#30 tag 24jam
Menilik Buah Hasil Diplomasi di Asia Timur Ala Prabowo
Presiden Prabowo Subianto berhasil mengamankan komitmen investasi senilai US$33,89 miliar dari Jepang dan Korea Selatan, memperkuat kerja sama ekonomi di sektor energi, teknologi, dan manufaktur. [2,325] url asal
#prabowo-subianto #diplomasi #kerja-sama-asia-timur #investasi-jepang-indonesia #investasi-korea-selatan-indonesia #forum-bisnis-indonesia-jepang #pertemuan-prabowo-kaisar-jepang #pertemuan-prabowo-per
(Bisnis.Com - Terbaru) 02/04/26 15:06
v/180134/
Bisnis.com, JAKARTA — Presiden RI Prabowo Subianto bergeliat menjajaki kerja sama ekonomi dengan negara Asia Timur, yakni Jepang dan Korea Selatan. Buah kerja sama, berupa komitmen investasi pun didapat.
Prabowo memulai kunjungan resminya ke Jepang dengan bertemu Kaisar Jepang Naruhito pada Senin (30/4/2026). Prabowo pun turut menghadiri Forum Bisnis Indonesia-Jepang yang digelar di Imperial Hotel Tokyo pada Senin (30/3/2026). Agenda tersebut diikuti oleh pengusaha Indonesia-Jepang.
Keesokan harinya, digelar pertemuan antara Prabowo dengan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi di Istana Akasaka, Tokyo, pada Selasa (31/3/2026). Prabowo pun menggelar pertemuan dengan 13 pimpinan perusahaan besar Jepang, termasuk bos perusahaan energi global INPEX dan bos perusahaan otomotif global Toyota di Tokyo.
Dalam pidatonya di hadapan deretan pengusaha Jepang, Prabowo menjelaskan bahwa Jepang merupakan mitra yang sangat penting bagi Indonesia. Hubungan ekonomi kedua negara telah terbangun selama puluhan tahun dengan kontribusi signifikan dari perusahaan-perusahaan Jepang di berbagai sektor.
Pemerintah Indonesia pun memberi karpet merah bagi investor Jepang untuk berinvestasi di Indonesia. Prabowo menegaskan keterbukaan Indonesia terhadap kolaborasi internasional, khususnya dengan Jepang, yang dinilai memiliki keunggulan dalam teknologi, metode, dan pengalaman industri.
Prabowo memandang sinergi antara kekuatan tersebut dengan potensi sumber daya dan pertumbuhan Indonesia akan menciptakan hubungan yang saling menguntungkan.
“Itulah mengapa kami sangat terbuka terhadap partisipasi aktif Jepang, teknologi Jepang, pengalaman Jepang, metode Jepang. Kami percaya bahwa dikombinasikan dengan sumber daya kami, pertumbuhan kami, dan skala kami, hubungan ini dapat saling menguntungkan bagi kedua belah pihak,” tutur Prabowo pada Senin (30/3/2026).
Pemerintah Indonesia juga membuka peluang kolaborasi dalam pembangunan industri, transfer teknologi, serta pertumbuhan ekonomi bersama.
Prabowo menekankan bahwa pemerintah tidak hanya menawarkan peluang investasi, tetapi juga kemitraan strategis jangka panjang.
Untuk mendukung hal tersebut, Pemerintah Indonesia telah membentuk sovereign wealth fund (SWF) Danantara. Tujuannya adalah untuk mengonsolidasikan berbagai aset dan perusahaan milik negara dalam satu manajemen terpadu guna meningkatkan efisiensi dan transparansi.
Selepas dari Jepang, Prabowo tancap gas ke Korea Selatan. Digelar pertemuan antara Prabowo dengan Presiden Republik Korea Lee Jae Myung di Istana Kepresidenan Republik Korea, Cheong Wa Dae (Blue House) pada Rabu (1/4/2026).
