PCOS kini berganti nama menjadi PMOS untuk mencerminkan gangguan hormon dan metabolisme yang lebih akurat. Nama baru ini diharapkan mengurangi stigma dan mempercepat diagnosis. [912] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Sindrom ovarium polikistik atau polycystic ovary syndrome (PCOS) resmi berganti nama menjadi polyendocrine metabolic ovarian syndrome (PMOS). Pergantian nama ini diputuskan melalui proses konsensus global yang melibatkan ribuan pasien dan tenaga kesehatan dari berbagai negara.
Dalam publikasi jurnal medis, The Lancet, pada Selasa (12/5), peneliti menyebut istilah PCOS sudah tidak lagi menggambarkan kondisi penyakit secara menyeluruh. Nama lama juga dinilai sering menimbulkan salah paham di masyarakat maupun kalangan medis.
Istilah “polycystic ovary” selama ini dianggap menyesatkan karena seolah menunjukkan adanya kista patologis pada ovarium. Padahal, kondisi tersebut sebenarnya berkaitan dengan gangguan hormon dan metabolisme yang memengaruhi banyak organ tubuh.
Peneliti menyebut PMOS dialami sekitar satu dari delapan perempuan di dunia. Penyakit ini juga diperkirakan menyerang lebih dari 170 juta perempuan usia reproduktif secara global.
Ketua peneliti dari Monash University Australia, Prof. Helena J. Teede, mengatakan perubahan nama dilakukan agar diagnosis dan penanganan pasien menjadi lebih tepat. Nama baru juga diharapkan dapat mengurangi stigma yang selama ini melekat pada penderita PCOS.
“Nama lama tidak mencerminkan kompleksitas penyakit ini dan sering membuat pasien terlambat mendapatkan diagnosis,” tulis tim peneliti dalam publikasi tersebut.
Peneliti menjelaskan selama ini PCOS terlalu identik dengan gangguan ovarium. Padahal, kondisi tersebut juga melibatkan gangguan hormon, metabolisme, reproduksi, hingga kesehatan mental.
Mereka menilai istilah lama membuat banyak pasien bingung karena tidak semua penderita memiliki kista ovarium. Kondisi itu juga disebut membuat pelayanan kesehatan menjadi tidak menyeluruh dan memperlambat penanganan pasien.
Selain itu, fokus istilah pada organ reproduksi dianggap memicu stigma di sejumlah negara. Banyak perempuan merasa tertekan karena nama penyakit berkaitan dengan kesuburan dan reproduksi.
“Nama baru dipilih untuk mencerminkan gangguan endokrin, metabolik, dan ovarium yang terjadi secara bersamaan,” tulis peneliti.
Perubahan nama PCOS menjadi PMOS dilakukan melalui proses panjang yang melibatkan 56 organisasi akademik, klinis, dan komunitas pasien dari berbagai negara. Tim peneliti juga melakukan survei global terhadap 14.360 responden yang terdiri dari pasien dan tenaga kesehatan multidisiplin.
Selain survei, proses penentuan nama baru dilakukan melalui workshop internasional dan diskusi ilmiah bertahap. Nama baru dipilih berdasarkan prinsip akurat secara ilmiah, mudah dipahami, tidak menimbulkan stigma, serta mudah diterapkan dalam sistem kesehatan global.
PMOS merupakan gangguan multisistem yang memengaruhi hormon, metabolisme, dan fungsi ovarium. Penyakit ini dapat menyebabkan gangguan ovulasi, menstruasi tidak teratur, infertilitas, hingga peningkatan hormon androgen pada perempuan.
Selain masalah reproduksi, penderita PMOS juga berisiko mengalami obesitas, diabetes tipe 2, hipertensi, kolesterol tinggi, dan penyakit jantung. Peneliti menyebut sekitar 85 persen penderita PMOS mengalami resistensi insulin yang membuat tubuh kesulitan mengontrol gula darah.
Gangguan lain yang sering muncul meliputi jerawat, rambut rontok, tumbuh rambut berlebih, depresi, kecemasan, hingga gangguan tidur. Karena gejalanya cukup beragam, banyak perempuan tidak menyadari dirinya mengalami kondisi tersebut.
