Misalnya, pelaksanaan MBG dengan data yang ada akan bisa dilihat daerah mana yang membutuhkan, daerah mana yang masih bisa dijadikan prioritas kedua, begitu pun yang lain
Jakarta (ANTARA) - Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan menyatakan implementasi government technology (govtech) dapat membantu meningkatkan efisiensi tata kelola pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Saat ini pihaknya sedang mengembangkan govtech tersebut sebagai ekosistem digital untuk integrasi data kementerian dan lembaga pemerintah yang dapat digunakan dalam pengawasan dan evaluasi berbagai program pemerintah.
“Misalnya, (pelaksanaan) MBG dengan data yang ada akan bisa dilihat daerah mana yang membutuhkan, daerah mana yang masih bisa dijadikan prioritas kedua, begitu pun yang lain,” tutur Luhut Binsar Pandjaitan di Jakarta, Senin.
Apalagi, ia menyoroti anggaran MBG yang cukup besar, yakni mencapai Rp268 triliun pada tahun ini, usai dipangkas dari pagu sebelumnya sebesar Rp335 triliun. Ia pun menekankan perlunya evaluasi untuk menjaga agar program tersebut benar-benar berjalan secara efisien.
Ia menilai, seharusnya dilakukan uji coba (piloting) terhadap program MBG sebelum dilakukan implementasi secara penuh, mengingat program tersebut bisa menghabiskan dana hingga Rp1 triliun setiap harinya, yang jika dimanfaatkan dengan benar akan mampu menggerakkan ekonomi masyarakat.
“Belum pernah (dalam) sejarah Indonesia kita bisa tiap hari ada dana (dibelanjakan) sampai ke bawah (level pedagang lokal dan UMKM) Rp1 triliun, dan itu memengaruhi ekonomi,” ujar Luhut.
Berbeda dengan pelaksanaan MBG, ia mengatakan pihaknya mengedepankan uji coba secara masif bagi pengembangan sistem govtech. Saat ini teknologi tersebut tengah dilakukan uji coba di 42 kabupaten dan satu provinsi, salah satunya di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.
Berkat implementasi sistem tersebut, pihaknya menemukan bahwa Program Bantuan Sosial (bansos) di kabupaten tersebut kurang efektif, yakni hanya 77 persen penyaluran bantuan yang tepat sasaran.
“Bisa dibayangkan betapa tidak efisiennya sistem di negara ini. (Berkat govtech ini) kami temukan juga banyak masyarakat yang seharusnya dapat bantuan, tapi mereka tidak dapat dari pemerintah, atau sebaliknya. Tapi sekarang setelah satu bulan (implementasi govtech), kami sudah perbaiki (penyalurannya),” kata Luhut.
Ia menuturkan, rencananya semua data kementerian dan lembaga pemerintah akan mulai terkoneksi dan terintegrasi dalam sistem govtech mulai 1 Juni 2026.
Pihaknya kemudian akan mengharmonisasikan dan menyusun data yang ada menggunakan bantuan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), sebelum sistem tersebut secara resmi diluncurkan oleh Presiden Prabowo Subianto pada Oktober 2026.
Ia pun optimistis sistem govtech tersebut dapat membantu Presiden Prabowo membuat keputusan secara lebih akurat, cepat dan detail terkait berbagai program dan kebijakan untuk mendukung realisasi Asta Cita pemerintah.
“Jadi, Presiden jangan nanti kita berikan data yang tidak benar,” imbuh Luhut.
Pewarta: Uyu Septiyati Liman
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026