Bisnis.com, JAKARTA — Bagi Rodrigo Parejo, flamenco bukan warisan yang harus dijaga dalam bentuk yang kaku. Lewat proyek Nomads, musisi asal Spanyol itu mempertemukan tradisi musik negaranya dengan improvisasi jazz bersama sejumlah musisi Indonesia.
Proyek tersebut lahir dari pertemuan Rodrigo dengan para musisi Indonesia yang kemudian berkembang menjadi proses rekaman dan pertunjukan bersama. Melalui Nomads, ia merangkai berbagai pengaruh musik yang ditemuinya selama berkelana di Asia Tenggara.
Gagasan tersebut terlihat saat Rodrigo tampil bersama Sri Hanuraga, Kevin, dan Elfa Zulham di Teater Wahyu Sihombing, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Kamis (28/5/2026). Dia mengajak penonton menjelajahi lanskap bunyi yang bergerak dari Spanyol hingga Asia Tenggara.
Jejak flamenco memang terasa kuat dalam sejumlah komposisi yang dimainkan. Namun, warna musik tradisional Spanyol itu tidak hadir secara utuh, melainkan berkelindan dengan improvisasi jazz yang berkembang bebas di atas panggung.
Salah satu nomor yang menjadi sorotan adalah Samsara. Sebelum lagu dimainkan, Rodrigo menjelaskan bahwa komposisi tersebut berbicara tentang perjalanan hidup manusia yang terus berputar dari kelahiran hingga kematian.
“Samsara berbicara tentang siklus kehidupan. Kita dilahirkan, tumbuh, menjadi dewasa, lalu menghadapi kematian. Namun setelah itu selalu ada ruang bagi harapan, ketenangan, dan kedamaian,” kata Rodrigo kepada penonton.
Gagasan tentang perjalanan itu menjadi benang merah dalam Nomads. Bagi Rodrigo, album tersebut bukan sekadar kumpulan lagu, melainkan catatan pertemuan dengan para musisi Indonesia yang kemudian berkembang menjadi kolaborasi kreatif.
Hubungan yang terjalin antarmusisi menjadi fondasi penting dalam proyek tersebut. Rodrigo bahkan menilai musik memiliki kemampuan untuk mempertemukan orang-orang dari latar belakang budaya yang berbeda.
“Musik dan hubungan adalah hal yang penting. Jika kita terhubung melalui musik dan hubungan, hidup menjadi lebih mudah,” ujarnya.
Semangat keterbukaan itu juga tercermin dalam proses kreatif yang dijalani bersama para personel Nomads. Menurut Sri Hanuraga, Rodrigo tidak pernah memberikan komposisi yang sepenuhnya kaku kepada para musisi pendukungnya.
“Musiknya Rodrigo seperti kertas kosong. Cuma ada bingkai sedikit, lalu kita harus mewarnai sendiri,” kata Hanuraga usai pertunjukan.
Pendekatan tersebut membuat setiap penampilan memiliki kemungkinan yang berbeda, tergantung interaksi para pemain di atas panggung.
Bagi Hanuraga, daya tarik Nomads juga terletak pada cara proyek tersebut memperlakukan tradisi.
“Tradisi itu bukan untuk diglorifikasi. Kami mencoba mempertanyakannya dan melihat kemungkinan-kemungkinan baru yang bisa muncul dari sana,” katanya.
Dari titik itulah Nomads menemukan identitasnya. Flamenco yang dibawa Rodrigo dari Spanyol menemukan bentuk baru melalui dialog dengan jazz dan musisi Indonesia, melahirkan pengembaraan bunyi lintas budaya.