#30 tag 24jam
Teh Celup Sosro Hadirkan Kehangatan Buka Puasa di 6 Provinsi
Teh Celup Sosro luncurkan program THR 2026, berbagi hidangan berbuka puasa di 26 kota, Melibatkan 2.000 ibu relawan, program ini perkuat kebersamaan di Ramadan. [565] url asal
#teh-celup-sosro #ramadan-2026 #berbuka-puasa #program-berbagi #ramadhan #yayasan-lumbung-pangan-indonesia #foi #wida-septarina #raisa-girsang #celup-sosro #ibu-ibu #celup #kepedulian #semangat #pen
(CNN Indonesia - Ekonomi) 11/03/26 13:35
v/161789/
Teh Celup Sosro kembali menggelar program berbagi pada Ramadan 2026 melalui inisiatif Hidupkan Ramadanmu (THR). Program ini menghadirkan hidangan berbuka puasa lengkap dengan seduhan teh manis hangat bagi masyarakat di berbagai daerah di Indonesia.
Kegiatan yang berlangsung sejak 21 Februari hingga 15 Maret 2026 tersebut menjangkau 26 kota dan kabupaten di 6 provinsi. Sebanyak 186 masjid dilibatkan sebagai pusat kegiatan komunitas sekaligus lokasi distribusi hidangan berbuka bagi masyarakat.
Dalam pelaksanaannya, Teh Celup Sosro berkolaborasi dengan FoodBank of Indonesia untuk menyiapkan sekitar 60.000 paket hidangan berbuka puasa. Setiap paket dilengkapi dengan seduhan teh manis hangat yang dibagikan kepada masyarakat melalui kegiatan berbuka bersama di berbagai masjid.
Program ini juga melibatkan lebih dari 2.000 ibu relawan yang berperan dalam proses persiapan hingga pendistribusian makanan. Para relawan tersebut memasak berbagai menu khas daerah di dapur komunitas yang berada di lingkungan masjid.
Brand Manager Teh Celup Sosro Indi Raisa Girsang menyampaikan, program ini merupakan gerakan yang berkesinambungan yang telah dijalankan sejak 2025.
Brand Manager Teh Celup Sosro, Indi Raisa Girsang, mengatakan program ini merupakan kelanjutan dari inisiatif serupa yang telah dijalankan sejak 2025. Menurutnya, Ramadan menjadi momentum penting untuk mempererat kebersamaan sekaligus berbagi dengan masyarakat.
"Melalui program 'Teh Celup Sosro Hidupkan Ramadanmu (THR)', kami ingin berbagi kehangatan dan kebersamaan bagi setiap orang yang menerima sehingga setiap seduhan Teh Celup Sosro bukan sekadar pelengkap, melainkan jembatan kebersamaan dan kebaikan yang tulus dari hati," ujarnya dikutip Rabu (11/3).
Melalui semangat "Hidupkan Ramadanmu, Rayakan Hangatnya Kebersamaan dengan Teh Celup Sosro," Teh Celup Sosro menegaskan komitmennya untuk terus hadir di ruang-ruang yang bermakna, mulai dari masjid hingga dapur komunitas, menyajikan kehangatan sederhana yang mempererat ikatan sosial dan menghidupkan Ramadan bagi lebih banyak masyarakat Indonesia.
Perempuan sebagai Jantung Keluarga dan Komunitas
Kunci dari Teh Celup Sosro Hidupkan Ramadanmu (THR) 2026 terletak pada gerakan para perempuan yang berdaya. Lebih dari 2.000 ibu relawan terlibat aktif mulai dari proses persiapan hingga pendistribusian sajian berbuka puasa.
Dengan semangat gotong royong di dapur masjid, mereka berkontribusi untuk memasak hidangan khas wilayah masing-masing untuk dibagikan kepada masyarakat yang membutuhkan.
Kontribusi para ibu-ibu ini melampaui sekadar mengulurkan bantuan, mereka merupakan jantung yang menggerakkan kepedulian serta memperkuat ikatan kekeluargaan pada komunitas di setiap wilayah.