Setibanya di kompleks Blue House, Prabowo disambut secara resmi oleh Lee Jae Myung di depan gedung utama. Pertemuan keduanya kemudian berlangsung dalam format tête-à-tête. Lalu, terdapat pertemuan bilateral yang melibatkan delegasi masing-masing negara.
Prabowo menjelaskan bahwa Indonesia dan Korea Selatan memiliki kepentingan bersama yang kuat, khususnya sebagai negara di kawasan Pasifik dan sebagai negara dengan orientasi perdagangan. Menurut Prabowo, kedua negara memiliki potensi saling melengkapi dalam berbagai sektor strategis.
“Kita berdua adalah negara di Pasifik. Kita berdua adalah negara perdagangan. Kita membutuhkan hubungan yang baik untuk kesejahteraan ekonomi kedua negara kita, dan mungkin kita memiliki peran yang saling melengkapi,” kata Prabowo dalam sambutannya pada Rabu (1/4/2026).
Prabowo juga menilai kemajuan pesat Korea Selatan di bidang industri, sains, dan teknologi dapat bersinergi dengan kekuatan Indonesia yang memiliki sumber daya alam melimpah serta pasar yang besar.
Buah Tangan
Seiring dengan kunjungan Prabowo ke Asia Timur, komitmen investasi pun diraup. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya mengatakan bahwa kunjungan resmi Presiden Prabowo ke Jepang dan kunjungan kenegaraan ke Korea Selatan menghasilkan capaian konkret berupa komitmen kerja sama bisnis dengan nilai yang sangat signifikan.
Teddy menjelaskan bahwa total nilai kesepakatan bisnis yang berhasil dihimpun dari kedua negara mencapai US$33,89 miliar atau setara dengan Rp575 triliun.
“Dari Jepang tercatat komitmen bisnis sebesar US$23,63 miliar atau setara Rp401,7 triliun, sementara dari Republik Korea mencapai US$10,26 miliar atau setara Rp174 triliun. Sehingga total keseluruhan mencapai US$33,89 miliar atau sekitar Rp575 triliun,” ujar Teddy dalam keterangan tertulisnya pada Kamis (2/4/2026).
Menurutnya, capaian tersebut menunjukkan tingginya kepercayaan investor global terhadap arah kebijakan ekonomi Indonesia, khususnya dalam mendorong hilirisasi industri, penguatan ketahanan energi, serta pembangunan sektor strategis nasional.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto juga menjelaskan bahwa dengan Jepang, Indonesia telah menandatangani nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) terkait investasi dengan nilai US$23,63 miliar.
Sejumlah sektor disasar antara lain energi dan transisi energi, minyak dan gas terutama untuk proyek Masela, industri dan hilirisasi, keuangan, hingga investasi kelembagaan melalui JETRO dan KADIN.
Berikut daftar nota kesepahaman Indonesia dengan Jepang:
- MoU tentang produksi metanol dengan memanfaatkan emisi CO2 dari PKT di Bontang, Kalimantan Timur antara PT Pupuk Kalimantan Timur dan PT. Kaltim Methanol Industri.
- MoU tentang kerja sama di bidang perdagangan, niaga, dan investasi antara Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN Indonesia) dan Japan Chamber of Commerce and Industry.
- Kerja sama strategis untuk pengembangan Lapangan Gas Abadi di Blok Masela, Indonesia antara PT Pertamina (Persero) dan INPEX
- MoU untuk peluang kemitraan potensial di sektor hulu minyak dan gas di Indonesia dan Asia Tenggara antara PT Pertamina Hulu Energi dan INPEX.
- MoU tentang Pengembangan ekosistem semikonduktor di Indonesia dan Jepang; desain dan manufaktur chip elektronik serta kecerdasan buatan antara PT Eblo Teknologi Indonesia dan Hayashi Kinzoku Co., Ltd.
- MoU terkait berbagai kajian menuju realisasi Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi Rajabasa antara PT Supreme Energy Rajabasa dan INPEX.
