Bisnis.com, JAKARTA — Harga obat-obatan di Indonesia masih tergolong tinggi, salah satunya disebabkan oleh beban impor dan belum efisiennya rantai pasok dari bahan baku hingga produk jadi.
Ekonom LPEM Universitas Indonesia Teuku Riefky mengatakan beberapa komponen biaya seperti cukai impor dan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang dikenakan pada sejumlah produk turut memperberat harga jual akhir di tingkat konsumen.
Selain itu, lanjutnya, infrastruktur logistik yang belum optimal juga menjadi hambatan tersendiri dalam distribusi bahan baku obat hingga ke tangan masyarakat.
"Jalur distribusi yang panjang dan biaya transportasi yang tinggi membuat belum efisien, sehingga harga obat juga cenderung mahal," ujarnya kepada Bisnis dikutip, Minggu (19/10/2025)
Menurutnya untuk mengatasi persoalan ini, diperlukan langkah deregulasi dan reformasi struktural di sektor farmasi agar rantai pasok lebih efisien dan biaya produksi dapat ditekan.
Selain itu, kolaborasi antara industri dan lembaga riset menjadi langkah strategis untuk memperkuat kemandirian bahan baku obat dalam negeri. Dengan dukungan riset yang kuat, Indonesia berpotensi menghasilkan bahan baku obat yang terjangkau dan berkualitas, sehingga tidak lagi terlalu bergantung pada impor.
"Persoalan struktural utama tersebut harus dibenahi untuk menekan inflasi kesehatan," tekannya.
Sementara itu, Pengamat dari Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda menjelaskan inflasi kesehatan di Indonesia saat ini lebih banyak disebabkan oleh ketergantungan industri medis lokal terhadap bahan baku impor.
Bahkan berdasarkan data yang ada, inflasi kesehatan hanya kalah dibandingkan inflasi bahan makanan dan juga jasa perawatan. Hampir 90 % bahan baku farmasi Indonesia disediakan melalui mekanisme impor.
Celakanya, lanjutnya, nilai tukar rupiah terhadap dolar terus melemah yang menyebabkan harga bahan baku dan juga alat-alat medis juga meningkat. Alhasil ini berdampak pada harga layanan kesehatan yang juga meningkat.
Dia berpendapat penyediaan bahan baku dan alat medis tentu bukan strategi yang cepat diterapkan, bahkan hanya bisa dilakukan di strategi jangka panjang.
"Inovasi dan teknologi di bidang medis harusnya menjadi perhatian khusus pemerintah," terangnya.
Kerja sama dengan produsen bahan baku dan mesin dari luar negeri untuk berinvestasi di Indonesia. Kemudian, lanjutnya dalam jangka pendek, pemerintah wajib memberikan perlindungan kesehatan bagi warga yang membutuhkan agar kenaikan inflasi dari sisi demand bisa diredam.
"Perkuat BPJS Kesehatan dengan memfokuskan pada aspek perlindungan kesehatan bagi kelas menengah dan bawah. Tutup kebocoran-kebocoran yang terjadi di BPJS agar mereka tidak merugi," tegasnya.