Bisnis.com, JAKARTA - Perusahaan taksi Green SM tengah mendapat sorotan usai diduga memicu tabrakan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4/2026) malam.
Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero) Bobby Rasyidin mengatakan, kecelakaan tersebut diduga dimulai dengan adanya kejadian temper taksi listrik hijau atau dikenal dengan Green SM di perlintasan sebidang JPL 85.
"Ini kami curigai membuat sistem perkeretapian di Stasiun Bekasi Timur terganggu," katanya, Selasa (28/4/2026).
Dia menyerahkan investigasi lebih lanjut kepada Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) untuk mencari tahu penyebab kecelakaan secara lebih detail.
Merespons hal ini, Green SM Indonesia menyatakan perusahaan memberikan perhatian serius atas insiden di area perlintasan dekat Stasiun Bekasi Timur pada 27 April 2026 yang melibatkan satu unit kendaraan Green SM dan kereta yang sedang melintas.
"Kami telah menyampaikan informasi yang relevan kepada pihak berwenang serta mendukung penuh proses investigasi yang sedang berlangsung," ujar manajemen Green SM melalui akun Instagram @id.greensm dikutip Selasa (28/4/2026).
Lebih lanjut, perseroan menegaskan tetap berkomitmen menjaga standar keselamatan tinggi melalui sistem operasional, pengawasan, serta peningkatan kualitas layanan secara berkelanjutan.
"Kami akan terus memberikan perkembangan terbaru seiring dengan tersedianya informasi yang telah terverifikasi," kata Green SM.
Profil Green SM
Mengutip laman resminya, Selasa (28/4/2028), Green SM merupakan merek pertama layanan pemesanan mobil listrik dari Vietnam. Layanan taksi berwarna hijau ini seluruhnya menggunakan mobil listrik nasional Vietnam, VinFast.
Green SM bergerak di bawah Green and Smart Mobility Joint Stock Company (GSM), perusahaan yang focus pada penyewaan kendaraan ramah lingkungan dan cerdas. Pionir kendaraan listrik multi-platform pertama di dunia.
GSM beroperasi terutama di dua area, layanan pemesanan mobil listrik dan penyewaan mobil dan sepeda motor listrik dengan skala investasi 20.000 mobil dan 60.000 sepeda motor.
Perusahaan yang baru didirikan pada Maret 2023 lalu ini gencar melakukan ekspansi global salah satunya Indonesia. Berdasarkan catatan Bisnis, Green SM resmi mengaspal di Indonesia dengan nama Xanh SM pada 18 Desember 2024.
Konglomerat di Balik Green SM
Perusahaan ini didirikan konglomerat Vingroup, Pham Nhat Vuong pada tanggal 6 Maret 2023, dengan modal dasar sebesar 3.000 miliar dong Vietnam, di mana Pham Nhat Vuong memegang 95% sahamnya.
Perusahaan ini kemudian secara resmi mulai beroperasi di Hanoi pada tanggal 14 April 2023 dan terus memperluas usahanya ke Ho Chi Minh pada 27 April 2023 dan ke Laos pada Oktober tahun yang sama.
Per Mei 2024, Green SM sudah memiliki lebih dari 30.000 mobil listrik untuk taksi dengan 40% armadanya beroperasi di Vietnam.
Pendirinya, Pham Nhat Vuong, merupakan salah satu miliarder terkaya di Vietnam. Dia lahir pada 5 Agustus 1968 di Hanoi.
Dia tumbuh besar di Hanoi dan lulus dari Sekolah Menengah Atas Kim Lien pada 1985. Pham Nhat Vuong kemudian melanjutkan pendidikannya ke Hanoi Unversity of Mining and Geology sebelum kemudian dikirim ke Uni Soviet untuk belajar di Moscow Geological Prospecting Institute dan lulus pada 1992.
Usai menyelesaikan pendidikan, dia sempat tinggal di Ukraina, dan memulai bisnis restoran mi instan menggunakan uang pinjaman dari teman dan keluarga. Dengan bisnisnya yang semakin sukses, dia mulai memproduksi dan menjual mi instan dengan merek Mivina.
Pada 1993, dia mulai membesarkan namanya di industri kuliner dan mendirikan Technocom di Ukraina. Namun, perusahaan itu kemudian dijual ke Nestlé seharga US$150 juta pada 2009, sebelum dia kembali ke Vietnam.
Sekembalinya Vuong ke Vietnam, dia mulai mendirikan perusahaan hotel dan resort, dengan proyek pertamanya adalah Vinpearl Resort Nha Trang yang dibuka pada 2003, dan Vincom City Towers yang kini sudah berganti nama menjadi Vincom Ba Trieu di pusat kota Hanoi, yang dibuka pada 2004.
Perusahaannya semakin besar hingga Vuong membawa Vincom melantai di bursa saham pada 2007. Perusahaan ini bergabung dengan Vinpearl, bisnis resor mewah Vượng, untuk membentuk VinGroup pada 2007.
Pada 2015, Vuong mencatatkan namanya dalam sebagai orang terkaya di Vietnam dengan total aset sebesar sekitar US$1,1 miliar, yang kala itu lebih dari empat kali lipat dari orang terkaya kedua, Trần Đình Long dari Hanoi Hoa Phat Corporation.
Menurut Forbes, kekayaan real time Vuong kini meroket menjadi US$36,1 miliar per 28 April 2026. Kekayaannya bersumber dari berbagai perusahaannya di bidang real estat, ritel, kesehatan, dan kini kendaraan listrik.