Bisnis.com, JAKARTA – Pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump berencana menggelar pertemuan dengan para eksekutif perusahaan minyak.
Adapun pertemuan yang dilakukan Presiden Amerika Serikat (AS) Trump pada pekan ini bertujuan untuk membahas peningkatan produksi minyak Venezuela setelah penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Informasi tersebut disampaikan sumber yang mengetahui rencana tersebut.
Melansir Reuters, Pertemuan ini dinilai krusial bagi ambisi pemerintahan Trump untuk mengirim kembali perusahaan-perusahaan minyak besar AS ke Venezuela, hampir dua dekade setelah pemerintah negara itu mengambil alih operasi energi yang sebelumnya dipimpin perusahaan AS.
Namun demikian, tiga perusahaan minyak terbesar AS: Exxon Mobil, ConocoPhillips, dan Chevron belum melakukan pembicaraan apa pun dengan Gedung Putih terkait penggulingan Maduro dan belum memberikan tanggapan mengenai rencana tersebut. Hal itu disampaikan oleh empat pemimpin industri minyak, yang bertentangan dengan pernyataan Trump pada akhir pekan lalu yang menyebut dirinya telah bertemu dengan “semua” perusahaan minyak AS.
“Tidak ada seorang pun di tiga perusahaan itu yang telah berbicara dengan Gedung Putih tentang operasi di Venezuela, baik sebelum maupun setelah penyingkiran ini hingga saat ini,” ujar salah satu sumber dari Reuters, pada Senin (6/1/2026).
Pertemuan ini akan dinilai penting untuk mendorong kembali produksi dan ekspor minyak Venezuela. Negara bekas anggota OPEC itu memiliki cadangan minyak terbesar di dunia dan minyaknya dapat diolah oleh kilang-kilang khusus di Amerika Serikat. Meski demikian, para analis menilai upaya tersebut membutuhkan waktu bertahun-tahun serta investasi miliaran dolar AS.
Hingga kini belum jelas siapa saja pemimpin perusahaan minyak yang akan menghadiri pertemuan tersebut dan apakah perusahaan minyak akan hadir secara individu atau kolektif.
Gedung Putih menolak berkomentar langsung mengenai rencana pertemuan tersebut, tetapi menyatakan keyakinannya bahwa industri minyak AS siap kembali masuk ke Venezuela.
“Semua perusahaan minyak kami siap dan bersedia melakukan investasi besar di Venezuela untuk membangun kembali infrastruktur minyaknya, yang dihancurkan oleh rezim Maduro yang tidak sah,” kata juru bicara Gedung Putih, Taylor Rogers.
Trump sebelumnya mengatakan kepada NBC News bahwa pemerintah AS dapat memberikan subsidi kepada perusahaan minyak untuk membantu pembangunan kembali infrastruktur energi Venezuela.
Saat ditanya apakah pemerintahannya telah memberi pengarahan kepada perusahaan minyak sebelum operasi militer dilakukan, Trump mengatakan:
“Tidak. Tapi kami sudah berbicara soal konsep, ‘bagaimana jika kami melakukannya?’”
“Perusahaan minyak benar-benar sadar bahwa kami sedang mempertimbangkan untuk melakukan sesuatu. Tetapi kami tidak memberi tahu mereka bahwa kami akan melakukannya,” tambahnya.
Trump juga mengatakan masih “terlalu awal” untuk memastikan apakah ia akan berbicara langsung dengan para pemimpin perusahaan tersebut.
Sementara itu, dalam laporan CBS, para eksekutif dari ketiga perusahaan tersebut dijadwalkan bertemu dengan Menteri Energi AS Chris Wright pada Kamis mendatang.
Salah satu eksekutif industri minyak mengatakan kepada Reuters bahwa perusahaan cenderung enggan membahas potensi operasi di Venezuela dalam forum kelompok bersama Gedung Putih karena khawatir melanggar aturan antimonopoli, yang membatasi diskusi kolektif antar pesaing terkait rencana investasi, waktu, dan tingkat produksi.
Beberapa jam setelah penangkapan tersebut, Trump mengharapkan perusahaan minyak terbesar AS menggelontorkan investasi miliaran dolar AS untuk meningkatkan produksi minyak Venezuela, yang saat ini hanya sekitar sepertiga dari puncaknya akibat kurangnya investasi dan sanksi internasional selama dua dekade terakhir.
Namun, rencana itu diperkirakan akan menghadapi hambatan besar, mulai dari keterbatasan infrastruktur hingga ketidakpastian politik, hukum, dan arah kebijakan AS dalam jangka panjang, menurut para analis industri.
Saat ini, Chevron menjadi satu-satunya perusahaan minyak besar AS yang masih beroperasi di ladang minyak Venezuela. Adapun Exxon dan ConocoPhillips memiliki sejarah panjang di negara tersebut sebelum dinasionalisasi oleh mantan Presiden Hugo Chavez.
“Saya rasa Anda tidak akan melihat perusahaan lain selain Chevron, yang sudah berada di sana, berkomitmen untuk mengembangkan sumber daya ini,” ujar seorang eksekutif industri minyak yang enggan disebutkan namanya.
ConocoPhillips hingga kini masih menuntut restitusi miliaran dolar AS atas diambilnya tiga proyek minyaknya oleh pemerintah Venezuela, sementara Exxon terlibat dalam proses arbitrase panjang setelah keluar dari negara tersebut pada 2007.
Chevron sendiri mengekspor sekitar 150.000 barel minyak per hari dari Venezuela ke Pantai Teluk AS, dan selama beberapa tahun terakhir harus bermanuver secara hati-hati dengan pemerintahan Trump demi mempertahankan operasinya.
Meski demikian, para investor menyambut positif langkah Washington terhadap kepemimpinan Venezuela. Indeks energi S&P 500 naik ke level tertinggi sejak Maret 2025, dengan saham Exxon Mobil menguat 2,2% dan Chevron melonjak 5,1%.
Trump menegaskan bahwa embargo AS terhadap minyak Venezuela masih tetap berlaku. (Stefanus Bintang)