Bisnis.com, JAKARTA — PT Asuransi Asei Indonesia menilai dinamika geopolitik global yang terjadi akhir-akhir ini, mengubah peta risiko perdagangan internasional secara signifikan dan berdampak langsung terhadap lini asuransi pengangkutan atau marine cargo.
Direktur Utama Asuransi Asei Dody Achmad Sudiyar Dalimunthe menyebut dinamika geopolitik yang dimaksud adalah konflik kawasan, ketegangan dagang antarblok ekonomi, dan gangguan di jalur pelayaran strategis.
Menurutnya, dinamika itu berimplikasi pada beberapa hal. Pertama, pada perubahan rute pelayaran dan risiko navigasi sejumlah jalur utama perdagangan dunia yang mendorong rerouting kapal untuk menghindari wilayah berisiko tinggi.
“Perubahan rute ini berdampak pada waktu tempuh yang lebih panjang, eksposur risiko yang lebih lama bagi muatan, dan peningkatan risiko akumulasi klaim, terutama untuk komoditas bernilai tinggi atau sensitif waktu,” ucapnya kepada Bisnis, Kamis (8/1/2026).
Kondisi tersebut, imbuh Dody, meningkatkan kompleksitas underwriting marine cargo, khususnya dalam penentuan tarif, klausul war risk, serta kebutuhan reasuransi. Kedua, ada potensi kenaikan biaya logistik dan freight rate atas gangguan rantai pasok global dan ketidakpastian geopolitik.
“Yang berakibat nilai pertanggungan asuransi meningkat seiring naiknya nilai CIF barang, potensi klaim nominal menjadi lebih besar, dan potensi peningkatan rasio klaim apabila tidak diimbangi dengan penyesuaian premi dan manajemen risiko yang memadai,” jelasnya.
Ketiga, dia menyebut akan ada peningkatan risiko pengangkutan selain risiko perang dan politik, seperti peningkatan risiko penundaan (delay risk), risiko penumpukan barang di pelabuhan tertentu, serta risiko kualitas barang (deterioration risk), terutama untuk komoditas pertanian, makanan, dan bahan baku industri.
“Dari kondisi tersebut dapat dinilai bahwa profil risiko marine cargo saat ini akan lebih kompleks dibandingkan periode normal, sehingga membutuhkan pendekatan underwriting yang lebih selektif dan berbasis risiko aktual,” sebutnya.
Sebagai informasi, baru-baru ini Presiden Venezuela Nicolas Maduro ditangkap oleh Amerika Serikat (AS) pada Sabtu (3/1/2026). Selain penangkapan ini, AS juga melancarkan serangan militer skala besar terhadap Venezuela. Lebih dari 150 pesawat militer AS dikerahkan setelah pertahanan udara Venezuela berhasil dilumpuhkan.
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tengah mengincar potensi minyak mentah di Venezuela usai Presiden Nicolas Maduro ditangkap. Negara di Amerika Selatan itu diketahui memiliki cadangan minyak jumbo.
Adapun, rencana mengambil alih minyak tersebut diumumkan Trump beberapa jam setelah Presiden Venezuela Nicolas Maduro ditangkap dan digulingkan oleh pasukan AS, Sabtu (3/1/2025) waktu setempat. Trump bahkan berjanji menggelontorkan anggaran miliaran dolar untuk memulihkan produksi minyak mentah Venezuela.