Bisnis.com, JAKARTA — Fenomena iklim La Nina yang memengaruhi cuaca global sejak tahun lalu diperkirakan akan melemah dan lenyap pada beberapa bulan mendatang. Perkembangan ini bakal membawa iklim di Samudra Pasifik ke level netral di sekitar April.
US Climate Prediction Center memproyeksikan kondisi Pasifik akan tetap netral sepanjang musim panas di belahan Bumi Utara. La Nina, yang terbentuk ketika suhu permukaan di Pasifik ekuator mendingin dan diikuti respons atmosfer, umumnya mencapai puncak pada Desember–Januari sebelum melemah.
Pusat iklim tersebut menyatakan telah melihat tanda-tanda penurunan intensitas La Nina, baik dari menghangatnya suhu laut maupun melemahnya perubahan atmosfer. La Nina biasanya berkorelasi dengan musim dingin yang lebih dingin di wilayah utara Amerika Serikat, seperti yang terjadi tahun ini.
Mengutip Bloomberg, kondisi netral berpotensi bergeser menjadi El Nino pada periode September hingga November, ketika suhu Pasifik kembali menghangat. Perubahan ini signifikan bagi musim badai Atlantik karena El Nino meningkatkan wind shear atau geseran angin yang dapat melemahkan pembentukan badai di kawasan Karibia.
Fenomena tersebut kerap memberikan jeda dalam musim badai selama enam bulan yang dimulai pada 1 Juni. Dalam beberapa tahun terakhir, El Nino bahkan beberapa kali hampir menghentikan perkembangan badai di Atlantik barat.
Meski indikator awal menunjukkan pelemahan La Nina, terdapat catatan penting. Pada periode yang dikenal sebagai “spring barrier”, prakiraan kondisi Pasifik cenderung memiliki tingkat ketidakpastian tinggi dan akurasinya baru meningkat sekitar Juni. “Ketidakpastian model masih cukup besar dan prakiraan pada periode ini biasanya memiliki akurasi lebih rendah,” tulis pusat iklim tersebut.
Dengan proyeksi kondisi netral setidaknya hingga September, kecil kemungkinan Pasifik akan memainkan peran dominan dalam pola cuaca musim panas di belahan Bumi Utara.
Sementara itu dari dalam negeri, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melaporkan bahwa Indonesia masih berada pada periode puncak musim hujan. BMKG memprediksi curah hujan umumnya berada pada kategori rendah hingga tinggi pada Februari 2026. Curah hujan sangat tinggi berpeluang terjadi di Jawa Barat, Jawa Tengah, Nusa Tenggara Timur (NTT), dan Sulawesi Selatan.
Sementara itu, pada Maret 2026, hujan diperkirakan berada pada kategori menengah hingga tinggi, dengan potensi hujan sangat tinggi di Jawa Barat, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, dan Papua Tengah.
Selama periode Hari Raya Idulfitri, sejumlah fenomena atmosfer diprediksi masih aktif, antara lain Monsun Asia, Madden-Julian Oscillation (MJO), gelombang atmosfer, serta potensi bibit siklon atau siklon tropis khususnya di wilayah selatan Indonesia.
BMKG mengingatkan adanya potensi peningkatan intensitas curah hujan terutama pada minggu keempat Februari hingga minggu kedua Maret 2026.
Untuk periode 1–31 Maret 2026, kondisi cuaca diperkirakan didominasi berawan hingga hujan sedang. Perinciannya, 1–10 Maret 2026 didominasi hujan ringan hingga sedang, dengan peluang hujan lebat di Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Papua Tengah, dan Papua. Kemudian pada 11–20 Maret dan 21–30 Maret 2026, cuaca relatif serupa dan didominasi hujan ringan hingga sedang.
Pada Maret 2026, potensi pertumbuhan awan Cumulonimbus (CB) perlu diwaspadai di kawasan Sumatra Barat, Samudra Hindia, Kalimantan, Sulawesi, NTT, Maluku, Papua hingga Pasifik Utara.
Dampak yang dapat ditimbulkan antara lain turbulensi dan petir pada rute penerbangan, serta hujan lebat, badai guntur, wind gust, dan wind shear di area bandara (aerodrome).
BMKG juga mengingatkan potensi banjir rob pada Maret 2026 akibat kombinasi fase Bulan Baru pada 19 Maret 2026 dan fase Perigee pada 22 Maret 2026 yang dapat meningkatkan ketinggian pasang air laut. Wilayah pesisir Indonesia diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi genangan.