Bisnis.com, JAKARTA – Sejumlah emiten telah mengumumkan rencana pembelian kembali saham atau buyback pada kuartal IV 2025 ini. Emiten itu di antaranya adalah PT Bukalapak Tbk. (BUKA), PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT Harum Energy Tbk. (HRUM), PT Jembo Cable Company Tbk. (JECC) sampai PT Mandiri Herindo Adiperkasa Tbk. (MAHA).
Dalam sepekan terakhir hingga Jumat (24/10/2025), mayoritas saham emiten yang telah mengumumkan buyback saham kompak menguat. BBCA menguat 10,33% ke Rp8.275, harga HRUM naik 0,46% ke Rp1.085, saham JECC melompat 6,90% ke Rp1.240, sedangkan MAHA naik 0,72% ke Rp139. Sisanya, harga saham BUKA justru mengalami koreksi 1,79% ke Rp165 dalam sepekan terakhir.
Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan menilai buyback merupakan langkah yang bisa sangat positif, khususnya bila dilakukan saat kinerja perusahaan sehat dan kas berlebih, karena dapat menciptakan nilai tambah bagi pemegang saham.
"Namun perlu dicermati, jika buyback terjadi di tengah arus kas yang ketat atau ketika perusahaan masih membutuhkan dana besar untuk ekspansi, pasar dapat menilai langkah ini sebagai minimnya peluang pertumbuhan organik atau bahkan penggunaan kas yang kurang optimal," ujarnya kepada Bisnis, Senin (27/10/2025).
Dari sisi perdagangan, Ekky menjelaskan buyback dapat mengurangi free float sehingga likuiditas turun apabila porsi pembelian cukup besar. Namun, untuk emiten berkapitalisasi besar seperti BBCA, menurutnya dampaknya sangat terbatas karena volume dan basis investor yang luas.
"Bagi emiten dengan kapitalisasi kecil hingga menengah, penurunan free float dapat meningkatkan volatilitas harga dan membuat pergerakan saham lebih mudah dipengaruhi oleh akumulasi pihak tertentu," tandasnya.
Ekky menjelaskan bahwa secara umum alasan utama emiten melakukan buyback adalah karena manajemen menilai valuasi saham sudah terlalu murah, baik dilihat dari rasio price earning ratio (PER), price to book value (PBV), maupun dibandingkan harga wajarnya.
Dengan begitu, buyback lebih merupakan upaya menangkap peluang undervaluation, bukan karena earning per share (EPS) atau return on equity (ROE) yang sudah meningkat.
"Indikator profitabilitas justru biasanya membaik setelah aksi buyback dilakukan akibat jumlah saham beredar yang berkurang," pungkasnya.
Melansir keterbukaan informasi BEI, terdapat sejumlah emiten yang mengumumkan melaksanakan buyback saham pada kuartal IV 2025.
Pertama, ada PT Bukalapak.com Tbk. (BUKA) yang akan melanjutkan buyback tanpa melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Buyback saham akan dilaksanakan secara bertahap maupun sekaligus mulai 24 Oktober 2025 hingga 23 Januari 2026.
Rencana tersebut merupakan lanjutan dari buyback saham perseroan pada 7 Juli sampai 6 Oktober 2205. Dari total anggaran Rp1,13 triliun, masih tersisa anggaran sebesar Rp420,79 miliar.
Sebelumnya, manajemen BUKA menegaskan bahwa perusahaan memiliki likuiditas yang memadai untuk melaksanakan aksi korporasi ini tanpa menimbulkan dampak negatif terhadap kinerja keuangan. Manajemen juga berharap buyback saham ini dapat memperkuat struktur modal dan mencerminkan keyakinan perseroan terhadap nilai intrinsik saham BUKA.
“Perseroan berkomitmen untuk menjaga keyakinan terhadap nilai pertumbuhan jangka panjang. Langkah ini diambil untuk menjaga kestabilan antara fundamental perseroan dan fluktuasi kondisi pasar,” tulis manajemen BUKA.
Selanjutnya, ada PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) yang akan melakukan buyback saham pada 22 Oktober 2025 sampai 19 Januari 2026. Dengan harga maksimum pembelian kembali saham sebesar Rp9.200 per saham, BBCA menyiapkan dana maksimal sebesar Rp5 triliun.
Ketiga, ada PT Harum Energy Tbk. (HRUM) yang akan melaksanakan buyback saham mulai 6 Oktober 2025 sampai 2 Januari 2026. Dengan perkiraan pembelian kembali saham sebanyak 751.793.346 saham atau setara 5,56% dari modal ditempatkan dan disetor, perseroan menyiapkan dana maksimal sebesar Rp837 miliar.
Keempat, ada PT Jembo Cable Company Tbk. (JECC) yang bersiap melakukan buyback saham secara bertahap sejak 23 Oktober 2025 sampai 5 Desember 2025. Perseroan menyiapkan dana sebesar Rp29,43 miliar untuk aksi korporasi ini. Buyback saham ini rencananya untuk membeli kembali 49.050.000 saham.
Kelima, ada PT Mandiri Herindo Adiperkasa Tbk. (MAHA) yang telah mengalokasikan dana sebesar Rp153,68 miliar. Buyback saham akan dilaksanakan 23 Oktober 2025 sampai 16 Maret 2026.
Keenam, ada PT Jaya Real Property Tbk. (JRPT) yang melaksanakan buyback saham pada 13 Oktober 2025 sampai 12 Januari 2026. Perseroan mengalokasikan dana maksimal mencapai Rp100 miliar untuk membeli 116,27 juta saham atau 0,9% dari total modal yang ditempatkan dan disetor.
Ketujuh, PT Arwana Citramulia Tbk. (ARNA) yang melakukan pembelian kembali saham pada 24 Oktober 2025 hingga 23 Januari 2026. Produsen keramik ini mengalokasikan anggaran mencapai Rp50 miliar untuk aksi korporasi ini.
Kedelapan, ada emiten asuransi umum PT Asuransi Multi Artha Guna Tbk. (AMAG) yang melaksanakan buyback saham dengan total 237,19 juta saham senilai Rp23,71 miliar. Perseroan menyiapkan anggaran sebesar Rp90,15 miliar untuk aksi korporasi ini.
____
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.