Bisnis.com, SEMARANG — Kota Semarang memiliki beragam wisata religi yang mencerminkan keberagaman serta toleransi antar umat beragama. Berbagai rumah ibadah dari lintas agama berdiri berdampingan dan menjadi saksi perjalanan sejarah panjang Kota Semarang, sekaligus menarik minat wisatawan lokal maupun mancanegara.
Sejumlah wisata religi di Kota Semarang telah berkembang menjadi objek wisata unggulan karena keunikan arsitektur, nilai historis, hingga perannya sebagai tempat ibadah yang masih aktif digunakan sampai saat ini.
Dilansir dari laman resmi ppid.semarangkota.go.id dan kemenparekraf.go.id, Senin (19/1/2026), berikut ini 6 wisata religi yang bisa didatangi saat sedang berlibur ke Kota Semarang, mulai dari Gereja Blenduk hingga Klenteng Sam Poo Kong.
1. Gereja Blenduk
Gereja Protestan di Indonesia Barat (GPIB) Immanuel atau yang biasa dikenal dengan Gereja Blenduk merupakan salah satu gereja protestan tertua di Semarang.
Dilansir dari @kancabudaya, Gereja Blenduk dibangun pada tahun 1742 dengan berbentuk rumah panggung Jawa dan atapnya menggunakan arsitektur Jawa. Namun, pada tahun 1894-1895, gereja ini dibangun kembali dengan gaya arsitektur Eropa abad 17-19 oleh HPA De Wilde dan Wesmaas.
Nama “Blenduk” dari gereja ini diambil dari bentuk kubah yang terlihat seperti irisan bola, sehingga masyarakat menyebutnya “mblenduk”. Kubah berbentuk setengah bola ini menjadi ciri khas dari Gereja Blenduk dan berhasil menjadi daya tarik tersendiri.
Sampai saat ini, Gereja Blenduk masih aktif berfungsi sebagai tempat ibadah, serta juga menjadi salah satu destinasi wisata yang banyak dikunjungi wisatawan saat berada di Kota Lama Semarang.
2. Masjid Agung Jawa Tengah
Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) merupakan salah satu masjid terbesar di Jawa Tengah yang berlokasi di Kota Semarang. Diresmikan pada tahun 2006, MAJT dibangun di atas lahan 10 hektar dan memiliki gaya arsitektur campuran Jawa, Romawi, dan Timur Tengah.
Selain arsitektur, MAJT juga dikenal karena memiliki enam payung hidrolik raksasa yang diadopsi dari model payung dari Masjid Nabawi di Madinah, serta memiliki menara dengan ketinggian 99 meter yang diberi nama menara Al-Husna. Dengan fasilitas tersebut, MAJT telah menjadi destinasi wisata religi yang banyak dikunjungi oleh wisatawan yang datang ke Kota Semarang.
3. Masjid Agung Semarang (Kauman)
Selain MAJT, Kota Semarang juga memiliki destinasi wisata religi masjid lainnya, yakni Masjid Agung Semarang (Kauman). Masjid Agung Semarang atau yang biasa disebut dengan Masjid Kauman Semarang merupakan masjid tertua sekaligus memiliki kaitan yang erat dengan sejarah berdirinya Kota Semarang.
Dilansir dari @pemerintahkotasemarang, Masjid ini telah dibangun sejak tahun 1890 dan didesain oleh arsitek asal Belanda, GA Gambir. Pada masa kemerdekaan Indonesia, Masjid Kauman Semarang diketahui pernah digunakan untuk mengumumkan kemerdekaan Republik Indonesia pada tahun 1945.
Tetap berdiri kokoh dan kuat, Masjid Kauman saat ini masih banyak dikunjungi sebagai salah satu destinasi wisata religi di Kota Semarang. Atap dari masjid ini yang terbuat dari seng yang ada sejak masa pemerintahan Hindia Belanda disebut masih awet dan kuat. Selain menjadi wisata religi dan tempat ibadah, masjid ini dapat menjadi wisata edukasi karena adanya cerita bersejarah dari pembangunan masjid ini.