Perubahan nama dari PCOS menjadi PMOS akan dilakukan secara bertahap selama tiga tahun. Langkah itu dilakukan agar tenaga medis, sistem kesehatan, dan masyarakat dapat menyesuaikan penggunaan istilah baru.
Nama PMOS nantinya juga akan dimasukkan ke sistem klasifikasi penyakit internasional milik Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO. Selain itu, istilah baru akan digunakan dalam pembaruan pedoman internasional penanganan penyakit pada 2028.
“Kami ingin perubahan nama ini meningkatkan kesadaran, mempercepat diagnosis, dan memperbaiki kualitas hidup pasien di seluruh dunia,” tulis peneliti.
Proses Konsensus Global
Pergantian nama PCOS menjadi PMOS dilakukan melalui proses panjang selama beberapa tahun. Sebanyak 56 organisasi akademik, klinis, dan komunitas pasien dari berbagai negara ikut terlibat dalam penyusunan nama baru tersebut.
Tim peneliti melakukan survei global yang melibatkan 14.360 responden, terdiri dari pasien dan tenaga kesehatan multidisiplin. Mereka juga mengadakan workshop internasional serta metode diskusi ilmiah bertahap untuk menentukan nama yang paling tepat.
Dalam proses tersebut, sejumlah prinsip utama menjadi pertimbangan. Nama baru harus akurat secara ilmiah, mudah dipahami, tidak menimbulkan stigma, sesuai lintas budaya, dan mudah diterapkan di sistem kesehatan dunia.
Berikut prinsip utama perubahan nama PCOS menjadi PMOS: - Menggambarkan gangguan hormon dan metabolisme secara lebih akurat - Menghilangkan istilah “kista ovarium” yang dianggap menyesatkan - Mengurangi stigma terkait kesuburan dan reproduksi perempuan - Mempermudah komunikasi antara pasien dan tenaga kesehatan - Mendukung penelitian dan sistem klasifikasi penyakit global
Apa Itu PMOS?
PMOS merupakan gangguan multisistem yang mempengaruhi hormon, metabolisme, dan fungsi ovarium. Penyakit ini tidak hanya berdampak pada siklus menstruasi, tetapi juga kesehatan tubuh secara menyeluruh.
Kondisi ini dapat menyebabkan gangguan ovulasi, menstruasi tidak teratur, infertilitas, hingga peningkatan hormon androgen. Selain itu, pasien juga berisiko mengalami obesitas, diabetes tipe 2, hipertensi, kolesterol tinggi, dan penyakit jantung.
Peneliti menyebut sekitar 85 persen penderita PMOS mengalami resistensi insulin. Kondisi itu membuat tubuh kesulitan mengontrol gula darah dan memperburuk gangguan hormon.
Gangguan lain yang sering muncul meliputi jerawat, rambut rontok, tumbuh rambut berlebih, depresi, kecemasan, hingga gangguan tidur. Karena gejalanya beragam, banyak pasien tidak menyadari dirinya mengalami PMOS.
Gejala PMOS yang Perlu Diwaspadai
Tim peneliti menegaskan PMOS bukan sekadar masalah reproduksi perempuan. Penyakit ini dapat memengaruhi kualitas hidup dan meningkatkan risiko komplikasi jangka panjang.
Berikut gejala PMOS yang umum ditemukan: - Siklus menstruasi tidak teratur - Sulit hamil atau gangguan kesuburan - Berat badan mudah naik - Tumbuh rambut berlebih di wajah atau tubuh - Jerawat dan kulit berminyak - Rambut menipis atau rontok - Mudah lelah - Gangguan gula darah dan kolesterol
Masa Transisi 3 Tahun
Peneliti menyebut perubahan nama dari PCOS ke PMOS akan dilakukan bertahap selama tiga tahun. Masa transisi itu dilakukan agar sistem kesehatan, tenaga medis, hingga masyarakat dapat menyesuaikan penggunaan istilah baru.
Nama PMOS nantinya juga akan dimasukkan ke sistem klasifikasi penyakit internasional atau ICD milik Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Selain itu, istilah baru akan digunakan dalam pedoman internasional penanganan penyakit yang diperbarui pada 2028.
“Kami ingin perubahan nama ini meningkatkan kesadaran, mempercepat diagnosis, dan memperbaiki kualitas hidup pasien di seluruh dunia,” tulis peneliti.
#50 tag sepekan
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found
in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56