Bisnis.com, MAJALENGKA- Perkembangan harga berbagai komoditas di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat sepanjang Januari 2026 secara umum menunjukkan kecenderungan meningkat.
Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Majalengka mencatat inflasi secara tahunan (year-on-year/y-on-y) sebesar 3,09%, seiring naiknya Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 106,88 pada Januari 2025 menjadi 110,18 pada Januari 2026.
Kepala BPS Kabupaten Majalengka, Joni Kasmuri, mengatakan inflasi y-on-y tersebut mencerminkan tekanan harga yang masih cukup kuat, terutama pada kelompok pengeluaran kebutuhan dasar rumah tangga.
“Kenaikan harga masih terjadi di hampir seluruh kelompok pengeluaran, dengan kontribusi terbesar berasal dari perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga,” ujarnya, Selasa (3/2/2026).
Meski demikian, secara bulanan (month-to-month/m-to-m), Majalengka justru mengalami deflasi sebesar 0,11%. Sementara tingkat deflasi tahun berjalan (year-to-date/y-to-d) juga tercatat 0,11%, menandakan adanya penurunan harga dibandingkan Desember 2025.
BPS mencatat inflasi y-on-y dipicu oleh kenaikan indeks di sepuluh kelompok pengeluaran. Kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga mencatat kenaikan tertinggi sebesar 9,25%.
Disusul kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang melonjak 21,44%, kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 3,16%, serta kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 2,83%.
Kenaikan juga terjadi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 1,40%, perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 1,71%, pendidikan sebesar 1,37%, penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 0,75%, transportasi sebesar 0,18%, dan kesehatan sebesar 0,01%. Satu-satunya kelompok yang mengalami penurunan indeks adalah informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,37%.
Menurut Joni, sejumlah komoditas menjadi penyumbang utama inflasi y-on-y Januari 2026.
“Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi antara lain emas perhiasan, tarif listrik, beras, sigaret putih mesin (SPM), daging ayam ras, ketimun, sigaret kretek tangan (SKT), telur ayam ras, sigaret kretek mesin (SKM), hingga upah asisten rumah tangga,” jelasnya.
Selain itu, komoditas hortikultura dan kebutuhan rumah tangga seperti wortel, petai, daun bawang, serta kebutuhan pendidikan dan konsumsi seperti tas sekolah, baju muslim wanita, nasi dengan lauk, pasta gigi, popok bayi sekali pakai, dan biaya sekolah menengah atas turut mendorong inflasi tahunan.
Di sisi lain, terdapat sejumlah komoditas yang menahan laju inflasi karena memberikan andil deflasi y-on-y. Komoditas tersebut antara lain cabai merah, cabai rawit, bawang putih, bawang merah, minyak goreng, bensin, jeruk, jengkol, pisang, semangka, tomat, serta barang nonpangan seperti telepon seluler, sepeda, dan air kemasan.
Untuk inflasi bulanan, emas perhiasan kembali menjadi penyumbang utama inflasi m-to-m, disusul tomat, SKT, ketimun, bawang putih, telur ayam ras, serta komoditas konsumsi seperti makanan ringan dan sate.
Sementara deflasi m-to-m terutama dipicu turunnya harga daging ayam ras, bawang merah, bensin, cabai merah, dan sejumlah buah-buahan.
“Ke depan, pergerakan harga komoditas pangan dan energi tetap perlu diwaspadai karena sangat menentukan stabilitas inflasi di Majalengka,” kata Joni.