4. Klenteng Sam Poo Kong
Klenteng Sam Poo Kong atau yang dikenal juga dengan Klenteng Gedung Batu merupakan klenteng Cina tertua di Kota Semarang. Dibangun di atas lahan seluas 1.020 meter persegi, klenteng ini dipengaruhi oleh gaya arsitektur Cina dan Jawa abad ke-14, dengan warna merah yang mendominasi bangunan megah ini dan atap pagoda berlapis tiga khas budaya Asia Timur.
Klenteng Sam Poo Kong diketahui dibangun atas inisiatif Laksamana Cheng Ho sebagai tempat singgah dan ibadah pada awal abad ke-15 dengan gua batu sebagai titik awal.
Setelah Cheng Ho meninggalkan Jawa, klenteng ini dikembangkan sebagai tempat untuk memperingati kedatangan Laksamana Cheng Ho, dan simbol peringatan dapat dilihat dari berdirinya Patung Laksamana Cheng Ho dengan tinggi 12 meter. Laksamana Cheng Ho merupakan seorang penjelajah Muslim dari Cina Daratan.
Setelah pembangunan klenteng tersebut, pada tahun 1704, klenteng dan gua yang asli runtuh karena tanah longsor. Oleh karena itu, masyarakat setempat membangun klenteng yang baru kembali 20 tahun kemudian di lokasi yang berbeda dan lebih dekat ke pusat kota.
Sampai saat ini, Klenteng Sam Poo Kong masih aktif digunakan sebagai tempat ibadah, tempat suci menghormati Cheng Ho karena jasanya kepada masyarakat, serta menjadi destinasi wisata religi yang populer di Kota Semarang untuk beribadah, ziarah, dan merayakan imlek.
5. Klenteng Tay Kak Sie
Dilansir dari @pusat_khonghucu, Klenteng Tay Kak Sie merupakan klenteng yang telah dibangun sejak tahun 1764 Masehi yang terletak di kawasan Pecinan, Kota Semarang. Nama “Tay Kak Sie” dari klenteng ini berasal dari bahasa Tionghoa yang berarti Kuil Kebajikan Agung. Klenteng disebut sebagai klenteng dengan koleksi terbanyak karena memiliki 29 patung dewa/dewi.
Klenteng Tay Kak Sie telah menjadi pusat berbagai perayaan keagamaan dan budaya Tionghoa, salah satunya perayaan Cap Go Meh. Selain itu, terdapat salah satu tradisi unik di klenteng ini, yakni Siung Sin Giu Hok yang menjadi ritual simbolik pengantaran dewa kembali ke kayangan. Hingga saat ini, Klenteng Tay Kak Sie masih menjadi tempat peribadatan Tri Dharma, serta menjadi destinasi wisata religi yang populer di Kota Semarang.
6. Vihara Buddhagaya Watugong
Vihara Buddhagaya Watugong merupakan salah satu tempat ibadah agama Buddha di Kota Semarang yang dibangun sejak tahun 1955. Komplek vihara ini terdiri dari dua bangunan induk utama, yakni Pagoda Avalokitesvara dan Dhammasala. Bangunan Pagoda Avalokitesvara merupakan pagoda tertinggi di Indonesia dengan tinggi mencapai 45 meter dan di dalamnya terdapat patung Dewi Kwan Im dengan tinggi lima meter.
Sementara itu, pada bangunan Dhammasala terdiri dari dua lantai dengan lantai dasar digunakan sebagai ruang aula serbaguna, dan lantai kedua digunakan untuk upacara keagamaan yang terdapat patung Sang Buddha. Selain menjadi tempat ibadah sampai saat ini, vihara yang memiliki arsitektur etnik Tiongkok dan Thailand ini juga telah dikembangkan sebagai objek wisata.