- MoU antara SMBC Indonesia dan Pegadaian untuk berkontribusi pada ekosistem emas Indonesia serta inklusi keuangan antara PT Pegadaian dan PT Bank SMBC Indonesia.
- MoU tentang Indonesia-Japan Strategic Beauty Partnership antara PT Nose Herbal Indo dan 2Way World.
- MoU tentang Mandiri Aviation Leasing Fund antara Danantara dan Mandiri Investment Management dan SMBC Aviation Capital.
- MoU tentang Penguatan hubungan kerja sama antara JETRO dan PT Danantara Investment Management.
- MoU tentang Hululais Geothermal Power Plant Project antara Pemerintah Indonesia dengan JICA.
Adapun, dengan Korea Selatan terdapat 10 MoU yang ditandatangani dengan nilai komitmen investasi US$10,26 miliar. Kerja sama investasi itu menyasar sektor energi dan green transition, tenaga surya, carbon capture and storage (CCS), renewable energy, serta industri dan manufaktur, baik baja, baterai, hingga transportasi ramah lingkungan.
Selain itu, investasi juga menyasar sektor digital dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Lalu, properti dan infrastruktur termasuk pengembangan di Bumi Serpong Damai (BSD).
Terdapat pula kerjasama bisnis dan asosiasi antara KADIN serta KCCI, terutama untuk mendorong komitmen bisnis. Lalu, investasi juga terkait dengan pasok baterai, serta investasi manufaktur teknologi. Investasi perusahaan Korea Selatan seperti POSCO pun dilanjutkan.
Berikut daftar nota kesepahaman Indonesia dengan Korea Selatan:
- MoU on Establishing the Special Comprehensive Strategic Dialogue.
- MoU on Economic Cooperation 2.0.
- MoU on Cooperation in Critical Mineral Partnership.
- MoU on Cooperation in Digital Development.
- MoU on Cooperation on AI for Basic Health and Human Development.
- MoU on Strengthening Cooperation in the Field of Clean Energy.
- MoU on Cooperation in the Field of Carbon Capture and Storage (CCS).
- MoU on Cooperation in the Field of the Offshore Plant Service Industry.
- MoU on Intellectual Property Protection and Enforcement Cooperation.
- MoU on Financial Cooperation (Danantara-Exim Bank of Korea).
"Ini sebuah angka yang sangat signifikan karena Indonesia dalam situasi geopolitik yang tidak menentu ini masih menjadi daya tarik bagi para investor," kata Airlangga usai menghadiri forum 'Indonesia-Korea Partnership for Resilient Growth' pada Rabu (1/4/2026).
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM sekaligus CEO Danantara Rosan Perkasa Roeslani juga menjelaskan bahwa di tengah gejolak geopolitik yang panas, minat investasi dari Jepang dan Korea Selatan ke Indonesia masih tinggi. Menurutnya, Jepang merupakan investor nomor 5 terbesar di Indonesia. Lalu, Korea Selatan menempati urutan 7 sebagai investor terbesar.
"Kalau kita lihat juga investasinya juga meningkat secara average itu Korea setiap tahunnya sekitar 14%, Jepang juga sekitar 8-9% setiap tahunnya," ujar Rosan.
Mengawal Hasil Diplomasi
Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia Erwin Aksa mengatakan bahwa KADIN Indonesia menyambut positif langkah pemerintah dalam memperkuat kerja sama ekonomi dengan Jepang dan Korea Selatan, khususnya di sektor strategis seperti energi, manufaktur berteknologi tinggi, hingga AI.
"Kedua negara tersebut merupakan mitra lama Indonesia yang memiliki keunggulan pada teknologi, pembiayaan, serta pengembangan industri bernilai tambah tinggi," katanya.
Dari sisi ekonomi, menurutnya kerja sama tersebut penting untuk mendorong transformasi struktur industri nasional, terutama dalam mempercepat hilirisasi, transisi energi, serta penguatan ekosistem digital.
Selain itu, kolaborasi juga dapat menjadi katalis untuk meningkatkan investasi berkualitas (quality investment) yang tidak hanya membawa modal, tetapi juga transfer teknologi dan peningkatan kapasitas SDM.
