Bisnis.com, JAKARTA - Material lokal semakin menunjukkan daya saingnya di industri kreatif Indonesia. Dari kulit sapi lokal hingga mutiara Lombok, berbagai bahan dalam negeri kini tidak lagi dipandang sebagai alternatif, melainkan menjadi fondasi utama dalam menciptakan produk fesyen dan perhiasan bernilai tinggi.
Selain menawarkan kualitas yang mampu bersaing di pasar global, pemanfaatan material lokal juga memperkuat identitas budaya, mendorong keberlanjutan, dan menggerakkan ekonomi daerah melalui pemberdayaan para perajin.
Material lokal kini tak lagi dipandang sebelah mata di industri mode Indonesia. Jika sebelumnya bahan-bahan lokal kerap dianggap kalah bersaing dibanding material impor, kini semakin banyak pelaku usaha fesyen dan perhiasan justru menjadikannya sebagai kekuatan utama dalam menciptakan produk bernilai tinggi dan berkarakter.
Beragam material dari dalam negeri mulai dari kain tradisional, serat alam, kayu, kerang, batu alam, hingga limbah olahan kini diolah menjadi produk mode dan aksesori yang mampu menarik perhatian pasar.
Tidak hanya mengedepankan estetika, penggunaan bahan lokal juga dinilai memberi nilai tambah karena menghadirkan identitas budaya, keberlanjutan, sekaligus memberdayakan pengrajin daerah.
Salah satu pelaku usaha yang memanfaatkan potensi material lokal adalah Rafi Rasyad R melalui brand Sendy Leather. Ia menilai produk berbahan kulit lokal saat ini semakin kompetitif di pasar. Didukung kemampuan para perajin lokal yang telah terasah serta dipadukan dengan desain yang lebih modern, Rafi optimistis kualitas produknya mampu bersaing dengan berbagai merek besar.
Ide mengolah bahan lokal menjadi fesyen tak lepas dari peran sang ibu yang telah lama berkecimpung sebagai supplier kulit. Selain berpengalaman di industri tersebut, ibunya juga merupakan lulusan Akademi Teknologi Kulit sehingga memiliki pengetahuan mendalam mengenai pengolahan dan kualitas material kulit.
Berbekal pengalaman di industri kulit, ibunya kemudian memasok bahan baku ke sentra industri Tanggulangin di Sidoarjo yang dikenal sebagai salah satu pusat kerajinan kulit di Indonesia. Dari aktivitas tersebut, muncul gagasan dari anak-anaknya untuk tidak hanya menjadi pemasok bahan, tetapi juga membangun merek sendiri.
Ide itu kemudian berkembang menjadi awal berdirinya Sendy Leather sekitar tahun 2012. Sejak saat itu, brand tersebut mulai mengembangkan produk kulit dengan memanfaatkan pengalaman keluarga di bidang material kulit sekaligus menghadirkan desain yang lebih sesuai dengan kebutuhan pasar.
"Mayoritas produk kami menggunakan kulit sapi lokal. Hanya beberapa item edisi khusus yang berbahan kulit eksotis lain," katanya.
Dia menjelaskan produknya menggunakan kulit sapi asli berkualitas full grain yang berasal dari sapi lokal jenis java box. Material tersebut dikenal di industri penyamakan kulit karena karakter bahannya yang lembut dan halus, sehingga nyaman digunakan sekaligus memiliki daya tahan yang baik. Selain itu, produknya juga dirancang lebih ringan agar tetap nyaman dipakai pelanggan dalam aktivitas sehari-hari.
Tak hanya memperhatikan kualitas bahan utama, Sendy Leather juga menggunakan aksesori dan hardware yang diklaim tahan karat, kuat, serta tidak mudah pudar. Dari sisi produksi, kapasitas pembuatan tas mencapai sekitar 2.500 unit per bulan, sementara untuk produk seperti dompet dan lanyard dapat diproduksi hingga sekitar 5.000 unit.
Terkait jenis produk, dirinya banyak memproduksi berbagai perlengkapan kerja, seperti lanyard dan beragam jenis tas yang digunakan pekerja kantoran. Fokus tersebut dipilih karena kebutuhan akan produk penunjang aktivitas kerja dinilai terus berkembang.
Adapun untuk desain, dirinya mengadopsi gaya yang modern dengan tampilan yang cenderung sederhana dan timeless sehingga tetap relevan digunakan dalam berbagai situasi. Produknya telah dipasarkan ke sejumlah negara, termasuk Filipina hingga Rusia.