Bisnis.com, JAKARTA - Pernikahan bukanlah sebuah hubungan yang akan berjalan 'bahagia selamanya' seperti yang Anda impikan.
Kehidupan pernikahan akan ada naik turunnya, kadang bahagia, kadang sedih. Kadang susah, kadang senang,
Orang yang Anda nikahi pada hari pertama tidak persis sama dengan orang yang akan Anda ajak minum kopi sepuluh tahun kemudian. Itu bukan tanda bahaya; itu hanya bagaimana orang tumbuh dan berubah seiring waktu.
Jika Anda merasa hubungan Anda telah berubah, Anda mungkin hanya memasuki musim baru.
Pasalnya, setiap pernikahan umumnya melewati beberapa tahapan, dan yang terpenting adalah bagaimana melewatinya tanpa kehilangan akal sehat.
Dilansir dari timesofindia, berikut 5 tahapan yang dilalui dalam pernikahan oleh pasangan suami istri
1. Fase bulan madu – Kebahagiaan awal
Ini adalah fase yang didorong oleh chemistry. Anda terobsesi dengan pasangan Anda, pertengkaran tidak ada, dan bahkan kebiasaan mereka yang menjengkelkan tampak agak lucu.
Nikmati euforia ini, tetapi jangan biarkan itu menipu Anda untuk berpikir bahwa pernikahan selalu semudah ini. Gunakan periode "hangat" ini untuk membicarakan hal-hal besar, nilai-nilai, uang, anak-anak selagi suasana hati Anda masih baik. Anggap saja ini sebagai menabung di bank emosional untuk berjaga-jaga jika nanti pengeluaran menjadi lebih besar.
2. Fase Penyesuaian – Realita Mulai Terungkap
Akhirnya, efek oksitosin akan hilang, dan Anda menyadari pasangan Anda memiliki beberapa kebiasaan aneh (seperti meninggalkan handuk basah di tempat tidur atau selalu terlambat lima menit).
Di sinilah fantasi berbenturan dengan kenyataan. Banyak pasangan panik di sini, berpikir mereka telah melakukan kesalahan, tetapi sebenarnya di sinilah pekerjaan sesungguhnya dimulai.
Cara mengatasinya: Fokus pada "kita" daripada "saya." Ini bukan tentang memenangkan argumen tentang cucian; ini tentang menemukan sistem yang tidak membuat Anda berdua sengsara. Adaptasi adalah kuncinya di sini.
3. Fase Perebutan Kekuasaan – Siapa yang Memimpin, Siapa yang Mengalah
Ini adalah tahap di mana "penghitungan skor" biasanya dimulai. Pertengkaran tentang 'Saya sudah mencuci piring/tugas XYZ minggu ini, jadi Anda berhutang kepada saya' menjadi hal yang umum. Ini adalah pertempuran diam-diam untuk mengendalikan—atas keuangan, jadwal, atau bahkan termostat. Rasanya seperti Anda berdua adalah teman sekamar yang sedikit kesal satu sama lain.
Solusinya: Berhenti menghitung-hitung. Pernikahan tidak selalu 50/50; ini tentang kedua belah pihak memberikan 100% kemampuan mereka untuk tim. Alih-alih bertanya "Siapa yang benar?", cobalah bertanya "Apa yang dibutuhkan hubungan kita saat ini?" Memutus siklus kebencian membutuhkan kejujuran, bahkan ketika itu tidak nyaman.
4. Fase Stabilitas – Kenyamanan, kenyamanan, kenyamanan
Jika Anda berhasil melewati perebutan kekuasaan, Anda akan sampai pada tempat yang sangat nyaman dengan pasangan Anda. Anda tahu pesanan kopi mereka, cerita masa kecil mereka, dan persis tombol mana yang tidak boleh dipancing. Semuanya aman dan nyaman, tetapi bahayanya adalah kebosanan. Mudah untuk berhenti berusaha karena Anda merasa "mapan" dalam pernikahan Anda.
Rahasia: Jangan menjadi "teman sekamar yang efisien." Teruslah berkencan satu sama lain. Cobalah sesuatu yang baru bersama, bahkan jika itu hanya hobi aneh atau perjalanan akhir pekan. Stabilitas itu bagus, tetapi perlu sedikit percikan spontanitas agar tidak terasa seperti rutinitas.
5. Fase Kedewasaan – Cinta yang telah tumbuh dahsyat
Ini adalah tahap akhir. Setelah puluhan tahun menghadapi tantangan, ketakutan akan kesehatan, dan perubahan hidup, cinta menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam dan "lebih dahsyat" daripada romansa awal. Tidak ada lagi sandiwara atau berpura-pura; Anda telah melihat satu sama lain dalam kondisi terburuk dan memutuskan untuk tetap bersama.
Keindahannya: Pada titik ini, "rumah" bukanlah sekadar rumah; Ini tentang orang yang berdiri di sampingmu. Ini tentang cinta yang telah melewati cobaan berat dan menjadi lebih kuat. Hal terbaik yang bisa kamu lakukan di sini adalah menghargai sejarah yang telah kalian bangun bersama.