#30 tag 24jam
Kalaidoskop 2025: Deretan Aksi Divestasi Emiten, dari RAJA hingga Waskita (WSKT)
Sepanjang 2025, sejumlah emiten seperti RAJA, WIFI hingga WSKT melakukan divestasi untuk optimalisasi portofolio dan restrukturisasi bisnis. [1,633] url asal
#divestasi-emiten #divestasi-saham #divestasi-raja #divestasi-wskt #divestasi-soho #divestasi-bbkp #divestasi-wifi #divestasi-hdit #divestasi-excl #divestasi-apln #divestasi-ptpp #restrukturisasi-wskt
(Bisnis.Com - Market) 29/12/25 13:15
v/87309/
Bisnis.com, JAKARTA – Sejumlah perusahaan tercatat di lantai bursa melakukan aksi divestasi atau pelepasan kepemilikan saham anak usaha. Sepanjang 2025 ini, emiten yang melakukan aksi korporasi ini antara lain ada PT Rukun Raharja Tbk. (RAJA) hingga PT Waskita Karya (Persero) Tbk. (WSKT).
Melansir data dari keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), divestasi anak usaha tersebut dilakukan dengan tujuan beragam, mulai dari optimalisasi portofolio usaha, untuk membawa anak usaha melantai di bursa, hingga langkah restrukturisasi.
Januari-Maret 2025: Divestasi Bertahap RAJA
Mengawali 2025, pada 8 Januari ada PT Rukun Raharja Tbk. (RAJA) yang resmi melepas 13% kepemilikan sahamnya pada PT Raharja Energi Cepu Tbk. (RATU) untuk dilepas ke publik. Saat IPO, RATU menawarkan sebanyak-banyaknya 543,01 juta saham (20%) kepada publik, terdiri dari 352,95 (13%) juta saham milik RAJA dan 190,05 juta saham (7%) merupakan saham baru.
Berikutnya, pada 5 Maret 2025 RAJA kembali melepas kepemilikan saham sebesar 4,66% dalam RATU atau sebanyak 126,52 juta saham. Usai transaksi divestasi ini, kepemilikan saham RAJA menjadi 75,34%. Kemudian, pada 17 Maret 2025 RAJA kembali melakukan divestasi atas 5,34% kepemilikan saham di RATU. Kali ini, kepemilikan RAJA terdilusi menjadi 70% namun tetap berstatus sebagai pemegang saham utama.
Corporate Secretary Rukun Raharja, Yuni Pattinasarani mengatakan divestasi tersebut sejalan dengan rencana perseroan yang melepas secara bertahap 10% saham kepemilikan RATU usai anak usahanya tersebut tercatat di lantai bursa.
"Pelepasan saham RATU menjadi salah satu strategi perseroan untuk mendukung pertumbuhan anak perusahaannya itu lewat sinergi bisnis dan kolaborasi strategis. Selain itu, perseroan tetap berkomitmen untuk menjaga operasional dan keuangan RATU dengan terus memberikan arahan strategis yang selaras dengan visi jangka panjang perusahaan, dan memastikan RATU terus berkembang dalam ekosistem industri energi yang semakin kompetitif," ujar Yuni beberapa waktu lalu.
Mei-Juli 2025: SOHO & BBKP Lepas Anak Usaha
Pada 22 Mei 2025, emiten kesehatan PT Soho Global Health Tbk. (SOHO) menjual seluruh saham kepemilikannya di anak usaha PT Soho Industri Pharmasi (PT SIP) pada PT AstraZeneca Indonesia dengan nilai US$1,84 juta, atau setara Rp30,86 miliar (kurs Rp16.772,30 per dolar AS).
Direktur dan Sekretaris Perusahaan Soho Global Health Yuliana mengungkapkan transaksi divestasi saham itu tidak memberikan dampak material terhadap kegiatan operasional, posisi hukum, kondisi keuangan, maupun kelangsungan usaha SOHO maupun PT SIP.
“Hasil transaksi ini akan dicatat sebagai pendapatan non- operasional perseroan.” ujarnya.
