Bisnis.com, JAKARTA— Persaingan industri peluncuran roket komersial semakin memanas seiring meningkatnya kebutuhan layanan antariksa di berbagai negara.
Di tengah dominasi Amerika Serikat dan China, sejumlah startup di kawasan Asia mulai berlomba mengembangkan teknologi peluncuran roket sendiri.
Salah satunya adalah perusahaan rintisan asal Korea Selatan Unastella yang baru saja mengantongi pendanaan Seri B senilai US$24 juta atau sekitar Rp427,2 miliar.
Dengan tambahan dana tersebut, total pendanaan yang telah dihimpun perusahaan mencapai US$44 juta atau sekitar Rp783,2 miliar.
Melansir laman TechCrunch pada Senin (1/6/2026) perusahaan yang berbasis di Seoul itu mengembangkan kendaraan peluncur dan mesin roket secara mandiri dengan fokus awal pada layanan peluncuran satelit berukuran kecil.
Pada Mei 2025, Unastella berhasil meluncurkan roket buatannya sendiri yang diberi nama UNA EXPRESS-I, dari wilayah Korea Selatan.
Pendiri sekaligus CEO Unastella Jae Park mengatakan perusahaan saat ini berfokus membuktikan kemampuan teknologinya melalui berbagai misi peluncuran menuju orbit. Dalam jangka panjang, perusahaan juga menargetkan layanan penerbangan antariksa suborbital berawak.
Unastella menggunakan sistem propulsi berbahan bakar minyak tanah (kerosin) dan oksigen cair, kombinasi yang telah lama digunakan dalam industri roket, termasuk pada roket Falcon milik SpaceX.
Perusahaan juga mengadopsi teknologi pompa motor listrik sebagai pengganti turbo pump konvensional yang umumnya digunakan pada roket.
Teknologi tersebut dinilai lebih sederhana dan lebih murah untuk diproduksi. Namun, penggunaan pompa motor listrik membuat bobot roket bertambah sehingga kapasitas muatan menjadi lebih kecil dibandingkan sistem konvensional.
Menurut Park, pilihan tersebut sengaja diambil demi mempercepat komersialisasi produk.
"Kami bukan kelompok penelitian dan pengembangan yang berusaha membangun roket paling mengesankan. Kami adalah perusahaan peluncuran komersial yang ingin masuk ke pasar secepat mungkin," ujarnya.
Dia menjelaskan seluruh proses pengembangan dilakukan secara internal, mulai dari desain, manufaktur, operasi darat hingga pengolahan data penerbangan.
Peluncuran UNA EXPRESS-I menjadi uji coba pertama yang mengintegrasikan seluruh sistem tersebut dalam kondisi operasional sebenarnya.
Park sendiri telah menghabiskan sebagian besar kariernya di bidang pengembangan mesin roket. Sebelum mendirikan Unastella, dia terlibat dalam pengembangan sistem pembakaran untuk roket Nuri, kendaraan peluncur orbital pertama yang dikembangkan Korea Selatan melalui Korea Aerospace Research Institute (KARI).
Dia kemudian melanjutkan karier di German Aerospace Center di Berlin untuk mengembangkan mesin kendaraan peluncur Eropa sebelum kembali ke Korea Selatan dan bergabung dengan startup roket lain. Pengalaman tersebut akhirnya mendorongnya mendirikan Unastella.
Meski belum membukukan pendapatan, peta jalan bisnis perusahaan dinilai cukup menjanjikan bagi investor. Pendanaan Seri B dipimpin oleh Altos Ventures dengan partisipasi dari Korea Development Bank, Strong Ventures, dan Hana Ventures.
Ke depan, perusahaan tengah mempersiapkan peluncuran UNA EXPRESS-II yang ditargetkan berlangsung pada akhir tahun ini. Park menilai keberhasilan mencapai ketinggian 100 kilometer akan menjadi tonggak penting yang berpotensi membuka kerja sama dengan perusahaan-perusahaan besar di sektor dirgantara dan pertahanan Korea Selatan.
Saat ini Unastella memiliki 22 karyawan dan telah menjalin sejumlah kerja sama dengan lembaga pemerintah. Badan antariksa nasional Korea Selatan telah menerbangkan beberapa komponen dalam misi UNA EXPRESS-I, sementara KARI telah mentransfer teknologi pompa motor listrik kepada perusahaan tersebut.
Unastella bukan satu-satunya perusahaan yang berupaya memanfaatkan pertumbuhan pasar peluncuran antariksa global. Berdasarkan proyeksi Grand View Research, nilai pasar peluncuran antariksa dunia mencapai sekitar US$15 miliar atau sekitar Rp267 triliun pada 2023 dan diperkirakan meningkat hampir tiga kali lipat menjadi US$41 miliar atau sekitar Rp729,8 triliun pada 2030.
Di Korea Selatan, industri peluncuran komersial masih berada pada tahap awal, tetapi mulai menunjukkan perkembangan yang signifikan.
Perusahaan pertahanan terbesar negara tersebut Hanwha Aerospace mengambil alih pengelolaan roket Nuri pada tahun lalu setelah memperoleh hak teknologi penuh dari KARI.
Selain itu, terdapat 2 startup lain yang turut bersaing, yakni Innospace yang telah melantai di bursa saham Korea Selatan dan berhasil melakukan peluncuran suborbital, serta Perigee Aerospace yang sedang mengembangkan roket Blue Whale.
Meski demikian, belum ada perusahaan swasta Korea Selatan yang berhasil melakukan peluncuran orbital komersial.
Pemerintah Korea Selatan juga menunjukkan dukungan terhadap sektor ini. Badan antariksa nasional Korea Selatan, Korea AeroSpace Administration (KASA), yang dibentuk pada 2024, telah menyiapkan anggaran US$266 juta atau sekitar Rp4,73 triliun selama tujuh tahun untuk membangun infrastruktur peluncuran antariksa.
Persaingan juga berlangsung di tingkat regional. China masih menjadi pemain terdepan dengan sejumlah perusahaan seperti Galactic Energy, LandSpace, dan iSpace yang telah melaksanakan berbagai peluncuran.
Di Jepang, roket H3 yang dikembangkan oleh Japan Aerospace Exploration Agency (JAXA) bersama Mitsubishi Heavy Industries berhasil menjalankan peluncuran pertamanya pada 2024. Sementara itu, startup Interstellar Technologies juga tengah mengembangkan kendaraan peluncur satelit berukuran kecil.
Di Australia, Gilmour Space Technologies melakukan upaya peluncuran orbital perdananya pada tahun ini. Adapun Rocket Lab yang didirikan di Selandia Baru dan kini tercatat di Nasdaq masih menjadi satu-satunya perusahaan yang berasal dari Asia-Pasifik yang berhasil membangun bisnis peluncuran roket komersial yang berkelanjutan.