Bisnis.com, JAKARTA — PT Indo Trans Teknologi atau TransTrack tengah berada dalam radar akuisisi oleh salah satu raksasa perangkat lunak (software) global.
Sinyal konsolidasi ini muncul di tengah upaya perusahaan rintisan pengelola armada (fleet management) tersebut mengejar pertumbuhan lewat ekspansi agresif.
Co-Founder & CEO TransTrack Anggia Meisesari mengungkapkan saat ini terdapat beberapa perusahaan luar negeri yang mulai merapat untuk menjajaki peluang merger dan akuisisi (M&A). Dari sekian banyak peminat, terdapat satu kandidat kuat yang kini sedang dalam tahap pembicaraan serius.
“Kita lagi ada pendekatan paling dekat, ada satu. Cuma saya belum sebut namanya. Saya masih timang-timang banget, tapi ini [perusahaan] besar. Mereka perusahaan besar di, termasuk perusahaan software besar di dunia lah,” ujar Anggia kepada Bisnis, Kamis (16/04/2026).
Langkah M&A ini menjadi opsional yang menarik bagi TransTrack, mengingat rekam jejak calon pembeli tersebut dalam mengakuisisi perusahaan di Indonesia dinilai cukup positif. Meski demikian, Anggia mengakui proses integrasi nantinya tidak akan sederhana karena adanya perbedaan budaya organisasi.
Anggia mengatakan perusahaan global tersebut sebelumnya telah mengakuisisi bisnis keluarga (family business), sementara TransTrack memiliki struktur pemegang saham startup yang lebih kompleks.
TransTrack sendiri merupakan perusahaan rintisan (startup) asal Indonesia yang bergerak di bidang teknologi Fleet Management System (FMS) atau sistem pengelolaan armada berbasis IoT (Internet of Things) dan SaaS (Software as a Service).
Mereka membantu perusahaan yang memiliki banyak kendaraan—seperti perusahaan logistik, pertambangan, atau transportasi umum—untuk memantau dan mengoptimalkan operasional armada mereka secara real-time.
Selain lewat jalur akuisisi, kata Anggia, pemenuhan untuk modal usaha juga dilakukan dengan mengkaji rencana pendanaan Seri B. TransTrack masih terus menggodok. Anggia mengatakan pengumpulan modal lewat pendanaan hakikatnya terdapat sedikit problematika, terkait kepemilikan saham.
Anggia memaparkan dirinya bersama Co-Founder Aris Pujianto sangat berhati-hati dalam menentukan waktu dan skema pendanaan baru.
Perusahaan juga mempertimbangkan kombinasi antara ekuitas dan pinjaman (loan). Hingga saat ini, TransTrack sudah mulai memanfaatkan fasilitas pinjaman guna memenuhi kebutuhan modal kerja (working capital).
“Seri B-nya ini kiraan kapan? Kita masih belum tau. Jadi kita explore beberapa opsi ya. Karena gini, kalau kita, saya pribadi dengan Pak Pujung sebagai founder ya,” jelasnya.
Ketertarikan investor global tidak lepas dari performa solid TransTrack sepanjang 2025. Perusahaan mencatatkan pertumbuhan pendapatan yang signifikan seiring dengan peningkatan jumlah kendaraan yang terhubung ke ekosistem mereka. Per akhir 2025, TransTrack berhasil memperluas jangkauan operasionalnya ke beberapa negara di Asia Tenggara, yang turut mengerek valuasi perusahaan secara organik.
Pada 2025, perusahaan mencatat pendapatan sekitar US$ 45 juta, didukung model bisnis berbasis recurring revenue, gross margin sekitar 73%, net margin sekitar 20%, serta tingkat churn yang rendah di angka 0,6%.
Lim Boon Wei, Group CFO TransTRACK, menyampaikan perusahaan memasuki fase pertumbuhan yang terukur dan berkelanjutan, dengan fundamental yang kuat serta strategi permodalan yang disiplin.
“Model bisnis berbasis recurring revenue memberikan visibilitas yang tinggi terhadap pendapatan jangka panjang, sekaligus memungkinkan kami melakukan ekspansi secara terukur dengan tetap menjaga profitabilitas,” kata Lim.
Ke depan, TransTRACK menargetkan ekspansi ke lebih dari 10 negara dan penetrasi ke 10 sektor industri utama hingga 2028. Fokus ekspansi mencakup sektor maritim, pertambangan, dan perkebunan yang memiliki potensi pasar besar serta karakteristik high ARPU dan high switching cost.
Sebagai bagian dari strategi pertumbuhan, TransTRACK mengadopsi pendekatan locally adaptive technology deployment, yang memungkinkan penyesuaian solusi dengan karakteristik operasional, regulasi, dan tingkat maturitas digital di masing-masing negara, sehingga memastikan implementasi yang lebih efektif dan berdampak langsung terhadap kinerja bisnis klien.