Bisnis.com, JAKARTA - Pemulihan kinerja sektor telekomunikasi nasional belum bertenaga pada kuartal III/2025 lantaran yield data yang masih lemah.
Berdasarkan laporan BRI Danareksa Sekuritas pada Kamis (23/10/2025), tren kenaikan harga data atau yield recovery masih terbatas, dipimpin oleh pelemahan PT Indosat Ooredoo Hutchison Tbk. (ISAT), pergerakan datar pada Telkomsel anak usaha PT Telkom Indonesia Tbk. (TLKM), dan hasil beragam pada tiga merek di bawah naungan PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk. (EXCL).
Pemantauan harga periode Juni–September 2025 menunjukkan arah yang bervariasi. Dengan asumsi mayoritas pelanggan memakai paket bulanan, peningkatan yield data masih lemah.
Yield data adalah ukuran berapa banyak pendapatan yang diperoleh operator dari setiap gigabyte (GB) data yang dikonsumsi pelanggan.
Telkomsel tercatat turun tipis 0,5% (qoq), EXCL menunjukkan hasil campuran — XL naik 5,6%, Axis turun 7,6%, Smartfren naik 1,2% — sedangkan ISAT mencatat penurunan paling tajam, yakni IM3 turun 5,5% dan Hutch 8,2%.
Menurut analis BRI Danareksa Kafi Ananta dan Erindra Krisnawan, kondisi ini menunjukkan pemulihan harga data belum terjadi karena daya beli konsumen dan permintaan layanan masih tertahan.
Imbasnya, ada potensi penurunan laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) sekitar 0,2%–3,5% dibanding proyeksi awal. ISAT menjadi operator dengan risiko paling besar, sementara TLKM diperkirakan mencatat kinerja yang lebih stabil.
Secara valuasi, ISAT kini diperdagangkan di 4,1 kali EV/EBITDA tahun 2025, lebih rendah dari TLKM (5,1x) dan EXCL (4,8x). Perbedaan ini dianggap mencerminkan lemahnya kinerja yield ISAT, yang belum menunjukkan perbaikan seperti yang diharapkan pada paruh kedua tahun ini.
Meski demikian, BRI Danareksa tetap mempertahankan rekomendasi Overweight untuk sektor telekomunikasi, dengan TLKM sebagai saham pilihan utama dan target harga Rp3.500 berkat stabilitas kinerja dan potensi katalis positif dari rencana spin-off InfraCo.
ISAT dinilai masih menarik dari sisi valuasi karena potensi penurunan yang terbatas dan posisinya yang kini berada di bawah rata-rata tiga tahun terakhir. Sementara itu, EXCL masih wait and see hingga ada kejelasan sinergi merger dan dampak biaya integrasi terhadap kinerja keuangan.