"Ramadan yang hangat sejatinya bermula dari sebuah keluarga yang digerakkan oleh para ibu. Peran perempuan atau ibu di keluarga dan masyarakat sangat krusial dalam menjaga tradisi yang memastikan setiap hidangan menghadirkan kenyamanan bagi keluarga," katanya.
Semangat kebersamaan ini dirasakan langsung oleh para ibu relawan yang terlibat dalam kegiatan tersebut. Bagi mereka, memasak untuk berbuka bukan sekadar kegiatan dapur, tetapi juga cara sederhana untuk berbagi kebaikan dengan sesama.
"Sebagai ibu, kami memasak dengan sepenuh hati. Hidangan berbuka ini kami siapkan menggunakan bahan makanan terbaik dan rempah-rempah asli Indonesia. Saat paket makanan dibagikan, yang kami bagikan bukan hanya makanan, tetapi juga kepedulian dan rasa kebersamaan," ungkap Dwi Hidayati, salah satu ibu relawan FOI yang terlibat dalam program ini.
Sementara itu, Ketua Yayasan Lumbung Pangan Indonesia, Wida Septarina menyampaikan bahwa kolaborasi yang kembali terjalin bersama Teh Celup Sosro pada Ramadan tahun ini menjadi bagian dari upaya memperluas gerakan berbagi di masyarakat melalui Dapur Komunitas.
"Kami sangat bersyukur dapat kembali berkolaborasi dengan Teh Celup Sosro. Selain menyediakan makanan bagi masyarakat rentan, program ini menjadi wadah gerakan ribuan ibu menyediakan kehangatan makanan berbuka puasa bagi mereka yang membutuhkan di 26 kota. Semoga ini menjadi inspirasi menolong sesama di bulan Ramadhan yang baik ini," ujarnya.
Sejarah Sariwangi, dari Akuisisi Unilever hingga Dijual ke Grup Djarum
Sariwangi telah melewati perjalanan panjang sejak 1960-an, dari pelopor teh celup hingga akhirnya dilepas Unilever ke Grup Djarum. [906] url asal
#grup-djarum #teh-celup #unilever-indonesia #bisnis-teh #sejarah-sariwangi #profil-sariwangi #teh-celup-sariwangi
(Kompas.com - Money) 08/01/26 10:52
v/96954/
JAKARTA, KOMPAS.com – Sariwangi, merek teh yang telah hadir di Indonesia sejak 1960-an, kembali menjadi sorotan setelah PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) melepas bisnis teh bermerek tersebut kepada Grup Djarum. Sebelumnya, perusahaan pemilik awal merek Sariwangi dinyatakan pailit pada 2018.
Awal mula Sariwangi
Sariwangi sendiri bermula dari PT Sariwangi Agricultural Estate Agency (SAEA) yang berdiri pada 1962. Pada fase awal, perusahaan ini bergerak di bidang perdagangan komoditas teh sebelum kemudian mengembangkan kegiatan produksi, termasuk proses blending dan pengemasan.
Perkembangan Sariwangi mulai menonjol pada 1970-an. Pada periode tersebut, perusahaan memperkenalkan teh celup sebagai alternatif penyajian teh yang lebih praktis dibandingkan penggunaan daun teh lepas.
Inovasi teh celup ini menjadi titik penting dalam perjalanan Sariwangi. Produk tersebut memperkenalkan cara baru menikmati teh dan mendorong perubahan kebiasaan konsumsi masyarakat. Sejak saat itu, merek Sariwangi semakin dikenal luas di pasar domestik.
Perkembangan bisnis dan skala usaha
Seiring meningkatnya permintaan, skala usaha Sariwangi terus berkembang. Perusahaan tidak hanya memasarkan teh celup, tetapi juga memproduksi berbagai varian teh untuk pasar dalam negeri.
Pada masa tertentu, penjualan Sariwangi tercatat pernah mencapai sekitar 46.000 ton teh per tahun. Kapasitas produksinya juga dilaporkan mencapai sekitar 8 juta kantong teh per tahun, mencerminkan besarnya skala operasional perusahaan pada periode tersebut.
Pertumbuhan bisnis tersebut menempatkan Sariwangi sebagai salah satu pemain utama di industri teh nasional. Posisi ini sekaligus menjadikan merek Sariwangi sebagai salah satu merek teh yang paling dikenal oleh konsumen Indonesia.
