Bisnis.com, JAKARTA - Induk usaha Google, Alphabet Inc., membukukan pendapatan kuartalan yang melampaui proyeksi analis dan menyiapkan belanja modal (capital expenditure) jumbo US$185 miliar untuk mempercepat ekspansi infrastruktur di era kecerdasan buatan (AI).
Melansir Bloomberg pada Kamis (5/2/2026), Alphabet menyatakan belanja modal tahun ini dapat mencapai US$185 miliar, jauh di atas estimasi analis sebesar US$119,5 miliar. Adapun, nilai penjualan kuartal IV/2025, tidak termasuk pembayaran ke mitra, tercatat sebesar US$97,23 miliar, melampaui konsensus analis senilai US$95,2 miliar.
Untuk 2026, total belanja yang direncanakan bahkan diperkirakan melebihi akumulasi pengeluaran Alphabet dalam tiga tahun sebelumnya. Meski demikian, Chief Executive Officer Alphabet Sundar Pichai menegaskan tingginya belanja tersebut merupakan kebutuhan strategis.
“Kami melihat investasi AI dan infrastruktur kami mendorong pendapatan dan pertumbuhan di seluruh lini bisnis. Layanan pencarian mencatat penggunaan tertinggi sepanjang sejarah, dengan AI terus menjadi pendorong fase ekspansi," kata Pichai dalam pernyataan resminya.
Pendapatan Google Cloud pada periode tersebut melonjak 48% menjadi US$17,7 miliar, melampaui ekspektasi analis sebesar US$16,2 miliar. Alphabet juga menyebut model AI andalannya, Gemini, terus mencatat pertumbuhan pengguna secara pesat.
Google terus berupaya merombak model bisnisnya agar tetap relevan di era AI, di tengah meningkatnya persaingan dengan layanan chatbot dari rival seperti OpenAI. Perusahaan mempercepat pengembangan dan integrasi Gemini ke seluruh produk, langkah yang menuntut investasi besar pada pusat data, chip, serta infrastruktur komputasi awan.
Alphabet menegaskan investasi masif pada AI, mulai dari pembangunan infrastruktur baru, riset, hingga perekrutan talenta, merupakan kunci untuk bersaing dengan pemain besar lain seperti Amazon.com Inc., Microsoft Corp., dan OpenAI.
Saham Alphabet, yang telah menguat sekitar 61% dalam setahun terakhir, bergerak fluktuatif pada perdagangan setelah jam bursa. Saham sempat turun hingga 7,5%, lalu berbalik naik lebih dari 4%, sebelum kembali melemah tipis.
Chief Financial Officer Alphabet Anat Ashkenazi menjelaskan sekitar 40% investasi infrastruktur teknis perusahaan dialokasikan untuk pusat data dan peralatan jaringan, sementara 60% lainnya untuk server. Pichai juga mengakui perusahaan perlu memperhitungkan berbagai keterbatasan, termasuk pasokan listrik dan rantai pasok.
Untuk menopang belanja besar tersebut, Alphabet menunjukkan momentum berkelanjutan di bisnis komputasi awan dan iklan pencarian. Perusahaan telah mengintegrasikan Gemini 3, model AI terbarunya, ke seluruh produk, termasuk peramban Chrome.
Aplikasi Gemini mencatat sekitar 750 juta pengguna aktif hingga Desember, naik dari 650 juta pada periode tiga bulan yang berakhir September. Selanjutnya, nilai backlog bisnis cloud lewat pendapatan kontrak yang belum dibukukan melonjak lebih dari dua kali lipat secara tahunan menjadi US$240 miliar.
“Kenaikan backlog didorong oleh permintaan yang kuat terhadap produk cloud kami, khususnya solusi AI untuk segmen korporasi,” ujar Pichai.
Adapun, layanan Gemini Enterprise kini telah memiliki lebih dari 8 juta pengguna berbayar, hanya empat bulan setelah diluncurkan.
Perkembangan AI Alphabet juga dimanfaatkan oleh industri secara luas. Perusahaan memasok hingga satu juta chip AI khusus kepada Anthropic, memperkuat posisinya sebagai penyedia infrastruktur utama di ekosistem AI.
Gemini juga akan menjadi penyedia teknologi AI untuk Siri di iPhone milik Apple Inc. Selain itu, Ashkenazi mengungkapkan agen AI kini telah menulis sekitar 50% kode internal Google.
Sementara itu, unit Other Bets Alphabet, yang mencakup perusahaan mobil otonom Waymo dan sejumlah bisnis eksperimental lainnya, membukukan pendapatan US$370 juta pada kuartal IV, turun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, dengan rugi operasional mencapai US$3,6 miliar. Angka tersebut lebih besar dari proyeksi analis yang memperkirakan rugi US$1,3 miliar.
Alphabet menyebut perusahaan turut menyumbang porsi signifikan dalam putaran pendanaan Waymo senilai US$16 miliar yang menilai perusahaan tersebut sebesar US$126 miliar. Biaya riset dan pengembangan Alphabet juga melonjak 42%, dipicu oleh kompensasi talenta AI dan dukungan untuk Waymo.
Di sisi lain, YouTube tetap menunjukkan kinerja solid. Platform video tersebut mencatat Shorts yaitu format video pendek pesaing Instagram Reels dan TikTok rata-rata meraih 200 miliar penayangan per hari. Pendapatan iklan dan langganan YouTube pada 2025 juga menembus US$60 miliar.