Bisnis.com, GARUT — Harga sejumlah komoditas pangan di Kabupaten Garut, Jawa Barat mulai merangkak naik jelang perayaan Imlek dan Ramadan. Salah satunya cabai rawit.
Data per Jumat (13/2/2026) menunjukkan lonjakan paling signifikan terjadi pada kelompok cabai dan protein hewani, sementara beras dan gula relatif stabil sehingga menahan tekanan inflasi lebih dalam.
Cabai rawit merah tercatat menembus Rp 91.600 per kilogram atau naik 13,72% dibanding periode sebelumnya. Kenaikan juga terjadi pada cabai merah besar yang mencapai Rp 43.400 per kilogram naik 12,87% dan cabai merah keriting Rp 45.050 per kilogram naik 11,65%. Sementara cabai rawit hijau berada di level Rp 58.250 per kilogram atau naik 1,22 persen.
Di sisi protein hewani, daging ayam ras segar naik 10,12% menjadi Rp 41.350 per kilogram. Telur ayam ras segar turut terkerek 8,22% ke posisi Rp30.950 per kilogram. Berbeda dengan ayam dan telur, harga daging sapi kualitas 1 dan 2 masih stabil masing-masing di Rp145.550 dan Rp136.800 per kilogram.
Untuk komoditas pangan pokok, harga beras cenderung terkendali. Beras kualitas bawah I berada di Rp 13.850 per kilogram dan bawah II Rp13.300 per kilogram, masing-masing naik tipis Rp 50. Beras medium I dan II masing-masing Rp15.150 dan Rp14.500 per kilogram, juga naik Rp 50. Beras super I tercatat Rp16.700 per kilogram, sedangkan super II stabil di Rp15.700 per kilogram.
Sementara itu, gula pasir premium dan lokal tidak mengalami perubahan harga, masing-masing di Rp18.950 dan Rp18.000 per kilogram. Minyak goreng mulai menunjukkan kenaikan tipis, yakni minyak curah Rp 20.500 per kilogram naik Rp200, minyak kemasan bermerek 1 Rp21.900 per kilogram naik Rp 100, dan bermerek 2 Rp 21.300 per kilogram naik Rp 200.
Pantauan di Pasar Ciawitali Garut menunjukkan aktivitas transaksi mulai meningkat, terutama pada lapak cabai dan ayam potong. Sejumlah pedagang menyebut kenaikan harga cabai sudah berlangsung dalam beberapa hari terakhir. “Pasokan agak seret dari petani, sementara pembeli mulai banyak karena mau Imlek dan persiapan puasa,” ujar seorang Hartono, pedagang cabai di Pasar Ciawitali.
Di los ayam, pedagang mengakui permintaan dari rumah tangga dan pelaku usaha kuliner mulai naik. Beberapa pembeli membeli dalam jumlah lebih besar dari biasanya untuk kebutuhan acara keluarga dan stok awal Ramadan. Meski demikian, transaksi beras terpantau normal tanpa lonjakan pembelian signifikan. Pembeli cenderung membeli sesuai kebutuhan harian. Pedagang beras menyebut distribusi masih lancar dan belum ada gangguan pasokan.
Secara struktur, kenaikan harga saat ini didominasi kelompok volatile food, terutama cabai dan ayam. Komoditas tersebut secara historis menjadi penyumbang utama inflasi pangan jelang hari besar keagamaan.
Kenaikan dua digit pada cabai menunjukkan tekanan pasokan yang cukup kuat, diduga dipengaruhi faktor cuaca dan distribusi. Jika tren ini berlanjut dalam dua hingga tiga pekan ke depan, harga cabai rawit merah berpotensi menembus level Rp 100.000 per kilogram.
Di sisi lain, stabilnya harga beras dan gula menjadi penahan laju inflasi pangan Garut. Komoditas tersebut memiliki bobot besar dalam konsumsi rumah tangga, sehingga kestabilannya membantu menjaga daya beli masyarakat.