bisnis.
Hasil transformasi tersebut tercermin pada kinerja keuangan perseroan sepanjang 2025. BNI membukukan laba bersih sebesar Rp20 triliun.
Di saat yang sama, kualitas aset terus membaik dengan rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) bruto turun menjadi 1,9%, sedangkan loan at risk (LaR) membaik menjadi 8,5%.
Momentum tersebut bertepatan dengan peringatan 80 tahun berdirinya BNI yang mengusung tema Swadharma Bhakti Nagara. Perseroan menilai delapan dekade perjalanan perusahaan menjadi pijakan untuk melanjutkan transformasi dan memperkuat kontribusi terhadap perekonomian nasional.
Kinerja positif berlanjut pada 2026. Hingga akhir Mei 2026, BNI mencatat total aset sebesar Rp1.365,36 triliun dan dana pihak ketiga (DPK) mencapai Rp1.063,92 triliun.
Perseroan juga membukukan laba bersih Rp9,05 triliun dengan total ekuitas sebesar Rp160,99 triliun.
Paolo mengatakan fundamental bisnis yang semakin kuat menjadi modal penting bagi BNI untuk terus menciptakan nilai bagi pemegang saham, nasabah, masyarakat, maupun perekonomian nasional.
"Kami meyakini bahwa perusahaan yang sehat dan bertumbuh akan mampu memberikan manfaat yang lebih besar bagi pemegang saham, mendukung agenda pembangunan nasional, serta berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam jangka panjang," katanya.
Ke depan, BNI akan melanjutkan agenda transformasi untuk memperkuat daya saing dan meningkatkan kontribusi terhadap perekonomian nasional.
Bank KBMI 4 tersebut optimistis penguatan tata kelola BUMN melalui Danantara akan semakin mendorong produktivitas, memperkuat kinerja, dan menciptakan nilai jangka panjang bagi perusahaan maupun negara.