"Bagi pelaku usaha di Indonesia, momentum ini harus dimanfaatkan secara proaktif. Dunia usaha perlu mengambil peran sebagai mitra strategis, baik melalui joint venture, kemitraan rantai pasok [supply chain integration], maupun peningkatan standar industri agar dapat masuk ke dalam ekosistem global yang dibangun bersama Jepang dan Korea Selatan," katanya kepada Bisnis pada Rabu (1/4/2026).
KADIN juga mendorong agar pelaku usaha nasional, termasuk UMKM, dapat terlibat dalam rantai nilai tersebut.
"Ke depan, KADIN berharap kerja sama ini dapat diimplementasikan secara konkret dan berkelanjutan, tidak berhenti pada penandatanganan MoU," ujar Erwin.
Menurutnya, diperlukan kepastian regulasi, kemudahan perizinan, serta insentif yang kompetitif agar realisasi investasi dapat berjalan optimal. Selain itu, penting untuk memastikan adanya keseimbangan antara masuknya investasi asing dengan penguatan industri dalam negeri.
Dia menjelaskan bahwa dengan pendekatan yang tepat, kerja sama baik dengan Jepang dan Korea Selatan berpotensi besar untuk memperkuat daya saing Indonesia di kawasan serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
Ketua Umum APINDO Shinta W. Kamdani pun menilai upaya pemerintah dalam menjajaki dan memperkuat kerja sama dengan Jepang dan Korea Selatan sebagai langkah yang positif dan strategis. Menurutnya, yang menjadi menarik dari kerja sama yang dibangun saat ini adalah tidak lagi terbatas pada perdagangan di sektor tradisional, tetapi sudah masuk ke sektor-sektor bernilai tambah tinggi seperti energi, mineral kritis, manufaktur berbasis teknologi, hingga digital dan AI.
"Ini menunjukkan arah yang jelas bahwa Indonesia sedang bergerak ke tahap berikutnya dalam proses industrial upgrading dan integrasi ke dalam global value chain," ujar Shinta.
Dia juga menilai Jepang dan Korea Selatan memang merupakan mitra ekonomi yang sangat penting bagi Indonesia. Jepang secara konsisten berada di jajaran enam besar foreign direct investment (FDI) di Indonesia. Sementara Korea Selatan juga semakin kuat posisinya, khususnya di sektor kendaraan listrik, baterai, dan industri berbasis teknologi.
Di sisi lain, hubungan perdagangan dengan kedua negara juga memiliki skala yang besar dan bersifat saling melengkapi. Indonesia menjadi pemasok sumber daya dan pasar, sementara Jepang dan Korea Selatan berkontribusi dari sisi teknologi, pembiayaan, dan penguatan industri.
"Bagi dunia usaha, kerja sama ini membuka peluang yang cukup luas. Pelaku usaha Indonesia dapat menangkap peluang melalui kemitraan dalam rantai pasok, joint venture, alih teknologi, hingga peningkatan kapasitas produksi untuk memenuhi standar global. Ini berlaku baik untuk industri terkait maupun sektor pendukung," ujar Shinta.
Dia juga menjelaskan bahwa masuknya potensi investasi di sektor energi dan industri masa depan berpotensi menciptakan permintaan baru terhadap tenaga kerja yang lebih terampil, sehingga membuka ruang bagi peningkatan kualitas SDM nasional. Sementara dari sisi pembiayaan, kerja sama di sektor keuangan juga dapat memperdalam ekosistem investasi domestik dan inklusi keuangan.
"Namun demikian, kami juga melihat bahwa kunci dari keberhasilan kesepakatan ini ada pada tahap implementasi. Langkah ke depan yang sangat penting adalah memastikan proyek-proyek ini dapat direalisasikan dengan baik," kata Shinta.