Kemudian, pada 1 Juli 2025 emiten bank PT Bank KB Bukopin Tbk. (BBKP) menandatangani perjanjian jual beli saham dengan perusahaan keuangan asal Korea Selatan, JB Woori Capital untuk melepas 85% kepemilikan saham BBKP dalam anak usahanya, PT KB Bukopin Finance.
Manajemen menjabarkan, divestasi tersebut merupakan langkah strategis yang ditempuh SOHO dalam rangka memperkuat struktur permodalan, serta sebagai bagian dari upaya optimalisasi portofolio entitas anak usaha agar sejalan dengan fokus pengembangan bisnis utama perseroan.
September 2025: WIFI Lepas 3 Anak Usaha, WSKT Restrukturisasi
Pada 24 September 2025 PT Solusi Sinergi Digital Tbk. (WIFI) mengumumkan divestasi atas tiga anak usaha. Pertama, anak usaha perseroan PT Integrasi Media Terkini (PT ITM). Melalui perjanjian jual beli saham 19 September 2025 dan 24 September 2025, WIFI mengalihkan sahamnya kepada PT Investasi Gemilang Maju (IMG) dengan nilai Rp599 juta. Tidak ada hubungan afiliasi antara WIFI dengan IGM selaku pembeli.
Kedua, anak usaha WIFI, PT Kreasi Digital (KKD) juga melakukan divestasi anak usahanya PT Inti Kopi Indonesia (IKI). KKD mengalihkan sahamnya kepada PT Investasi Gemilang Maju (IGM) dengan nilai transaksi Rp594 juta.
Ketiga, WIFI juga melakukan divestasi saham pada anak usaha, PT Aspek Media Indonesia (AMI). Berdasarkan perjanjian jual beli saham yang dibuat pada tanggal 19 September
2025 dan 24 September 2025, perseroan mengalihkan seluruh sahamnya kepada PT Investasi Gemilang Maju (IGM) senilai Rp599 juta.
Sementara itu, pada 26 September 2025, PT Waskita Karya (Persero) Tbk. (WSKT) mengumumkan bahwa anak usahanya, PT Waskita Karya Infrastruktur (PT WKI) mengalihkan kepemilikannya atas 111.824 saham atau 94,7% saham PT Waskita Sangir Energi (PT WSE) kepada PT Shalawat Power (PT SP) dengan nilai Rp179,99 miliar.
WSKT merupakan induk PT WKI dengan kepemilikan 99,99%. Sementara PT SP merupakan perusahaan dengan kepemilikan saham sebesar 6.264 saham atau 5,30% pada PT WSE.
"Dengan dilakukan divestasi tersebut diharapkan akan memberikan dampak yang lebih baik bagi kondisi keuangan WKI. Elaborasi divestasi saham yang dilakukan WKI dilakukan dalam rangka restrukturisasi perusahaan secara menyeluruh demi menjaga keberlanjutan kegiatan operasional Grup Waskita," tulis manajemen.
Semarak Divestasi Akhir Tahun HDIT sampai EXCL
Memasuki kuartal IV 2025 jumlah perusahaan terbuka yang mengumumkan divestasi semakin banyak. Berdasarkan keterbukaan informasi BEI, setidaknya ada lima emiten, mulai dari HDIT sampai EXCL.
Pada 21 November 2025, ada PT Hensel Davest Indonesia Tbk. (HDIT) yang mengumumkan telah melakukan transaksi pelepasan seluruh kepemilikan saham perseroan pada entitas anak, yaitu PT Doeku Peduli Indonesia (DPI) dengan nilai transaksi sebesar Rp18,50 miliar. Dengan terlaksananya transaksi tersebut, Perseroan tidak lagi memiliki hak kepemilikan maupun pengendalian terhadap PT Doeku Peduli Indonesia.
Manajemen menjelaskan, transaksi ini dilakukan sebagai bagian dari penataan portofolio usaha dan strategi HDIT dalam meningkatkan fokus pada lini bisnis inti serta optimalisasi struktur usaha perseroan. Transaksi divestasi ini juga tidak menimbulkan dampak negatif yang signifikan terhadap kegiatan operasional, kondisi hukum, maupun kelangsungan usaha perseroan.
