Bisnis.com, TOKYO - Brand fashion ritel asal Jepang Uniqlo mendonasikan sebanyak 500 ribu pakaian jenis heateach untuk returness Suriah.
Program ini bagian dari kampanye donasi 1.061.000 items heatech yang disumbangkan Uniqlo dalam periode waktu 2024-2025.
Selain Suriah, donasi juga akan diberikan ke Eropa sebanyak 100 ribu item, China 125 ribu pakaian, Korea Selatan 60 ribu, Amerika Utara 70.000 pakaian, Jepan 100 ribu pakaian dan Southeast Asia, India dan Australia sebanyak 106 ribu pakaian.
Koji Yanai, Director, Fast Retailing Co Ltd perusahaan holding Uniqlo mengatakan target distribusi donasi akan rampung hingga akhir tahun.
Dia mengatakan dari total 1 juta lebih heatech yang didonasikan, setengahnya dikirimkan ke Suriah karena dianggap paling membutuhkan.
"Kami berupaya mendistribusikannya sebelum akhir tahun, terutama menjelang musim dingin, dimana heattech ini dibutuhkan karena bisa menghangatkan mereka," ujarnya dalam konferensi pers peluncuran The Heart of Lifewear di Jepang Senin 20 Oktober 2025.
Dia juga mengatakan program donasi ini masih akan terus dilakukan Uniqlo ke depannya.
"Untuk negara mana dan jumlahnya berapa masih akan kita diskusikan lebih lanjut," ujarnya.
Adapun, alasan Uniqlo mengirimkan donasi ke Suriah karena berdasarkan data dari UNHCR, pada Desember 2024, ada sebanyak 690.000 pengungsu kembali ke Suriah.
Namun, kondisi kehidupan mereka memprihatinkan, dan kebutuhan pakaian hangat sangat dibutuhkan.
Sementara itu, Representative UNHCR Fumiko Kashiwa mengatakan, sejak kejatuhan rezim Asad 8 Desember 2024, sebanyak 1,1 juta pengungsi Suriah kembali ke negaranya.
Selain itu, 1,8 juta pengungsi internal (IDPS) kembali secara sukarela, dan lebih dari 11,5 juta orang masih mengungsi hingga hari ini.
Kondisi para pengungsi itu membutuhkan bantuan mulai dari perbaikan rumah dan infrastruktur, layanan publik, dukungan peluang kerja, bantuan kebutuhan primer, dan layanan perlindungan termasuk kejahatan gender, dukungan psikososial dan perlindungan anak.
Sementara itu secara global dia memaparkan, jumlah orang yang terpaksa mengungsi di dunia mencapai 122,1 juta jiwa pada akhir April 2025.
Kashiwa juga mengatakan sebagian besar pengungsi ditampung di negara-negara yang kurang kaya dan mereka membutuhkan bantuan.
Dia juga memaparkan terdapat peningkatan pengungsi dalam 10 tahun terakhir.
Berdasarkan data UNHCR, jumlah orang yang terpaksa mengungsi adalah 64,1 juta orang. Pada tahun 2025, jumlah orang yang terpaksa mengungsi hampir dua kali lipat. Sumber daya untuk intervensi kemanusiaan tidak berubah sejak tahun 2015.