Bisnis.com, JAKARTA — PT Prudential Life Assurance atau Prudential Indonesia menyatakan pendapatan premi hingga kuartal III/2025 masih didominasi oleh premi asuransi perorangan atau individu.
Pada periode tersebut, total pendapatan premi tercatat mencapai Rp15,2 triliun. Adapun, Rp14,9 triliun atau sekitar 98% berasal dari premi asuransi individu.
Vice President Director Prudential Indonesia, Vikas Sinha mengatakan Prudential Indonesia melihat adanya pergeseran atau peralihan customer demand dari sisi asuransi individu.
“Yang beralih ke produk tradisional karena desain produk yang simpel dan lebih mudah dipahami, khususnya bagi mereka yang baru berasuransi,” ucapnya kepada Bisnis, dikutip pada Kamis (20/11/2025).
Prudential menilai inovasi produk asuransi yang didesain dengan sederhana dan harga premi yang terjangkau menjadi penting, supaya pemegang polis lebih mudah memahami produknya.
Di lain sisi, Vikas menuturkan sepanjang kuartal III/2025 kinerja asuransi kumpulan Prudential Indonesia juga terjaga baik. Hal ini ditunjukkan dengan pertumbuhan signifikan sebesar 116% menjadi Rp317 miliar.
“Dari sisi asuransi kumpulan, kami melihat adanya peningkatan kesadaran dari pemilik usaha bahwa proteksi asuransi kesehatan menjadi penting untuk dimiliki. Perusahaan-perusahaan tersebut memiliki tujuan untuk memberi proteksi jangka panjang kepada karyawan,” jelasnya.
Bahkan, lanjutnya, ada beberapa perusahaan yang memperluas manfaat asuransi dengan memberikan perlindungan kesehatan kepada keluarga karyawannya.
“Dari sisi asuransi kumpulan, kami terus sampaikan bahwa asuransi bukan hanya sekedar melindungi saat terjadi risiko saja, tapi juga melindungi ketahanan finansial keluarga,” sebut Vikas.
Adapun, pengamat asuransi Dedy Kristianto berpendapat prospek asuransi kumpulan dalam 2–3 tahun ke depan akan tetap positif dan stabil, meskipun pertumbuhannya sangat dipengaruhi kondisi ekonomi dan dinamika ketenagakerjaan.
Setidaknya, ada empat hal yang membuat dirinya yakin bisa tetap positif. Pertama, perusahaan semakin menyadari pentingnya employee benefits. Kedua, kewajiban kepatuhan (compliance) di industri untuk menyediakan perlindungan kesehatan dan jiwa bagi karyawan.
Ketiga, adanya pergeseran pola penyakit ke arah penyakit kritis dan penyakit kronis sehingga perusahaan mencari solusi proteksi yang lebih komprehensif untuk karyawan. Keempat, transformasi digital membuat pengelolaan polis kumpulan, klaim, dan administrasi menjadi lebih efisien.
“Dengan kombinasi faktor tersebut, saya menilai group insurance masih menjadi salah satu segmen paling resilient di tengah tantangan ekonomi,” katanya kepada Bisnis, Kamis (20/11/2025).
Meski demikian, dia mengingatkan tantangan yang dihadapi perusahaan dalam memasarkan produk asuransi kumpulan. Di antaranya, tekanan biaya dari perusahaan klien karena banyak perusahaan yang melakukan efisiensi, sehingga negosiasi tarif premi menjadi semakin ketat.
Kemudian, kenaikan biaya kesehatan atau inflasi medis, tuntutan transparansi dan administrasi yang cepat, dan perubahan komposisi tenaga kerja.
“Dengan mengelola tantangan ini melalui inovasi produk, integrasi digital, dan manajemen risiko yang lebih kuat, perusahaan asuransi dapat tetap memenangkan pasar kumpulan,” pungkasnya.