Akuisisi merek oleh Unilever
Popularitas dan skala usaha Sariwangi menarik perhatian PT Unilever Indonesia Tbk. Pada 1989, Unilever secara resmi mengakuisisi hak merek Sariwangi.
Sejak akuisisi tersebut, Unilever memproduksi dan memasarkan teh celup Sariwangi sebagai bagian dari portofolio produk konsumen cepat saji (fast-moving consumer goods/FMCG) perseroan.
Produksi dilakukan di fasilitas milik Unilever di Cikarang, Jawa Barat, serta melalui pabrik pihak ketiga (third party manufacture).
Sementara itu, PT Sariwangi Agricultural Estate Agency (AEA) tetap menjalankan kegiatan usahanya secara terpisah. Perusahaan ini bergerak di bidang perdagangan, produksi, dan pengemasan teh, termasuk memproduksi dan memasarkan berbagai produk teh di luar merek Sariwangi.
Aktivitas Sariwangi setelah akuisisi Unilever
Meski merek Sariwangi telah berpindah kepemilikan, pendiri Sariwangi Johan Alexander Supit tetap melanjutkan bisnis tehnya melalui PT Sariwangi AEA.
Dana hasil penjualan merek Sariwangi digunakan Johan untuk mengembangkan usaha di sektor hulu. Pada 1990, perusahaan membeli lahan pabrik di Citeureup, Jawa Barat.
Dua tahun kemudian, pabrik tambahan dibangun di Gunung Putri, Bogor, guna memperkuat kapasitas produksi dan pengolahan teh.
Ekspansi usaha berlanjut pada 2002 dengan pembelian kebun teh seluas sekitar 4.000 hektare. Langkah ini ditempuh sebagai bagian dari strategi integrasi usaha dari hulu hingga hilir.
Tekanan keuangan sejak 2015
Namun, ekspansi yang agresif tersebut tidak sepenuhnya berjalan sesuai rencana. Memasuki 2015, PT Sariwangi AEA mulai menghadapi tekanan keuangan yang signifikan.
PT Sariwangi AEA bersama perusahaan afiliasinya, PT Maskapai Perkebunan Indorub Sumber Wadung, terjerat utang dengan total nilai sekitar Rp 1,5 triliun.
Sejumlah kreditur perbankan tercatat mengajukan tagihan, di antaranya PT HSBC Indonesia, PT Bank ICBC Indonesia, PT Bank Rabobank International Indonesia, PT Bank Panin Indonesia Tbk, dan PT Bank Commonwealth.
Kesulitan keuangan tersebut berkaitan dengan rencana ekspansi perkebunan teh yang tidak menghasilkan kinerja sesuai proyeksi. Investasi untuk meningkatkan kapasitas dan produktivitas kebun teh tidak berjalan optimal, sehingga arus kas perusahaan terganggu.
Akibatnya, perusahaan mengalami kesulitan memenuhi kewajiban pembayaran kepada para kreditur dan mengajukan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) sebagai upaya restrukturisasi.
Kepailitan Sariwangi
Proses PKPU yang dijalankan tidak membuahkan hasil. Hingga 2018, PT Sariwangi AEA dan PT Maskapai Perkebunan Indorub Sumber Wadung tetap tidak mampu memenuhi kewajiban pembayaran sesuai kesepakatan dengan para kreditur.
Pada Rabu (17/10/2018), Majelis Hakim Pengadilan Niaga Jakarta Pusat mengabulkan permohonan pembatalan homologasi yang diajukan oleh salah satu kreditur, yakni PT Bank ICBC Indonesia.
Dengan putusan tersebut, PT Sariwangi Agricultural Estate Agency dan PT Maskapai Perkebunan Indorub Sumber Wadung resmi dinyatakan pailit. Status kepailitan ini menutup operasional perusahaan perkebunan teh yang sebelumnya menjadi bagian penting dari sejarah panjang Sariwangi.
Posisi Unilever pascapailit
Unilever menegaskan bahwa kepailitan SAEA dan Indorub tidak berkaitan dengan operasional perseroan. Sekretaris Perusahaan Unilever Indonesia Sancoyo Antarikso pada saat itu menyatakan, Unilever telah memproduksi teh Sariwangi secara mandiri.