"Dari sisi keuangan, transaksi ini memberikan tambahan likuiditas serta fleksibilitas bagi perseroan dalam mendukung kegiatan usaha ke depan. Perseroan memastikan bahwa transaksi ini tidak mengganggu kemampuan perseroan dalam memenuhi kewajiban finansial maupun operasional," tulis manajemen.
Kedua, ada PT M Cash Integrasi Tbk. (MCAS) yang pada 25 November 2025 melepas kepemilikan sahamnya dalam PT Satu Buat Negeri (SBN) kepada PT Digital Mediatama Maxima Tbk. (DMMX) dan PT Digital Consumer Engagement (DCE).
Perinciannya, perseroan menjual kepemilikan sahamnya pada PT SBN sebanyak 32.330 saham atau setara 32,33% kepemilikannya dengan nilai Rp6,78 miliar kepada DMMX. Selain itu, perseroan juga menjual kepemilikan sahamnya dalam PT SBN sebanyak 1.000 saham atau setara 1% kepemilikannya dengan nilai Rp210 juta kepada PT DCE.
Ketiga, ada PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk. (EXCL). Perseroan pada 4 Desember 2025 melaporkan telah menjual seluruh kepemilikan sahamnya di PT Mora Telematika Indonesia Tbk. (MORA) dengan melepas sebanyak 4,33 miliar lembar saham.
Sekretaris Perusahaan EXCL Ranty Astari Rachman menyebut, perseroan telah menjual seluruh sahamnya di MORA dengan harga transaksi sebesar Rp432 per saham. Dengan demikian, EXCL meraup dana segar senilai Rp1,87 triliun.
Adapun, jumlah saham MORA yang dikempit EXCL sebelum transaksi adalah sebanyak 4,33 miliar lembar atau sebesar 18,32% dari jumlah saham ditempatkan dan disetor penuh MORA. Dengan demikian, setelah transaksi tersebut terjadi, EXCL tidak lagi memiliki porsi saham langsung di MORA.
"Tujuan dari penjualan seluruh saham MORA tersebut adalah divestasi dengan status kepemilikan langsung," ujar Ranty.
Keempat, ada PT Agung Podomoro Land Tbk. (APLN) yang pada 11 Desember 2025 menandatangani dokumen perjanjian jual beli atas 100% kepemilikan sahamnya di dalam PT Karya Pratama Propertindo kepada PT Puri Dibya Property dan PT Hartons Property Development.
Manajemen mengatakan transaksi tersebut memiliki dampak positif terhadap kegiatan operasional dan kondisi finansial perseroan di mana secara keuangan akan menambah posisi kas perseroan untuk mendukung operasional dan pengembangan usaha perseroan serta akan mengurangi beban utang perseroan.
Kelima, ada WSKT yang melanjutkan langkah restrukturisasinya. Pada 28 November 2025, WSKT melalui anak usahanya, PT Waskita Toll Road telah melepas saham PT Cimanggis Cibitung Tollways kepada PT Bakrie Toll Indonesia senilai Rp3,28 triliun.
Aksi korporasi ini meliputi penerimaan pengembalian shareholder loan dari PT Cimanggis Cibitung Tollways (CCT) senilai Rp1,92 triliun, pengalihan saham CCT kepada PT Bakrie Toll Indonesia (BTI) Rp388,89 miliar, dan pengalihan piutang senilai Rp970,75 miliar.
Manajemen Waskita menyatakan bahwa aksi korporasi ini menjadi bagian penting dari strategi restrukturisasi dan transformasi bisnis. Selain itu, langkah tersebut juga memperkuat strategi perseroan untuk kembali ke bisnis inti.
“Dana hasil divestasi akan menambah likuiditas, sekaligus arus kas bagi operasional perseroan,” tulis manajemen.
Pada 19 Desember 2025, anak usaha WSKT, PT Waskita Karya Realty (PT WKR) juga menjual 82.674 saham atau setara 20% dari seluruh kepemilikannya di PT Waskita Modern Realty (PT WMR) kepada PT Asthana Griya Permasindo (PT AGP) dengan nilai Rp90,12 miliar.
