Bisnis.com, JAKARTA — TransTrack, perusahaan rintisan pengelola armada (fleet management), mematok target pertumbuhan organik hingga 30% untuk tahun buku 2026 di tengah konflik global yang makin panas.
Perusahaan optimistis dapat mencapai target tersebut dengan keberhasilan kinerja pada 2025 melalui strategi diferensiasi produk dan penetrasi pasar yang lebih luas.
Co-Founder & CEO TransTrack Anggia Meisesari memaparkan pada 2025, perusahaan berhasil meraup pendapatan senilai US$45 juta atau tumbuh sekitar 50% dibandingkan tahun sebelumnya.
Kepercayaan pelanggan lama yang terus menambah unit serta ekspansi ke sektor-sektor strategis seperti pertambangan (mining) dan penyewaan (leasing) menjadi motor utama penggerak pertumbuhan tersebut.
Memasuki 2026, TransTrack mengalihkan fokus pada stabilitas pertumbuhan di atas rata-rata industri. Anggia menyebut ekspansi regional dan penambahan fitur produk akan menjadi tumpuan guna menjaga momentum positif perusahaan.
“Kalau kita pendapatan nanti akan tumbuh organik dan kita punya target sih untuk pertumbuhannya itu di sekitar paling tidak di 30%,” ujar Anggia saat berbincang dengan Bisnis, Kamis (16/4/2026).
Anggia mengatakan solusi pengelolaan armada yang dikembangkan oleh TransTrack berbeda dengan perusahaan lain. TransTrack itu menawarkan end-to-end solution. Fleet management system itu hanya merupakan salah satu produk. Fitur GPS itu hanya sekitar 10% untuk membuat pelanggan nyaman memakai TransTrack. Sisa 90% berasal dari layanan purnajual yang diberikan.
TransTrack fokus pada kualitas yang membuat klien memiliki ketergantungan terhadap layanan ini.
“Jadi kalau saya sih menyebutnya produknya TransTrack ini harus bisa jadi obat, jangan jadi vitamin. Bedanya kan kalau jadi obat, nggak diminum sakit ya, bisa meninggal. Tapi kalau jadi vitamin, ya diminum bagus, nggak diminum kan nggak mati,” kata Anggia.
Anggia juga mengatakan perusahaan memiliki beberapa keunggulan seperti 21 paten. Salah satu dari patent itu adalah program weekend yang menawarkan asuransi. Setiap kendaraan customer yang menggunakan produk ini, ketika terjadi kesalahan akan diperbaiki.
“Kalau meninggal, Rp50 juta per orang. Santunan kematian, pemakaman Rp5 juta per orang. Kalau luka-luka itu 5 juta per orang per kejadian,” kata Anggia.
Resiliensi
Adapun mengenai dampak perang Amerika Serikat dan Iran, kata Anggia, tidak berdampak pada bisnis perusahaan. Pelemahan rupiah yang saat ini menyentuh Rp17.000 juga masih dikategorikan aman bagi bisnis TransTrack. Pasalnya, perusahaan memiliki 14 vendor berbeda untuk menyuplai perangkat TransTrack. Alhasil, perusahaan selalu mendapat harga yang kompetitif.
TransTrack juga mengunci margin bisnis di level Rp18.000. Maksudnya, ketika nilai tukar rupiah tidak melampaui Rp18.000, maka perusahaan masih mendapat margin dari layanan yang diberikan.
“Jadi kalau di bawah itu ya margin kita jadi gede. Krisis semikonduktor juga tidak terlalu berpengaruh karena ketika kita beli ke vendor itu ribuan,” kata Anggia.
Anggia mengatakan saat ini pendapatan perusahaan masih berasal dari Indonesia. Pasar dalam negeri menyumbang hingga 90% pemasukan dengan net margin 60%-70% dari perangkat keras dan perangkat lunak yang dijual. Sementara itu pasar luar negeri berkontribusi hingga 10% dari total pendapatan. Meski relatif kecil, margin yang berasal dari luar negeri lebih besar karena kemampuan daya beli pasar luar negeri.
TransTrack rencananya juga akan menggenjot ekspansi ke Asia Tenggara dan Timur Tengah, seiring momentum ulang tahun ke-7 perusahaan. Setelah memperluas operasional ke Malaysia, Singapura, Australia, Arab Saudi, dan Qatar, TransTRACK selanjutnya menargetkan penetrasi ke Vietnam, Thailand, Oman, Bahrain, dan Kuwait.
Saat ini, TransTRACK telah melayani lebih dari 1.500 klien dan diakui sebagai salah satu dari tiga penyedia solusi fleet management terbesar di Asia Tenggara selama dua tahun berturut-turut. Di tengah meningkatnya kebutuhan efisiensi operasional, kepatuhan regulasi, dan tuntutan ESG, TransTRACK memperkuat posisinya sebagai pemain utama di bidang fleet intelligence dan supply chain integration melalui pemanfaatan teknologi AI, IoT, robotics, dan data analytics.