Dari sisi pemerintah, menurutnya beberapa hal yang menjadi perhatian dunia usaha antara lain percepatan perizinan, kepastian regulasi, konsistensi kebijakan, serta koordinasi lintas institusi. Selain itu, menurutnya penting juga untuk memastikan bahwa kerja sama ini benar-benar memberikan multiplier effect bagi industri dalam negeri, termasuk melalui penguatan rantai pasok lokal dan peningkatan kapasitas domestik.
"Ke depan, dunia usaha berharap agar momentum ini dapat terus dijaga, tidak hanya dalam bentuk komitmen, tetapi benar-benar diwujudkan dalam proyek nyata yang memberikan dampak terhadap pertumbuhan ekonomi, peningkatan daya saing industri, serta penciptaan lapangan kerja di dalam negeri," ujar Shinta.
Pakar hubungan internasional Teuku Rezasyah menilai geliat diplomasi Prabowo ke Asia Timur akan membuka jalur komunikasi dan koordinasi strategis tingkat tinggi.
Dari kerja sama yang terjalin seperti di bidang teknologi canggih dan investasi, dampak positif menurutnya akan dirasakan. Indonesia memiliki kendala di bidang SDM, sistem informasi, serta integrasi lembaga penelitian milik pemerintah dan dunia usaha, termasuk juga terbatasnya hak cipta dan paten atas nama Indonesia.
"Diharapkan Jepang dan Korea Selatan, yang unggul dalam riset dan pengembangan, dapat mendukung tantangan yang Indonesia sedang hadapi, dengan mensinergikan lembaga pendidikan dan riset yang sudah berkualitas dunia, dengan para mitra mereka di Indonesia yang berkualitas tinggi," katanya kepada Bisnis pada Kamis (2/4/2026).
Diharapkan pula terjalin kemitraan strategis guna menjawab tantangan Indonesia khususnya di bidang teknologi transportasi, kesehatan, pertanian, peternakan, perkebunan, dan perbankan, serta pelayanan umum bagi masyarakat yang tersebar diseluruh wilayah nasional.
Sementara, dari sektor mineral kritis, menurutnya saat ini mayoritas investasi dilakukan oleh dunia usaha asal China. Keadaan ini telah menimbulkan kritik dari para mitra strategis Indonesia, khususnya yang berasal dari Uni Eropa dan AS.
"Masuknya investor asal Jepang dan Korea Selatan, dapat menjadikan persaingan di antara sesama anggota ASEAN+3 tersebut, untuk secara bersungguh-sungguh menjadikan Indonesia sebagai mitra sejajar," katanya.
Diharapkan juga dengan masuknya investor dari Jepang dan Korea Selatan dalam bidang smelting bahan mentah, memungkinkan Indonesia lebih mampu memproses bahan mentah tersebut di dalam negeri, termasuk meningkatkan nilai jual ekspornya.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet menilai arah diplomasi Prabowo ke Asia Timur tepat. Namun, efektivitasnya belum bisa langsung diukur dari besarnya angka komitmen investasi Rp575 triliun.
"Kuncinya tetap di realisasi. Selama ini, gap antara komitmen dan implementasi masih cukup lebar, jadi yang perlu dijaga adalah eksekusinya, mulai dari izin, kesiapan proyek, sampai kepastian regulasi," kata Yusuf kepada Bisnis pada Kamis (2/4/2026).
Dia menilai jika proyek hasil kerja sama benar-benar berjalan, efeknya bisa signifikan. Masuknya investasi Jepang dan Korea Selatan di sektor mineral kritis, manufaktur, dan AI bisa memperkuat industrialisasi, mendorong transfer teknologi, dan membuka lapangan kerja yang lebih berkualitas.
"Akan tetapi ada risiko kita tetap berhenti di hilirisasi dasar kalau tidak didorong naik ke value chain yang lebih tinggi," katanya.
Ditambah, menurutnya kerja sama dengan dua negara Asia Timur dijalankan di tengah tantangan geopolitik yang sedang memanas. Perang di Timur Tengah antara Iran dengan AS-Israel telah memberikan dampak terhadap gejolak rantai pasok energi global.