WKR adalah anak usaha yang dimiliki WSKT dengan kepemilikan saham 99,99%. Divestasi Saham di WMR dilakukan dengan tujuan untuk melakukan optimalisasi portofolio investasi WSKT dan memperkuat posisi likuiditas WKR, guna mendukung pengembangan proyek-proyek strategis serta memberikan nilai tambah bagi WKR, WSKT dan para pemangku kepentingan terkait.
"Aksi korporasi ini menjadi bagian penting dari strategi restrukturisasi dan transformasi bisnis perseroan dan semakin memperkuat strategi perseroan untuk melakukan streamlining kepada entitas anak usaha demi menciptakan kegiatan operasional yang sustainable," ujar manajemen.

PTPP Umumkan Rencana Divestasi
Tidak hanya divestasi yang selesai, pada Desember 2025 juga terdapat emiten yang mengumumkan rencana aksi korporasi mereka. Emiten konstruksi pelat merah, PT PP (Persero) Tbk. (PTPP) mengumumkan rencana pelepasan dua anak usaha.
Pertama, PTPP akan melepas 47,81% kepemilikan sahamnya di PT Celebes Railway Indonesia kepada PT Solra Energi Terbarukan (PT SET) dengan nilai transaksi mencapai Rp282,1 miliar. Kedua, rencana untuk divestasi 81% saham di PT PP Infrastruktur (PPIN) kepada PT Varsha Zamindo Laksana senilai Rp1,41 triliun. Langkah divestasi dengan total nilai transaksi Rp1,69 triliun ini merupakan bagian dari Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP) 2025–2029.
Direktur Strategi Korporasi dan HCM PTPP, I Gede Upeksa Negara, menjelaskan bahwa saat ini rencana divestasi PT Celebes Railway Indonesia masih dalam tahap pemenuhan persyaratan pendahuluan (condition precedent/CP) yang tertuang dalam perjanjian jual beli saham bersyarat atau conditional share purchase agreement (CSPA). Sedangkan untuk divestasi PPIN, prosesnya juga dalam tahap pemenuhan CP serta uji tuntas lanjutan.
“Prosesnya masih cukup banyak yang harus diselesaikan untuk bisa masuk ke penandatangan SPA [share purchase agreement]. Kami perkirakan di triwulan pertama tahun depan,” ujarnya dalam konferensi pers usai Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) di Jakarta, Kamis (18/12/2025).
________
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Rukun Raharja (RAJA) Cetak Pendapatan Rp3,26 Triliun per Kuartal III/2025
Emiten migas terafiliasi Happy Hapsoro PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) mencatat pendapatan Rp3,26 triliun pada kuartal III/2025, naik dari tahun sebelumnya. [506] url asal
#raja-pendapatan #rukun-raharja #pendapatan-kuartal-iii #laba-bersih-raja #divestasi-raja #capital-expenditure-raja #akuisisi-hafar-group #proyek-epci-ubadari #kompresor-sengkang #pipa-bbm-tanjung-batu
(Bisnis.Com - Market) 03/12/25 14:01
v/59319/
Bisnis.com, JAKARTA – Emiten migas terafiliasi pengusaha Happy Hapsoro, PT Rukun Raharja Tbk. (RAJA) membukukan pendapatan US$196 juta, atau setara Rp3,26 triliun (kurs Rp16.618 per dolar AS) per kuartal III/2025.
Pendapatan RAJA dalam sembilan bulan pertama 2025 itu tumbuh dibanding pendapatan US$189,7 juta pada periode yang sama 2024.
Berdasarkan laporan keuangan perseroan, pendapatan tersebut terdiri dari pendapatan pihak ketiga sebesar US$190,06 juta dan pendapatan dari pihak berelasi US$5,98 juta.
Bila dibedah, pendapatan dari pihak ketiga paling besar disumbang dari segmen penjualan gas yang mencapai US$106,40 juta, lifting minyak dan gas US$37,61 juta, jasa penyaluran minyak dari kerja sama operasi US$25,75 juta, hingga segmen operasi dan pemeliharaan US$4,90 juta.
Sementara itu, beban pokok pendapatan yang ditanggung RAJA per kuartal III/2025 sebesar US$139,76 juta, meningkat dibanding US$138,24 juta pada periode yang sama 2024.