“Kita produksi di pabrik kita yang ada di Cikarang. Namun, sebagian juga kita lewat third factory manufacture,” ujar Sancoyo pada 2018.
Head of Corporate Communication Unilever Indonesia Maria Dewantini Dwianto juga menyampaikan bahwa Unilever sudah tidak memiliki hubungan kerja sama dengan PT Sariwangi Agricultural Estate Agency sejak awal 2018. Pemutusan kemitraan tersebut dilakukan melalui proses evaluasi rekan bisnis.
Untuk menjaga kualitas dan kontinuitas pasokan, Unilever kemudian menggandeng pemasok baru, yakni PT Agriwangi Indonesia. Dengan langkah tersebut, produksi dan distribusi teh Sariwangi tetap berjalan.
Divestasi ke Grup Djarum
Pada Rabu (7/1/2026), PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) mengumumkan pelepasan bisnis teh bermerek Sariwangi kepada PT Savoria Kreasi Rasa, entitas usaha yang terafiliasi dengan Grup Djarum.
Pengalihan bisnis tersebut ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Pengalihan Bisnis (Business Transfer Agreement/BTA) yang telah dilakukan pada Selasa (6/1/2026).
Nilai transaksi penjualan bisnis Sariwangi disepakati sebesar Rp 1,5 triliun di luar pajak. Berdasarkan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, penyelesaian transaksi ditargetkan rampung pada 2 Maret 2026.
Manajemen Unilever menyatakan transaksi divestasi ini tidak memberikan dampak material terhadap kegiatan operasional, hukum, maupun kelangsungan usaha perseroan.
Dengan pengalihan tersebut, kepemilikan dan pengelolaan bisnis teh bermerek Sariwangi resmi beralih dari Unilever ke Grup Djarum, menandai babak baru dalam perjalanan merek teh yang telah hadir di Indonesia selama lebih dari enam dekade.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarangJejak Sejarah Sariwangi, Bisnis Teh yang Dilepas Unilever ke Grup Djarum
Jejak sejarah Sariwangi, bisnis teh milik Unilever Indonesia yang akan dilepas ke Grup Djarum lewat PT Savoria Kreasi Rasa senilai Rp1,5 triliun. [635] url asal
#sariwangi #bisnis-teh #unilever #grup-djarum #akuisisi-sariwangi #divestasi-unilever #teh-celup #sejarah-sariwangi #unilever-indonesia #savoria-kreasi-rasa #penjualan-sariwangi #teh-indonesia #industr
(Bisnis.Com - Market) 07/01/26 13:53
v/96091/
Bisnis.com, JAKARTA – Raksasa FMCG Tanah Air PT Unilever Indonesia Tbk. (UNVR) tengah dalam tahap melepas lini bisnis teh bermerek Sariwangi ke pelukan Grup Djarum. Penandatanganan pengalihan bisnis telah dilakukan dan kini Unilever bersiap melepas merek yang telah menahun berkontribusi terhadap pendapatan perseroan.
Divestasi bisnis itu dilakukan melalui penandatanganan Perjanjian Pengalihan Bisnis (Business Transfer Agreement /BTA) pada Selasa (6/1/2026). Penandatanganan itu dilakukan Unilever bersama pembeli, yaitu PT Savoria Kreasi Rasa, yang tidak memiliki hubungan afiliasi dengan perseroan.
Kedua belah pihak menyepakati harga senilai Rp1,5 triliun untuk mengalihkan bisnis teh Unilever. Harga divestasi ini disepakati di luar pajak yang berlaku.
“Kami yakin transaksi ini akan memperkuat posisi bisnis SariWangi untuk fase pertumbuhan berikutnya. Langkah ini sekaligus mempertajam fokus Unilever Indonesia pada segmen utama yang memiliki potensi pertumbuhan lebih tinggi dan menegaskan komitmen kami untuk menciptakan nilai berkelanjutan bagi para pemegang saham,” kata Presiden Direktur Unilever Benjie Yap dalam keterbukaan informasi, Rabu (7/1/2026).
