Bisnis.com, JAKARTA - Penutupan Ramadan Runway 2026 menjadi momen yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Tidak hanya menampilkan tren busana terbaru, panggung closing ceremony justru menghadirkan parade mode yang mengangkat karya para desainer legendaris Indonesia.
Selama berlangsung pada 5—29 Maret 2026, ajang kolaborasi APPMI DKI Jakarta dan Kota Kasablanka ini diikuti lebih dari 70 peserta pameran dan mencatatkan omzet Rp7,9 miliar. Meski sedikit menurun dibanding tahun lalu, capaian ini dinilai masih positif di tengah kondisi ekonomi global yang menantang.
Ketua APPMI DKI Jakarta, Dana Duriyatna, mengatakan penurunan tersebut tidak terlalu signifikan dan justru menunjukkan industri fashion tetap bergerak.
“Di tengah kondisi geopolitik global yang berdampak pada perekonomian dalam negeri, penurunan omzet yang tidak jauh dari tahun sebelumnya menandakan industri fashion masih menggeliat,” ujarnya.
Pihaknya optimistis fashion bisa terus berkontribusi terhadap perekonomian, termasuk pada Produk Domestik Bruto.
Salah satu sorotan utama dalam ajang ini adalah parade mode yang didedikasikan untuk para desainer legendaris. Karya-karya dari Hengki Kawilarang, Handy Hartono, Sikie Purnomo, hingga Ramli Kartowidjojo kembali ditampilkan di atas panggung.
Selain itu, ada juga karya dari Anne Rufaidah, Raizal Rais, Harry Ibrahim, Marga Alam, Eddy P Chandra, Tari Made, Arthur Harlan, dan Jondri Erman.
Parade mode gelaran persembahan mendiang desainer legendaris Indonesia tersebut, sambung Dana, merupakan lonceng pengingat bagi seluruh ekosistem fashion Tanah Air kalau Indonesia pernah memiliki perancang mode terbaik, punya keunikan, dan memiliki legacy.
Tidak mudah bagi APPMI DKI Jakarta selaku penyelenggara dalam mencari koleksi para desainer tersebut. “Cukup sulit mencari koleksi para desainer legendaris Indonesia tersebut. Kami bahkan harus meminjam kepada Mien R Uno untuk koleksi Ramli dan Marga Alam. Lalu, untuk koleksi Sikie Purnomo meminjam kepada Vina Panduwinata, kemudian koleksi Handy Hartono lantas meminjam dari mantan Konjen RI di Huoston, Rika Siregar,” tandas Dana.
Selain menampilkan gegap gempita perayaan tentang busana, lanjut Dana, titian peraga tetap harus menyisakan ruang terhadap kontribusi besar dari mendiang orang di balik layar, termasuk sang desainer agar karyanya tetap abadi. Gelaran Ramadan Runway menjadi salah satu tempat terbaik dengan momentum paling cocok dalam mengenang karya besar para desainer legendaris Indonesia.
Melalui parade ini, Ramadan Runway tidak hanya menampilkan busana, tetapi juga merawat warisan. Karya para desainer yang telah tiada kembali dihidupkan, sekaligus menjadi inspirasi bagi generasi baru di industri fashion Indonesia.