Dari sisi bottom line, laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk atau laba bersih tercatat sebesar US$17,75 juta, menyusut dibanding US$19,37 juta pada periode yang sama 2024.
Direktur Utama PT Rukun Raharja Tbk, Djauhar Maulidi menyampaikan penurunan laba bersih tersebut disebabkan oleh divestasi sebagian kepemilikan perseroan pada PT Raharja Energi Cepu Tbk. (RATU) seiring dengan pelaksanaan IPO RATU pada awal 2025.
"Langkah divestasi ini tetap berada dalam koridor strategi korporasi untuk memperkuat struktur permodalan, meningkatkan fokus pada bisnis inti, serta mendorong pertumbuhan yang lebih berkelanjutan di masa mendatang," ujarnya dalam rilis resmi, Rabu (3/12/2025).
Sementara itu, hingga kuartal III/2025 penyerapan capital expenditure (capex) RAJA mencapai US$56 juta. Penyerapan belanja modal dan investasi tersebut difokuskan pada proyek-proyek strategis perseroan, termasuk penyelesaian pembangunan kompresor di Sengkang Sulawesi Selatan, pembangunan pipa BBM Tanjung Batu–Samarinda, serta pembiayaan akuisisi Hafar Group.
Djauhar mengatakan perusahaan terus mendorong pencapaian target kinerja 2025 melalui strategi bisnis yang komprehensif, dengan fokus pada penguatan portofolio di sektor midstream sebagai motor pertumbuhan pada sisa tahun berjalan.
Sebagaimana diketahui, pada kuartal III 2025 lalu RAJA mencatat kemajuan penting dengan mengakuisisi Hafar Group, sebuah perusahaan dengan rekam jejak kuat di bidang Engineering, Procurement, Construction, and Installation (EPCI) serta jasa pelayaran lepas pantai. Akuisisi dipercaya akan semakin memperkuat posisi RAJA dalam ekspansi dan pengembangan infrastruktur gas serta layanan offshore.
Kinerja perseroan juga diproyeksikan semakin menguat seiring dengan peningkatan kontribusi dari proyek EPCI di Ubadari, Papua Barat, serta mulai beroperasinya kompresor di Sengkang, Sulawesi Selatan pada kuartal IV tahun ini. Djauhar menilai kedua inisiatif tersebut akan memperluas kapasitas bisnis midstream RAJA dan menjadi pendorong penting bagi pertumbuhan pendapatan dan profitabilitas hingga akhir 2025.
“Hingga kuartal III 2025, kinerja perseroan terus menunjukkan konsistensi dan berada dalam jalur yang sesuai dengan proyeksi kami. Dengan capaian ini, manajemen optimistis dapat menuntaskan target kinerja tahun 2025 dengan hasil yang lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya," pungkasnya.
_______
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Intip Resep Kebal Duo Saham Hapsoro RAJA & RATU Hadapi Sentimen Harga Minyak
Saham RAJA dan RATU milik Happy Hapsoro naik meski harga minyak turun, didukung aksi korporasi dan potensi masuk MSCI. Sektor energi tetap positif. [637] url asal
#saham-migas #harga-minyak #raja-saham #ratu-saham #happy-hapsoro #sentimen-harga-minyak #medc-saham #akra-saham #pgas-saham #enrg-saham #divestasi-raja #aksi-korporasi #msci-indeks #sektor-energi #reb
(Bisnis.Com - Market) 13/10/25 19:16
v/1953/
Bisnis.com, JAKARTA – Saham-saham migas Indonesia terdampak sentimen jatuhnya harga minyak dunia imbas eskalasi AS-China yang kembali memanas pada akhir pekan lalu. Namun, dua saham emiten milik Happy Hapsoro RAJA dan RATU tetap melaju walaupun saham migas lainnya seperti MEDC hingga AKRA tumbang.
Sukarno Alatas, Senior Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas, mengatakan tekanan dari sentimen harga minyak global memang menekan saham hulu migas seperti MEDC dan ENRG, sementara AKRA dan PGAS relatif lebih defensif karena diuntungkan dari biaya energi yang lebih rendah.
