Bisnis.com, JAKARTA – Menteri Perdagangan Budi Santoso menegaskan bahwa Jepang tetap menjadi pilar utama bagi pembangunan ekonomi Indonesia dan kemakmuran kawasan yang berkelanjutan.
Dalam sambutannya di Resepsi Hari Nasional Jepang, Kamis (5/2/2026), Mendag Budi mengatakan hubungan Jepang-Indonesia telah berkembang dari perdagangan menjadi kemitraan strategis yang didasarkan pada kepercayaan mutual dan visi bersama untuk Indo-Pasifik yang stabil dan sejahtera.
“Hubungan ekonomi kita tetap menjadi standar emas bagi kerja sama bilateral. Jepang secara konsisten menjadi salah satu mitra dagang terpenting Indonesia,” ungkap Budi.
Pada tahun lalu, total nilai perdagangan Indonesia dengan Jepang mencapai US$32 miliar, yang menempatkan Jepang sebagai mitra dagang terbesar keempat bagi Indonesia.
Dalam hal penanaman modal, Jepang terus membuktikan diri sebagai investor papan atas yang menggerakkan sektor infrastruktur, manufaktur, dan otomotif di tanah air. Pada tahun 2025, Jepang tercatat sebagai investor terbesar Indonesia dengan nilai tambahan investasi mencapai US$3,1 miliar.
"Jepang telah mendukung pengembangan infrastruktur skala besar melalui kemitraan swasta dan bantuan pembangunan, termasuk transportasi, pelabuhan, pembangkit listrik, dan infrastruktur perkotaan," ujar Budi dalam sambutannya.
Bukti nyata dari kolaborasi ini terlihat pada proyek-proyek seperti MRT Jakarta yang mentransformasi mobilitas perkotaan, atau Pelabuhan Patimban untuk meningkatkan kapabilitas logistik/
Pemerintah Indonesia saat ini terus mendorong agenda perdagangan internasional secara aktif dan membuka peluang negosiasi melalui berbagai perjanjian yang ada. Salah satu instrumen utama yang digunakan adalah Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement (IJEPA) yang telah berjalan sejak 2007, di mana kerja sama ini tidak hanya berfokus pada pertukaran barang, tetapi juga mencakup transfer keterampilan dan teknologi.
IJEPA sendiri bertujuan meningkatkan perdagangan dan investasi melalui tiga pilot utama yaitu liberalisasi perdagangan, fasilitasi perdagangan, dan pengembangan kapasitas.
Mendag Budi mendorong komunitas bisnis untuk memanfaatkan perjanjian ini guna memaksimalkan peluang pasar yang tersedia, terutama setelah adanya penandatanganan protokol perubahan perjanjian kemitraan ekonomi tersebut pada tahun lalu.
Selain penguatan infrastruktur fisik, kerja sama ke depan juga akan menyasar sektor teknologi tinggi dan keberlanjutan. Presiden Indonesia telah meminta penguatan di sektor otomotif dan elektronik melalui investasi serta pengembangan teknologi semikonduktor guna membangun industri cip masa depan nasional.
Di saat yang sama, kedua negara juga bekerja sama dalam Asia Zero Emission Community (AZEC) sebagai bukti bahwa pertumbuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan dapat berjalan beriringan.
”Salah satu proyek yang berpotensi menjadi tonggak penting dalam implementasi sukses AZEC adalah Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi Munara Laboh,” jelasnya.
Selain itu, Mendag mengatakan telah mendapat arahan dari Presiden Prabowo Subianto untuk meningkatkan kerja sama di sektor otomotif dan elektronik melalui investasi dan pengembangan teknologi semikonduktor. Hal ini bertujuan untuk membangun industri chip Indonesia di masa depan, yang akan digunakan untuk industri otomotif, digital, dan elektronik.