Bisnis.com, JAKARTA — Laporan terbaru yang dirilis Climate Action Against Disinformation (CAAD) dan Climainfo Institute mengungkap lonjakan signifikan iklan Google Ads oleh perusahaan-perusahaan minyak raksasa selama 10 bulan menjelang Konferensi Perubahan Iklim COP30 di Belem, Brasil. Jumlah iklan yang ditayangkan di Brasil bahkan melonjak hingga 2.900% hanya dalam kurun September dan Oktober 2025.
CAAD dan Climainfo menyebutkan lonjakan iklan tersebut menunjukkan bagaimana industri energi fosil memanfaatkan kekuatan finansial untuk mempertahankan legitimasi sosial dalam menyumbang polusi, tepat menjelang pembukaan perundingan COP30.
Petrobras, perusahaan minyak milik negara yang bertanggung jawab atas 86% insiden minyak di Brasil, tercatat menayangkan 665 iklan selama 10 bulan pertama 2025.
Secara global, jumlah iklan Google oleh perusahaan minyak meningkat 218% pada Oktober, dari 1.939 iklan atau rata-rata 65 iklan per hari pada September, menjadi rata-rata 206 iklan per hari di Oktober, atau sekitar 6.384 iklan secara total.
Aramco yang didukung pemerintah Arab Saudi meningkatkan jumlah iklan sebesar 469,2% dalam sebulan dengan total lebih dari 10.000 iklan. TotalEnergies meningkatkan iklannya sebesar 106,5%, ExxonMobil sebesar 156,3%, meski kenaikan terlihat lebih kecil karena volume iklan mereka memang sudah tinggi. Sebaliknya, BP yang memulai tahun dengan jumlah iklan rendah, mencatat lonjakan terbesar dengan kenaikan 1.369,2%.
“Setiap tahun industri minyak menghabiskan dana besar untuk greenwashing dan disinformasi, dan sudah saatnya pembuat kebijakan berhenti membiarkan perusahaan Big Tech seperti Google meraup keuntungan dari kebohongan yang digunakan untuk membenarkan polusi yang membunuh manusia dan planet ini,” ujar Philip Newell, Co-Chair Komunikasi CAAD.
Peneliti Climainfo, Renata Albuquerque Ribeiro, yang memimpin analisis tersebut, mengemukakan peningkatan intensitas iklan Google Ads terjadi pada momen krusial di bulan-bulan menjelang COP30.
“Mereka tahu ini adalah momen krusial ketika negara-negara akan menentukan langkah berikutnya dalam transisi energi. Negara-negara harus memanfaatkan momentum strategis ini untuk merancang dan menyetujui peta jalan menuju penghentian bahan bakar fosil,” katanya.
“Kami menilai praktik greenwashing dalam iklan perusahaan fosil menjadi ancaman serius terhadap integritas informasi iklim,” tambah Travis Coan dari C3DS.
Sementara itu, salah satu pendiri ACT Climate Labs, Florencia Lujani menilai periklanan bahan bakar fosil perlu dihentikan secara bertahap dan segera. Dia berpandangan bahwa industri fosil berbeda secara fundamental dari industri lainnya karena mereka menyesatkan publik tentang perubahan iklim selama puluhan tahun, menjadi penyumbang terbesar emisi global, dan secara aktif menghambat aksi iklim.
“Tidak seharusnya agensi maupun pemilik media bekerja sama dengan klien bahan bakar fosil, karena tidak ada industri lain yang menggabungkan dampak langsung sebesar ini dengan greenwashing dan ancaman terhadap integritas informasi dalam skala serupa,” kata Lujani.
Penelitian dilakukan oleh CAAD bersama Centre for Climate Communication and Data Science (C3DS) di University of Exeter serta Climainfo Institute. Basis data yang digunakan mencakup informasi iklan Google dari 42 perusahaan di sektor ekstraktif dan industri berat, termasuk 24 perusahaan minyak.