Bisnis.com, JAKARTA — Seniman Riar Rizaldi menghadirkan tiga karya baru yang mempertanyakan narasi sejarah teknologi modern dalam pameran bertajuk Period Piece di Museum MACAN, Jakarta.
Melalui instalasi dan karya video, perupa asal Bandung itu menyoroti bahwa teknologi tidak pernah lahir terpisah dari sejarah tenaga kerja, kolonialisme, dan pengetahuan masyarakat lokal.
Salah satu karya yang ditampilkan ialah Bioskop Asymptotic (2026). Melalui karya ini Riar merekonstruksi lobi bioskop Indonesia era 1990-an yang berangkat dari ingatan pribadi Riar terhadap Pasundan Theatre di Bandung.
Melalui instalasi tersebut, pengunjung diajak merasakan kesunyian yang ganjil di ruang lobi yang tampak seperti ditinggalkan waktu.
"Karya ini sebenarnya menceritakan tentang bagaimana ketertarikanku sama lobi-lobi bioskop di Indonesia pada tahun 1990-an. Dan juga semacam refleksiku terhadap isu nostalgia," kata Riar.
Selain itu, Riar menampilkan Fanfictie: Volcanology (2025) yang mengangkat sosok ahli geologi Franz Wilhelm Junghuhn.
Melalui karya tersebut, dia menyoroti bahwa pengetahuan mengenai gunung berapi di Jawa telah lama dimiliki masyarakat lokal sebelum berkembang dalam tradisi ilmiah Eropa.
"Masyarakat-masyarakat lokal di Jawa itu sudah punya pengetahuan yang lebih dulu, jauh lebih panjang tentang kegunungapian dibandingkan ilmuwan dari Eropa," ujarnya.
Sementara itu, karya video Tropenkolder (2026) menghubungkan sejarah sinema kolonial dengan jaringan perkeretaapian di Jawa pada awal abad ke-20.
Dalam karya ini, Riar menggeser perhatian dari kemajuan teknologi menuju peran buruh kereta api yang membangun sekaligus mengalami dinamika kolonial.
"Ada dinamika di antara bagaimana teknologi sinema dan kereta api itu dibangun pada saat kolonial dengan juga kerja-kerja kuli Jawa," imbuhnya.
Melalui ketiga karya tersebut, Riar mengajak publik mempertanyakan siapa yang membangun teknologi, siapa yang menghasilkan pengetahuan, dan siapa yang selama ini terpinggirkan dalam sejarah kemajuan.
Pameran Period Piece merupakan bagian dari program utama Museum MACAN bertajuk Where Are We in Time: A Season Across Shifting Landscapes yang berlangsung hingga Oktober 2026.
Selain pameran Riar Rizaldi, Museum MACAN juga menghadirkan pameran kolektif Menelan Cakrawala yang menampilkan karya Raden Saleh hingga I Nyoman Masriadi yang berlangsung hingga 5 September 2026.
Pengunjung juga dapat menyaksikan pameran Marcos Kueh bertajuk Kenyalang Circus, Dawn Ng melalui Atlantis II, serta Ruth Marbun yang menghadirkan instalasi interaktif Beradu Padu hingga 4 Oktober 2026.