Yusuf menilai kondisi tersebut memang membuat pemerintah mesti menjajaki diplomasi dengan berbagai negara.
"Di tengah geopolitik yang memanas, diplomasi ekonomi seperti ini justru semakin penting. Negara-negara sekarang mencari mitra yang stabil untuk relokasi investasi. Indonesia punya peluang, tapi persaingannya juga ketat dengan negara lain di Asia Tenggara," ujar Yusuf.
Presiden Bawa Komitmen Investasi Rp 380 Triliun dari Jepang
Kunjungan ke Jepang memperkuat posisi Indonesia sebagai tujuan utama investasi global [447] url asal
#investasi-jepang-indonesia #prabowo-subianto #rp-380-triliun #kerja-sama-ekonomi #hubungan-bilateral-indonesia-jepang #ekonomi-indonesia #forum-bisnis-jepang #jepang #indonesia #kerja-sama-indonesia-j
REPUBLIKA.CO.ID, TOKYO — Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyatakan Indonesia berhasil meraih komitmen investasi lebih dari Rp380 triliun dalam kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Jepang. Ini menjadi bukti semakin kuatnya posisi Indonesia sebagai magnet investasi dunia.
"Itu adalah bukti bahwa Indonesia menjadi magnet investasi dunia. Itu yang pertama. Kemudian yang kedua, di luar semakin mantap untuk berinvestasi di Indonesia," kata Seskab Teddy dalam pernyataannya kepada wartawan di Tokyo, Jepang, Senin (30/3/2026), dikutip Selasa (31/3/2026).
Teddy mengatakan komitmen investasi tersebut merupakan bagian dari keseluruhan perjanjian kerja sama Indonesia dan Jepang yang telah disepakati. Hal ini menunjukkan keberlanjutan dan konsistensi hubungan ekonomi kedua negara yang semakin erat.
“Jadi investasi tadi itu adalah bagian dari seluruh perjanjian Indonesia-Jepang," kata dia.
Dalam rangkaian kunjungan ke Jepang tersebut, Presiden Prabowo juga dijadwalkan melakukan pertemuan bilateral bersama Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi, Selasa (31/3).
Selain itu, Kepala Negara juga akan melakukan pertemuan dengan sejumlah pengusaha besar Jepang yang difasilitasi oleh Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani serta Menteri ESDM Bahlil Lahadalia.
"Besok sorenya akan dipertemukan dengan sekitar 12 pengusaha terbesar Jepang oleh Pak Menteri Investasi dan Menteri ESDM dengan Bapak Presiden seperti yang dilakukan kemarin di Amerika. Nah, kesimpulannya apa? Jadi intinya adalah Indonesia dengan investasi yang begitu besar di sini, tadi Pak Presiden datang, Rp380 triliun investasi datang," kata Teddy.
Diketahui, Presiden Prabowo mengawali hari pertama kunjungan resminya di Jepang, Senin, dengan serangkaian agenda strategis yang memperkuat hubungan bilateral Indonesia dan Jepang, baik di tingkat kenegaraan maupun kerja sama ekonomi.
Presiden Prabowo memulai agenda dengan pertemuan bersama Kaisar Jepang Naruhito serta Putra Mahkota Jepang Fumihito di Istana Kekaisaran Jepang.
Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak membahas berbagai isu strategis, termasuk penguatan kerja sama di bidang lingkungan hidup. Seskab Teddy menyoroti salah satu fokus pembahasan yang menarik adalah terkait upaya perlindungan hutan dan pelestarian lingkungan.
“Intinya bahas berbagai macam kerja sama dan peningkatan kerja sama antara pemerintah Indonesia dan Jepang. Terutama tadi yang menarik adalah tentang perlindungan terhadap hutan dan lingkungan hidup,” kata Seskab.
