Bisnis.com, JAKARTA — Emiten tekstil PT Trisula Textile Industries Tbk. (BELL) menjelaskan penyebab kenaikan harga saham perseroan hingga ratusan persen sejak awal tahun.
Direktur BELL Heru Jatmiko Harrianto menjelaskan berita terkait rencana pemerintah yang menyiapkan dana sekitar Rp101 triliun untuk menopang dan membangkitkan industri tekstil nasional menjadi penyebab utama naiknya harga saham perseroan.
“Pemberitaan mengenai rencana pemerintah menyiapkan stimulus Rp101 triliun untuk menopang dan membangkitkan industri tekstil menjadi penyebab utama naiknya harga saham perseroan,” kata Heru, Selasa (28/1/2026).
Lebih lanjut, Heru melihat tahun 2026 menjadi tahun yang menantang bagi perseroan, dengan adanya ketegangan geopolitik yang mungkin akan berpengaruh terhadap industri tekstil nasional.
Akan tetapi, lanjutnya, BELL tetap optimistis tumbuh di tengah kondisi tersebut.
“Keunggulan produk perseroan yang memiliki keunikan serta kemampuan untuk menyesuaikan pesanan, ditopang fleksibilitas order yang ditawarkan menjadi senjata utama dalam menghadapi dinamika dan ketidakpastian pasar,” ujarnya.
BELL juga menyebut persaingan usaha BELL saat ini cukup ketat, terutama dengan maraknya barang impor ilegal dengan harga yang murah yang membanjiri pasar dalam negeri.
Namun, di tengah tantangan tersebut, BELL memiliki posisi yang solid karena mampu menciptakan produk yang menciptakan produk dalam negeri maupun produk luar negeri. Selain itu, target pelanggan BELL berada pada level menengah ke atas, sehingga produk impor dengan harga murah tidak memberikan dampak yang signifikan bagi perseroan.
Sebagai informasi, saham BELL tercatat telah menguat hingga 188,41% sejak awal tahun. Saham BELL saat ini tengah disuspensi dan berada pada level Rp199 per saham.
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menuturkan Presiden Prabowo Subianto memutuskan untuk membentuk Badan Usaha Milik Negara (BUMN) baru yang didedikasikan khusus untuk sektor tekstil.
Airlangga mengungkapkan pembentukan BUMN tekstil usai menggelar rapat terbatas dengan Presiden Prabowo di Hambalang pada Minggu (11/1/2026).
Pembentukan entitas pelat merah baru ini bertujuan untuk memperkuat struktur industri tekstil nasional yang tengah menghadapi tekanan tarif global dan persaingan ketat.
"Bapak Presiden mengingatkan kita pernah mempunyai BUMN tekstil dan ini akan dihidupkan kembali, sehingga pendanaan US$6 miliar nanti akan disiapkan oleh Danantara," ujar Airlangga usai hadiri IBC Business Outlook 2026 di Jakarta, Rabu (14/1/2026).
Mantan menteri perindustrian itu menegaskan bahwa pemerintah tidak akan menghidupkan kembali entitas BUMN tekstil lama yang sudah mati, melainkan membentuk perusahaan baru. Dana sebesar US$6 miliar tersebut nantinya akan dikelola oleh Danantara dalam bentuk fund untuk memberikan insentif dan pembiayaan bagi sektor tersebut.
______
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.