Bisnis.com, JAKARTA — Konflik bersenjata antara Amerika Serikat-Israel vs Iran tidak hanya berdampak pada stabilitas geopolitik dan ekonomi global, tetapi juga memicu lonjakan emisi gas rumah kaca dengan jumlah yang cukup signifikan.
Analisis terbaru dari Climate and Community Institute menunjukkan, dalam dua minggu pertama konflik pada 28 Februari hingga 14 Maret 2026, total emisi yang dihasilkan mencapai sekitar 5,6 juta ton karbon dioksida (CO2) dan gas rumah kaca lainnya.
Jumlah tersebut dinilai sangat besar. Bahkan, jika emisi berlangsung dalam satu tahun penuh dengan laju yang sama, totalnya setara dengan gabungan emisi tahunan dari 84 negara dengan tingkat emisi terendah di dunia.
Dalam periode dua minggu saja, emisi dari konflik ini juga melampaui emisi tahunan Islandia yang tercatat sekitar 4,7 juta ton CO2 pada 2024. “Setiap serangan rudal adalah pembayaran awal untuk planet yang lebih panas dan tidak stabil,” ujar Direktur riset di Climate and Community Institute Patrick Bigger, dikutip dari Live Science, Jumat (27/3/2026).
Berdasarkan analisis tersebut, sumber emisi terbesar berasal dari penghancuran infrastruktur sipil, termasuk rumah, sekolah, dan fasilitas publik. Proses pembersihan puing serta rekonstruksi pascaperang diperkirakan menghasilkan sekitar 2,7 juta ton CO2, setara dengan emisi tahunan Maladewa.
Selain itu, pemboman fasilitas energi seperti kilang dan penyimpanan minyak di kawasan Teluk turut menyumbang emisi besar. Diperkirakan sebanyak 2,5 juta hingga 5,9 juta barel minyak terbakar dalam periode tersebut, menghasilkan sekitar 2,1 juta ton emisi, mendekati emisi tahunan Malta.
Sumber emisi berikutnya berasal dari penggunaan bahan bakar dalam operasi militer, termasuk pengerahan jet tempur dan kapal perang. Aktivitas ini menghasilkan sekitar 583.000 ton emisi, setara dengan emisi tahunan Greenland.
Peneliti dari Lancaster University Fred Otu-Larbi mengatakan, emisi berpotensi meningkat seiring eskalasi konflik, terutama dengan intensitas serangan terhadap fasilitas energi. “Tidak ada yang benar-benar tahu berapa biaya lingkungannya,” imbuhnya,
Selain emisi langsung, konflik juga memicu dampak jangka panjang. Kehilangan peralatan militer yang kemudian harus diproduksi ulang menyumbang sekitar 190.000 ton emisi tambahan. Sementara itu, penggunaan ribuan rudal dan drone turut menyumbang puluhan ribu ton emisi lainnya.
Para peneliti menilai, dampak lanjutan dari perang berpotensi lebih besar dibandingkan emisi selama konflik berlangsung. Blokade Iran di Selat Hormuz, misalnya, dapat memicu ketidakstabilan pasokan energi global.
Kondisi tersebut berisiko mendorong negara-negara meningkatkan eksplorasi bahan bakar fosil demi menjaga ketahanan energi. Secara historis, setiap guncangan energi global kerap diikuti lonjakan investasi pada infrastruktur energi berbasis karbon, termasuk terminal gas alam cair (LNG) dan proyek pengeboran baru.
“Perang ini berisiko menanamkan ketergantungan karbon untuk generasi berikutnya,” tambah Bigger.