"Meski begitu, MEDC masih mendapat dukungan dari akuisisi blok migas baru, program buyback, dan peningkatan eksplorasi. ENRG juga mencatat kinerja solid berkat penjualan gas yang stabil, dukungan pemegang saham utama, serta rencana ekspansi wilayah kerja," kata Sukarno kepada Bisnis, Senin (13/10/2025).
Pada perdagangan Jumat (10/10/2025) lalu, harga minyak jatuh ke kisaran US$60 per barel, atau level terendah sejak Mei 2025. Sejalan dengan tren tersebut, saham migas yang turut tertekan antara lain PT Super Energy Tbk. (SURE) koreksi 1,09% ke Rp2.710, saham PT AKR Corporindo Tbk. (AKRA) turun 2,21% ke Rp1.105, dan saham PT Medco Energi Tbk. (MEDC) ditutup koreksi 2,30% ke Rp1.490.
Sementara itu, saham PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGAS) tertahan tidak berubah di Rp1.705 dan saham PT Energi Mega Persada Tbk. (ENRG) stagnan di level Rp960.
"Secara keseluruhan, meski tekanan jangka pendek tetap ada, fundamental sektor energi masih positif. Selama harga minyak bertahan di atas US$60/barel, prospek jangka menengah sektor ini tetap konstruktif dengan potensi rebound jika harga kembali menembus US$70/barel," pungkasnya.
Adapun, di saat sebagian saham migas mengakhiri pekan lalu dengan koreksi, kedua saham emiten Happy Hapsoro, PT Rukun Raharja Tbk. (RAJA) dan PT Raharja Energi Cepu Tbk. (RATU) kompak menguat signifikan. RAJA pada Jumat (10/10) ditutup naik 8,61% ke Rp5.675, sementara RATU naik 13,35% ke Rp9.975.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas M. Nafan Aji Gusta menilai faktor yang membedakan kedua saham RAJA dan RATU adalah aksi korporasi yang akhir-akhir ini gencara dilakukan perseroan.
Sebagaimana diketahui, pada Agustus lalu RAJA melakukan aksi divestasi melepas 10 juta saham RATU. Saham dilepas dengan harga transaksi Rp6.000 per saham, sehingga total nilai transaksi divestasi mencapai Rp60 miliar. Usai transaksi ini, kepemilikan RAJA berkurang menjadi 1,89 miliar saham atau 69,628% hak suara, namun tetap menjadi pengendali.
Selain divestasi ini, RAJA sebelumnya bersama dengan PT Petrosea Tbk. (PTRO) berkongsi untuk mengakuisisi 100% saham Grup Hafar untuk melebarkan sayap di bisnis sektor migas. Petrosea mengakuisisi 51% saham Grup Hafar melalui PT Petrosea Engineering Procurement Construction, sedangkan Rukun Raharja mengakuisisi 49% saham di grup Hafar.
Selain aksi korporasi, RAJA dan RATU mendapat sentimen positif dari berpeluangnya kedua saham ini berpotensi masuk dalam indeks Morgan Capital International (MSCI) pada periode rebalancing November 2025.
"Terlepas dari PE dan PBV yang premium, sejalan dengan aksi korporasi ini publik mengapresiasi," ujar Nafan.
Adapun pada penutupan perdagangan Senin (13/10/2025) saham-saham migas kembali berada di zona hijau, sejalan dengan eskalasi AS-China yang mereda usai Trump pada Minggu (12/10/2025) mengeluarkan pernyataan yang menenangkan pasar.
Misalnya, SURE ditutup naik 0,37% ke Rp2.720, MEDC naik 3,02% ke Rp1.535, ENRG naik 3,65% ke Rp995, dan RATU yang naik 3,76% ke Rp10.350. Sementara itu, RAJA tidak berubah dari level Rp5.675. Sebaliknya, PGAS terkoreksi 2,05% ke Rp1.670 dan AKRA ditutup turun 1,36% ke Rp1.090.
"Saham migas yang lain seperti SURE, PGAS, MEDC relatif stabil. Saham-saham tersebut tidak terlalu ramai diberitakan ke publik. Jadi animonya lebih tertuju ke RAJA dan RATU," pungkasnya.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
#50 tag sepekan
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56