Bisnis.com, JAKARTA — Gelombang aksi pembelian kembali saham alias buyback oleh sejumlah emiten menjadi sorotan di tengah tekanan IHSG dan sentimen negatif pasca hasil peninjauan klasifikasi pasar oleh MSCI.
PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk.(GOTO) telah memperoleh restu untuk melaksanakan buyback hingga Rp3,5 triliun, PT Astra International Tbk (ASII) bahkan menyiapkan program buyback baru senilai Rp8 triliun.
Tak ketinggalan, PT Merdeka Battery Materials Tbk. (MBMA) mengalokasikan dana sebanyak-banyaknya hingga Rp1,46 triliun untuk pembelian kembali sahamnya, dan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN) juga tengah merencanakan aksi buyback.
Head of Research RHB Sekuritas Andrey Wijaya menilai langkah buyback yang dilakukan sejumlah emiten tersebut merupakan respons yang wajar terhadap kondisi pasar saat ini.
Menurutnya, buyback tidak hanya menunjukkan keyakinan manajemen terhadap prospek bisnis perusahaan dalam jangka panjang, tetapi juga menjadi kesempatan untuk memanfaatkan harga saham yang dinilai sudah berada pada level menarik.
"Aksi buyback yang dilakukan merupakan langkah yang wajar di tengah tekanan IHSG, ketidakpastian global, dan isu MSCI. Buyback menunjukkan kepercayaan manajemen terhadap prospek jangka panjang perusahaan sekaligus memanfaatkan valuasi saham yang dinilai sudah menarik," ujarnya kepada Bisnis, Rabu (25/6/2026).
Andrey menyebut aksi buyback pada dasarnya mengandung dua pesan sekaligus.
Pertama, manajemen melihat fundamental perusahaan tetap kuat sehingga berani mengalokasikan kas untuk membeli sahamnya sendiri.
Kedua, buyback dapat menjadi instrumen untuk meredam tekanan harga saham yang berlebihan di pasar.
"Buyback mencerminkan kombinasi keyakinan terhadap fundamental perusahaan dan upaya menstabilkan harga saham," imbuhnya.
Meski dapat meningkatkan kepercayaan investor, efektivitasnya tetap terbatas apabila tekanan pasar masih didominasi faktor eksternal seperti arus keluar dana asing dan ketidakpastian makro.
Secara umum, dia berpendapat buyback memang dapat memberikan dampak positif dalam jangka pendek. Kehadiran perusahaan sebagai pembeli saham di pasar berpotensi mengurangi volatilitas dan meningkatkan sentimen investor.
Dalam jangka pendek, sambungnya, buyback dapat membantu mengurangi volatilitas dan memberikan dukungan terhadap harga saham.
Namun, keberlanjutan kenaikan harga tetap akan lebih bergantung pada perbaikan fundamental emiten, kinerja keuangan dan membaiknya sentimen pasar secara keseluruhan.
Dari sisi valuasi, RHB Sekuritas menilai sejumlah saham yang melakukan buyback kini mulai menarik untuk dicermati investor.
Andrey secara khusus menyebut BBTN dan ASII sebagai emiten yang saat ini memiliki valuasi atraktif dengan dukungan fundamental yang relatif kuat.
"Dari sisi valuasi, kami melihat BBTN dan ASII sudah berada pada level yang menarik didukung fundamental yang solid dan prospek pertumbuhan yang baik," ujarnya.
Sementara itu, GOTO dinilai menawarkan potensi pertumbuhan jangka panjang yang menjanjikan, tetapi dengan tingkat risiko yang lebih tinggi dibandingkan saham-saham berbasis fundamental mapan.
"GOTO menawarkan potensi jangka panjang, namun lebih sesuai bagi investor dengan toleransi risiko yang lebih tinggi karena valuasinya masih bergantung pada keberhasilan perusahaan meningkatkan profitabilitas," katanya.
Deputy President Director Samuel Sekuritas Indonesia Suria Dharma menjelaskan buyback umumnya dilakukan ketika perusahaan menilai harga sahamnya sudah berada di bawah nilai wajar.
"Buyback memang sering kali dilakukan saat harga saham dirasakan sudah undervalue oleh perusahaan," ujar Suria.
Meski demikian, dia menilai tekanan terhadap pasar saham Indonesia saat ini belum sepenuhnya mereda karena investor asing masih melakukan aksi jual bersih di pasar domestik.
"Valuasi rata-rata emiten tersebut menarik, tapi memang tekanannya masih karena dana asing yang masih outflow," katanya.
Suria menambahkan efektivitas buyback dalam menopang harga saham sangat bergantung pada sejumlah faktor, mulai dari besaran dana yang dialokasikan hingga kondisi pasar secara keseluruhan.
_____
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.