Manajemen Unilever menegaskan bahwa transaksi ini tidak akan memberikan dampak material terhadap kegiatan operasional maupun kelangsungan usaha Unilever. Nantinya, penyelesaian transaksi direncanakan terlaksana pada 2 Maret 2026.
Sebaliknya, penjualan bisnis teh itu dinilai memungkinkan Unilever untuk merealisasikan nilai investasinya dalam bisnis teh di Tanah Air dan mengembalikan nilai tersebut kepada para pemegang saham dalam jangka pendek.
“Serta berfokus pada bisnis inti perseroan yang tersisa guna meningkatkan nilai bagi para pemegang saham dalam jangka panjang,” katanya.

Jejak Sejarah Akuisisi Sariwangi oleh Unilever
Jauh pada era sekitar 1989, Unilever semula mengakuisisi Sariwangi dari pelukan pendiri awalnya, PT Sariwangi Agricultural Estate Agency. Ketertarikan Unilever kepada Sariwangi, dapat dilacak pada kepopuleran Sariwangi itu sendiri pada era 1973.
Saat itu, Sariwangi yang merupakan merek lokal Tanah Air, menjadi salah satu pelopor cara baru dalam menikmati teh sebagai minuman. Masyarakat Indonesia saat itu menganggap penggunaan teh daun sebagai bahan baku minuman, tidak praktis dalam penyajian.
Pada 1973, Sariwangi muncul dengan inovasi teh celup pertamanya. Ide mengubah format masyarakat dalam menikmati minuman teh, baru muncul di benak Sariwangi setelah belasan tahun lamanya berdiri. Metode itu akhirnya membuat kian wangi nama Sariwangi di kalangan masyarakat Indonesia.
Johan Alexander Supit, pria asal Sulawesi Utara, menjadi orang di balik berdirinya nama Sariwangi. Kembali sekitar 1964, Johan mendirikan PT Sariwangi berkat pengalamannya bekerja di sejumlah perusahaan perkebunan teh, seperti Peek, Frean & Co. Ltd atau Joseph Tetley & Company.
Bahkan, pada 1985, Sariwangi dilaporkan telah mengekspor produknya ke sejumlah negara lain, seperti AS, Australia, Inggris, Timur Tengah, atau Rusia.
Kian besarnya perusahaan milik Johan, mengundang ketertarikan bagi Unilever. Dalam situsnya, Unilever secara resmi mengakuisisi merek Sariwangi pada 1989. Meskipun begitu, Johan masih menjalankan bisnis tehnya, dengan menciptakan sejumlah merek baru.
Johan menggunakan hasil penjualan merek Sariwangi untuk membeli lahan pabrik di Citeureup, Jawa Barat pada 1990. Dua tahun berselang, pabrik lainnya dibangun PT Sariwangi AEA di Gunung Putri, Bogor. Pada 2002, seluas 4.000 hektare kebun teh juga dibeli oleh Johan.
Sayangnya, pada 2015, PT Sariwangi AEA terjerat utang. Dalam penelitian berjudul "Penyebab Kebangkrutan PT Sariwangi dan Analisisnya", pailitnya Sariwangi AEA saat itu dapat dilacak dari rencana ekspansi bisnis Sariwangi dengan perkebunan teh afiliasi perusahaan. Saat itu, modal senilai lebih dari Rp1 triliun diajukan Sariwangi kepada sejumlah kreditur.
Setelah sejumlah upaya restrukturisasi dilakukan, Majelis Hakim Pengadilan Niaga Jakarta Pusat memutuskan Sariwangi dan perkebunan teh afiliasi, PT Maskapai Perkebunan Indorub Sumber Wadung, pailit pada 16 Oktober 2018.
Kehadiran Sariwangi pada periode setelah perusahaan milik Johan pailit, akhirnya dijalankan sepenuhnya oleh Unilever yang telah mengakuisisi merek Sariwangi sejak 1989.
Namun, kini Unilever tengah dalam tahap melepas bisnisnya ke Grup Djarum, PT Savoria Kreasi Rasa. Artinya, 36 tahun perjalanan Unilever bersama Sariwangi, bakal berakhir pada tahun ini.
_______
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
#50 tag sepekan
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56