Bisnis.com, JAKARTA — PT Super Bank Indonesia menegaskan komitmennya untuk mulai membagikan dividen kepada para pemegang saham setelah resmi melantai di Bursa Efek Indonesia dan ketika perseroan berhasil membukukan saldo laba positif.
Calon emiten perbankan digital tersebut menetapkan porsi pembagian dividen hingga maksimal 85% dari laba bersih tahun berjalan. Rasio dividend payout itu bakal menjadikan Superbank sebagai salah satu emiten bank dengan persentase dividen tertinggi di sektor perbankan nasional.
"Setelah penawaran umum perdana ssaham dan setelah perseroan membukukan saldo laba positif, manajemen perseroan berkomitmen untuk membagikan dividen kepada seluruh pemegang saham perseroan sebanyak-banyaknya sebesar 85% dari laba bersih tahun berjalan," tulis prospektus singkat tersebut, Selasa (25/11/2025).
Manajemen menyampaikan bahwa keputusan pembagian dividen akan tetap bergantung pada sejumlah faktor kunci, termasuk kinerja keuangan perseroan, tingkat kecukupan modal minimum (KPMM), kondisi kesehatan bank, serta posisi keuangan dan kebutuhan permodalan untuk ekspansi bisnis.
Selain itu, Superbank juga mempertimbangkan ekspektasi pertumbuhan laba, keberlanjutan strategi bisnis, dinamika pasar dan perekonomian, serta kepentingan pemegang saham sebelum menetapkan besaran dividen tahunan.
Superbank menargetkan pembagian dividen pertama berdasarkan laba tahun buku 2029, dengan tetap mengikuti ketentuan Undang-Undang Perseroan Terbatas (UUPT) dan persetujuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Perseroan menegaskan bahwa kebijakan ini dirancang agar tetap sejalan dengan kebutuhan penguatan modal, mengingat Superbank masih berada dalam fase pertumbuhan agresif melalui ekspansi digital, penyaluran kredit, dan pengembangan teknologi.
Kebijakan dividen diinformasikan bagi investor menjelang pelaksanaan IPO Superbank yang dijadwalkan berlangsung pada 17 Desember 2025. Adapun, menurut prospektus yang dipublikasikan Selasa (25/11/2025), Superbank berencana melepas maksimal 4,40 miliar saham baru atau setara dengan 13% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO.
Setiap saham memiliki nilai nominal Rp100 dengan harga penawaran awal (bookbuilding) IPO di kisaran Rp525 hingga Rp695 per saham.
Dengan demikian, perusahaan berpotensi mengantongi dana segar sekitar Rp2,31 triliun hingga Rp3,06 triliun. Superbank berencana menggunakan dana hasil IPO sebesar 70% untuk modal kerja daam rangka penyaluran kredit perseroan.
"Sisanya sekitar 30% dana hasil penawaran umum untuk belanja modal dalam rangka kegiatan usaha perseroan, termasuk namun tidak terbatas pengembangan produk pada pengembangan teknologi infoemasi yang mendukung pertumbuhan usaha," tulis dalam prospektus tersebut, Selasa (25/11/2025).
Apabila proses IPO berjalan lancar, perusahaan dijadwalkan melantai di Bursa Efek Indonesia pada 17 Desember 2025 dengan kode saham SUPA.
Berikut Jadwal IPO Superbank :
- Perkiraan Masa Penawaran Awal : 25 November – 1 Desember 2025
- Perkiraan Tanggal Efektif : 8 Desember 2025
- Perkiraan Masa Penawaran Umum Perdana Saham : 10 – 15 Desember 2025
- Perkiraan Tanggal Penjatahan : 15 Desember 2025
- Perkiraan Tanggal Distribusi Saham Secara Elektronik : 16 Desember 2025
- Perkiraan Tanggal Pencatatan Saham Pada Bursa Efek Indonesia : 17 Desember 2025