Bisnis.com, JAKARTA — Saham properti seperti BSDE, CTRA, SMRA, PWON, APLN, hingga PANI melaju di tengah kabar perpanjangan pajak pertambahan nilai ditanggung pemerintah (PPN DTP) di sektor perumahan hingga 2027.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), indeks saham properti menguat 1,40% ke level 982,18 pada perdagangan sesi I, Senin (20/10/2025). Total, sebanyak 37 saham menguat, 24 saham turun, dan 31 saham stagnan.
Saham PT Agung Podomoro Land Tbk. (APLN) memimpin penguatan saham properti dengan kenaikan 5,21% menuju level Rp101 per saham. Posisi itu disusul PT Bumi Serpong Damai Tbk. (BSDE) yang menguat 4,89% ke Rp965.
Saham PT Lippo Karawaci Tbk. (LPKR) juga naik 4,55%, lalu PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk. (PANI) tumbuh 3,38%, PT Intiland Development Tbk. (DILD) menguat 3,20%, dan PT Summarecon Agung Tbk. (SMRA) tumbuh 2,63%.
Adapun saham PT Alam Sutera Realty Tbk. (ASRI) naik 2,44%, kemudian saham PT Pakuwon Jati Tbk. (PWON) terapresiasi sebesar 2,29%, dan PT Ciputra Development Tbk. (CTRA) membukukan pertumbuhan 1,69%.
Analis Reliance Sekuritas Indonesia Arifin mengatakan bahwa saham sektor properti berpotensi pulih seiring berlanjutnya insentif PPN DTP hingga 2027.
“Properti berpeluang positif karena kebijakan Kementerian Keuangan memperpanjang insentif PPN DTP untuk pembelian rumah hingga 2027. Artinya pembelian rumah akan digratiskan PPN sampai tahun tersebut,” ucapnya.
Seperti diketahui, kebijakan itu disampaikan langsung oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam konferensi pers APBN Kita edisi Oktober 2025.
Purbaya mengatakan fasilitas pembebasan PPN tetap berlaku untuk rumah seharga Rp5 miliar, dengan keringanan diberikan untuk Rp2 miliar pertama.
“Ini akan dinikmati sekitar 40.000 unit per tahun. Jadi, semacam dorongan baru ke sektor properti," ucapnya di gedung Kementerian Keuangan (Kemenkeu).
Fasilitas yang semula berakhir pada 31 Desember 2026 kini akan kembali diperpanjang hingga 31 Desember 2027. Kemenkeu akan segera menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) untuk mengatur detail penerapannya.
_______
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.