Bisnis.com, JAKARTA -- Koefisien kecerdasan (Intelligence Quotion/IQ) adalah salah satu pengukur kecerdasan manusia. Orang yang ingin mengukur IQ mereka harus mengikuti tes standar dan menerima skor yang menentukan tingkat kecerdasan mereka. Semakin tinggi skor IQ seseorang, semakin cerdas orang tersebut dianggap.
Skor IQ biasanya mencerminkan kualitas pendidikan dan sumber daya yang tersedia bagi masyarakat di wilayah geografis setempat.
Daerah-daerah di dunia dengan skor IQ lebih rendah biasanya lebih miskin dan kurang berkembang, terutama di bidang pendidikan, dibandingkan dengan negara-negara dengan skor IQ lebih tinggi.
Banyak peneliti juga menggunakan IQ untuk menentukan negara-negara terpintar di dunia. Peta IQ di atas mewarnai setiap negara tergantung pada seberapa tinggi skor IQ rata-rata di negara tersebut.
Lantas, negara manakah yang memiliki IQ rata-rata tertinggi tahun ini?
Berdasarkan data International IQ Test (IIT), berikut ini deretan negara dengan rerata IQ tertinggi di dunia:
1. Korea Selatan: 106,97
2. China: 106,48
3. Jepang: 106,3
4. Iran: 104,8
5. Australia: 104,45
6. Federasi Rusia: 103,78
7. Singapura: 103.56 6880 105.14 (5159) -1.58
8. Mongolia: 102,61
9. Selandia Baru: 102,35
10. Vietnam: 102,26
11. Spanyol: 102,24
12. Siprus: 102,12
13. Kanada: 102,09
14. Britania Raya: 101,57
15. Sri Lanka: 101,22
16. Slovenia: 101,15
17. Belarus: 101,05
18. Amerika Serikat: 101,04
19. Albania: 101
20. Swiss: 100,84
Dalam data tersebut, di antara 137 negara yang berpartisipasi, Indonesia menempati urutan ke 126 dengan rata-rata IQ 89,96.
Perbedaan antar negara dapat mencerminkan banyak faktor. Para peneliti membahas beberapa faktor yang mempengaruhi seperti:
1. Beban kesehatan (termasuk paparan penyakit menular)
Sebuah studi tahun 2010 menemukan bahwa negara-negara dengan beban penyakit menular yang lebih tinggi seringkali mendapat skor lebih rendah pada tes kognitif, berpotensi melalui dampak pada perkembangan dan pendidikan. Afrika termasuk di antara wilayah yang paling terdampak oleh penyakit menular.
2. Nutrisi dan ketahanan pangan:
Sebuah studi tahun 2024 menunjukkan bahwa anak-anak dengan pola makan yang lebih sehat cenderung mendapat skor lebih tinggi pada pengukuran IQ. Akibatnya, negara-negara dengan pola makan yang lebih sehat (dan kurangnya kerawanan pangan) mungkin menunjukkan skor rata-rata yang lebih tinggi.
3. Kesempatan belajar dan stimulasi kognitif
Sebuah studi tahun 2022 melaporkan bahwa bermain catur secara teratur dapat meningkatkan kinerja anak-anak pada pengukuran yang berkaitan dengan IQ.
Sebuah studi klasik tahun 1962 menemukan bahwa anak-anak bilingual berkinerja lebih baik pada tes kecerdasan tertentu daripada anak-anak monolingual. Secara lebih luas, aktivitas yang merangsang kognitif yang dipraktikkan secara teratur dalam suatu budaya dapat dikaitkan dengan kinerja penalaran yang lebih kuat.
4. Genetika (pengaruh dalam populasi):
Sebuah studi kembar tahun 2013 melaporkan bahwa perkiraan heritabilitas IQ seringkali berada dalam kisaran 50%–80%, tergantung pada usia dan populasi.
Secara keseluruhan, negara-negara dengan sistem kesehatan yang lebih kuat, nutrisi yang lebih baik, dan akses yang lebih luas ke pendidikan berkualitas tinggi dan lingkungan yang memperkaya kognitif cenderung mendapatkan skor lebih tinggi pada tes berbasis penalaran.
Namun, data tinggi rendahnya rerata IQ tiap negara tak hanya berdasarkan faktor-faktor tersebut semata, tapi juga dari sisi keterlibatan warga tiap negara mengambil tes dalam situs IIT.
Beberapa negara mungkin tampak memiliki terlalu sedikit peserta untuk dianggap representatif. Namun, ketika membandingkan rata-rata mereka dari tahun ke tahun, 76,47% dari negara-negara ini hanya bergeser kurang dari 2 poin. Oleh karena itu, rata-rata mereka nampak kurang stabil dibandingkan dengan negara-negara dengan sampel yang lebih besar.