BENGKULU, KOMPAS.com - Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Bengkulu mengandalkan pesantren di daerah itu untuk mengendalikan inflasi menyasar program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Inovasi BI perwakilan Bengkulu ini, dikemas dalam program "Wakaf Trendi".
Program ini dirancang untuk memacu produktivitas serta pemberdayaan ekonomi di lingkungan pesantren agar mampu memiliki unit usaha mandiri yang kompetitif dengan target menjadi salah satu pengendali inflasi.
SHUTTERSTOCK/PHOTOCREO MICHAL BEDNAREK Ilustrasi wakaf.Pada tahun 2026 ini, BI memperluas cakupan program dengan menyasar tiga pesantren sebagai penerima manfaat.
Langkah ini merupakan peningkatan signifikan dibandingkan tahun lalu yang baru memulai dengan satu program inisiasi.
"Wakaf Trendi ini adalah bagian dari inovasi Bank Indonesia untuk mendorong produktivitas dan pemberdayaan pesantren. Tahun ini kami menjalankan tiga program wakaf yang dananya dialokasikan untuk tiga pesantren," ujar Kepala Perwakilan BI Provinsi Bengkulu, Wahyu Yuwana Hidayat, dalam keterangan tertulis, Selasa (17/3/2016).
Wakaf TRENDI (Trengginas, Edukatif, Mandiri) berfokus pada produktivitas untuk kemandirian pangan santri.
Adapun dana tersebut didapat BI melalui dompet digital mengumpulkan dana dari masyarakat (crowd funding), kemudian dana tersebut diwakafkan ke pesantren untuk mengembangkan usaha produktif dalam bidang pertanian dan pertenakan.
Wahyu menjelaskan, pada 2026, dana yang dikumpulkan akan dimanfaatkan untuk budidaya cabai seluas dua hektar di Pondok Pesantren Entrepreneur Hafidz Qur'an, Kabupaten Kepahiang, Bengkulu.
Dok. SHUTTERSTOCK Ilustrasi wakaf.Kemudian, budidaya ayam petelur, sebanyak 400 ekor, dikelola oleh Pondok Pesantren Al-Karim, Kota Bengkulu.
Terakhir, budidaya sayuran hidroponik pakcoy dan selada di Pondok Pesantren Abdurrahman Al-Fatih, Kota Bengkulu.
Menurutnya, pengembangan unit usaha di pesantren ini bertujuan untuk mengatasi masalah di sisi produksi terutama produksi bahan pangan.
Harapannya, dengan memiliki usaha produktif, pesantren tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan internal, tetapi juga bersinergi dengan pasar yang lebih luas untuk memenuhi kebutuhan masyarakat termasuk menyuplai kebutuhan MBG.
Ia menambahkan, salah satu target strategis dari produksi pesantren ini adalah mendukung program nasional pemerintah.
"Selain untuk pasar domestik dan kebutuhan pesantren sendiri, produksinya nanti akan disinergikan untuk mendukung kebutuhan Program Makan Bergizi Gratis (MBG)," beber Wahyu.
BI optimistis, dengan mendorong kemandirian ekonomi pesantren, lembaga pendidikan ini dapat menambah suplai pangan di masyarakat. Kelebihan produksi dari sektor-sektor seperti peternakan, perikanan, hingga perkebunan diharapkan dapat terserap oleh pasar umum.
Ia mengungkapkan realisasi penghimpunan dana Wakaf Trendi tahun 2026 menunjukkan tren yang sangat positif. Hingga saat ini, dana yang terkumpul telah mencapai Rp 100.050.000, melonjak drastis dibandingkan perolehan tahun lalu yang tercatat sebesar Rp 33 juta.
Sebagai gambaran, pada periode sebelumnya, dana wakaf telah dialokasikan untuk sektor produktif melalui jaringan Muhammadiyah dengan fokus pada peternakan dan perkebunan sawit.
Tahun ini, dengan rata-rata alokasi sekitar Rp 30 juta per pesantren, BI fokus pada peningkatan kapasitas produksi masing-masing pesantren yang telah dipilih.
"Meskipun saat ini sudah tercapai seratus juta lebih, angka ini masih bisa bertambah karena proses penghimpunan belum ditutup. Dana ini akan digunakan sepenuhnya untuk meningkatkan kapasitas produksi di pesantren-pesantren tersebut," terang Wahyu.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang