Bisnis.com, JAKARTA — Equinix Indonesia mengungkap alasan lebih memilih wilayah pusat Jakarta untuk pembangunan pusat data (data center) atau data center in-town dibandingkan wilayah sub urban seperti Cikarang atau Cibitung yang selama ini dikenal sebagai kantong industri pusat data berskala besar.
Pada tahun lalu, perusahaan bekerja sama dengan Astra International membangun fasilitas data center International Business Exchange (IBX) JK1 di kawasan pusat Jakarta.
Managing Director Equinix Indonesia Haris Izmee mengatakan, keputusan memilih lokasi di Central Jakarta didasarkan pada karakter bisnis Equinix yang berfokus pada retail data center dan interkoneksi ekosistem digital, bukan pada model hyperscale data center yang mengandalkan kapasitas daya besar per megawatt.
Menurutnya, dalam industri data center terdapat dua tipe utama, yakni hyperscaler data center yang berorientasi pada kapasitas besar per megawatt, dan retail data center yang lebih kecil tetapi berfungsi sebagai simpul ekosistem interkoneksi.
“Jadi kalau kami di equinix itu, lebih dari 80% pendapatan kami itu dari pusat data ritel. Betapa kecilnya sebagian kecil pendapatan kami yang berasal dari hyperscaler,” kata Haris dalam acara media luncheon eksklusif Equinix Indonesia di Jakarta pada Selasa (3/2/2026).
Oleh sebab itu, Haris menegaskan strategi ekspansi perusahaan difokuskan pada pembangunan data center yang berada dekat dengan pusat lalu lintas internet karena faktor interkoneksi menjadi alasan utama pelanggan memilih Equinix.
Konsep tersebut dinilai mampu menghadirkan ekosistem interkoneksi yang menjadi nilai tambah utama bagi model retail data center yang dijalankan perusahaan.
Dia menambahkan, pemilihan lokasi JK1 di Central Jakarta juga didasari kedekatannya dengan gedung Cyber 1 di kawasan Kuningan yang dikenal sebagai titik internet exchange terbesar di Indonesia, sehingga dinilai strategis untuk mendukung kebutuhan latency rendah bagi pelanggan.
Menurutnya, kedekatan tersebut penting untuk memastikan latensi rendah bagi pelanggan yang mengandalkan koneksi langsung ke internet exchange dan ekosistem mitra yang terkoneksi di fasilitas tersebut.
“Jadi itulah alasan mengapa secara strategis kita mengambil keputusan, kita harus membuka terdekat sedekat mungkin, dengan Cyber 1, karena latensi itu sangat penting bagi pelanggan kami,” katanya.
Haris juga mengungkap lima tren utama yang kini terlihat di industri data center Indonesia, yakni kenaikan power density per kabinet akibat kebutuhan AI, pergeseran ke arsitektur active-active untuk meningkatkan ketahanan sistem, meningkatnya tuntutan data residency, kebutuhan AI inference di dalam negeri, serta adopsi hybrid multi-cloud.
Menurutnya, fasilitas data center di Indonesia mulai beralih dari model co-location tradisional dengan kepadatan daya rendah menuju fasilitas yang mampu menampung higher density workloads.
Dia mengatakan, kebutuhan daya per kabinet yang sebelumnya berkisar 2–3 kilowatt kini meningkat signifikan seiring pemanfaatan AI dan analitik oleh pelanggan.
Selain itu, dia menyebut hampir seluruh pelanggan yang ditemui Equinix kini sangat memperhatikan kepatuhan terhadap data residency, di mana data harus tetap berada di Indonesia, meskipun pemanfaatan fitur keamanan dan AI dapat dilakukan melalui cloud di luar negeri.
“Hampir setiap pelanggan yang kami temui, semua bilang bagaimana nih bagaimana datanya di Indonesia. Tapi kami bisa menggunakan fiturnya yang engga ada di Indonesia,” katanya.
Geliat Data Center
Di sisi lain, Ketua IDPRO Hendra Suryakusuma menilai geliat pembangunan data center di pusat kota masih sangat intens, didorong oleh kebutuhan latensi rendah, regulasi domestikasi data, dan pertumbuhan layanan digital.
Namun, Hendra memprediksi dalam jangka menengah hingga panjang, tren pembangunan akan bergeser ke wilayah sub urban karena keterbatasan lahan, energi, dan mahalnya harga tanah di Jakarta.
“Kita juga tidak bisa mengabaikan bahwa dalam mungkin jangka menengah, menengah itu artinya 3–5 tahun ya, hingga panjang itu 10 tahun, akan terjadi pergeseran ke arah sub urban atau daerah luar kota ya,” kata Hendra kepada Bisnis.
Dia menyebut wilayah seperti Bekasi, Karawang, Tangerang, hingga kawasan ekonomi khusus seperti Nongsa Digital Park di Batam menjadi magnet baru pembangunan hyperscale data center.
Meski demikian, Hendra menilai model hybrid kemungkinan akan menjadi pola dominan dalam pengembangan data center di masa depan. Artinya, pemain besar akan tetap memiliki fasilitas di pusat kota untuk memenuhi kebutuhan latensi rendah dan compliance, sementara pembangunan dalam skala besar akan diarahkan ke wilayah sub urban.
Beberapa proyek hyperscale pun sudah mulai terlihat di kawasan industri seperti di Deltamas, Surya Cipta, Cibitung, dan Jababeka. Hendra mencontohkan, Damac Digital bahkan membangun fasilitas keduanya di Deltamas dengan kapasitas mencapai 200 megawatt (MW).
Sementara itu, untuk data center in-town, di Jakarta sendiri saat ini terdapat sekitar 25 pemain data center yang membangun fasilitas in-town, seperti DCI, SM+, Damac Digital, hingga Equinix.
Hendra memperkirakan kapasitas daya (power capacity) pusat data di Indonesia meningkat hampir dua kali lipat dalam dua hingga tiga tahun terakhir. Namun, di tengah pesatnya pertumbuhan ini, isu keberlanjutan (sustainability) menjadi perhatian utama IDPRO.
“Paling concern kami adalah sustainability. Karena hampir semua anggota kami ini menggunakan energi dari batubara ya karena PLN pun masih banyak pakai batubara,” ujarnya.
Meski demikian, IDPRO tetap berkomitmen untuk mendukung pertumbuhan ekosistem data center yang berkelanjutan, kompetitif, dan memperkuat kedaulatan digital nasional.
“Kami tetap berkomitmen untuk mendukung pertumbuhan ekosistem data center ini tetap sustainable, kompetitif dan juga ingin tercapai terjadinya kedaulatan digital kita,” tegas Hendra.
Dia pun menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, industri, dan penyedia teknologi agar Indonesia dapat menjadi pusat data center di Asia Tenggara.
“Karena saya yakin Indonesia sebenarnya bisa menjadi hub untuk data center di Asia Tenggara ya selama dukungan dari pemerintah juga luar biasa baiknya,” pungkasnya.