Pertemuan antara Presiden Prabowo dengan Kaisar Naruhito dan Putra Mahkota Fumihito berlangsung selama kurang lebih 45 menit, yang kemudian dilanjutkan dengan jamuan makan siang kenegaraan. Secara keseluruhan, rangkaian agenda di Istana Kekaisaran Jepang berlangsung lebih dari dua jam.
Selain agenda kenegaraan, Presiden Prabowo juga menghadiri Forum Bisnis Indonesia-Jepang yang digelar dari siang hingga sore hari. Forum tersebut menghasilkan komitmen kerja sama ekonomi yang signifikan antara kedua negara.
“Kemudian yang kedua yang menarik, siang sampai sore tadi ada 'business forum'. Intinya dari 'business forum' itu adalah adanya kerja sama antara Indonesia dan Jepang dan investasi pemerintah Jepang dan swasta dari Jepang ke Indonesia sebesar kurang lebih Rp380 triliun,” ungkap Seskab Teddy.
Prabowo Bidik Penguatan Kerja Sama Teknologi dengan PM Sanae Takaichi
Prabowo kunjungi Jepang bahas kerja sama teknologi dengan PM Sanae Takaichi, fokus pada investasi dan penguatan ekonomi digital Indonesia. [310] url asal
#prabowo-teknologi #kerja-sama-teknologi #prabowo-jepang #teknologi-digital #investasi-jepang-indonesia #kunjungan-prabowo-tokyo #kerja-sama-digital #teknologi-ai #ekonomi-digital-indonesia #investasi
(Bisnis.Com - Teknologi) 30/03/26 07:54
v/175994/
Bisnis.com, JAKARTA — Presiden Prabowo Subianto melakukan kunjungan resmi ke Tokyo, Jepang, guna membahas sejumlah potensi kerja sama termasuk di sektor teknologi dan digital.
Dalam kunjungan resmi perdananya ke Negeri Sakura, Prabowo dijadwalkan menggelar pertemuan tingkat tinggi dengan Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi.
Rombongan kenegaraan, yang didampingi oleh Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid beserta jajaran menteri Kabinet Merah Putih, mendarat di Bandar Udara Haneda, Tokyo, pada Minggu malam (29/3/2026) pukul 19.10 waktu setempat.
Menkomdigi Meutya Hafid mengatakan dalam kunjungan kali ini sejumlah hal strategis dibahas. Tidak hanya itu, melalui kunjungan tersebut diharapkan investasi Jepang di Indonesia dapat meningkat.
"Kunjungan Presiden ini akan fokus membahas hal-hal strategis antara kedua negara, termasuk kerja sama di bidang teknologi dan digital," ujar Meutya dalam keterangan resminya, Senin (30/3/2026).
Selain melakukan kunjungan kehormatan kepada Kaisar Jepang Naruhito, agenda Prabowo di Tokyo sarat dengan muatan ekonomi makro.
Mantan Danjen Kopassus tersebut dijadwalkan bertemu dengan sejumlah CEO korporasi raksasa Jepang untuk menyaksikan penandatanganan beberapa perjanjian investasi strategis.
Langkah ini dipandang sebagai upaya pemerintah untuk memastikan bahwa Indonesia tidak hanya menjadi pasar bagi produk teknologi Jepang, tetapi juga menjadi mitra produksi melalui investasi yang masuk.
Sekadar informasi, kerja sama antara Indonesia dan Jepang di sektor teknologi dan digital bukanlah hal baru. Keduanya sempat menjalin kerja sama dalam mengembangkan teknologi AI hingga internet berkecepatan tinggi tanpa kabel.
Pada November 2025, Indonesia dan Jepang menandatangani kerja sama penggunaan frekuensi 1,4 GHz untuk menyediakan internet berkecepatan tinggi yang lebih terjangkau. Teknologi ini digunakan untuk memperluas jangkauan internet di wilayah yang sulit dijangkau kabel serat optik (pedalaman) dengan layanan fixed wireless acces (FWA).
Jepang juga memberikan dukungan teknis dan investasi dalam memperkuat ekosistem ekonomi digital Indonesia, termasuk perlindungan data dan keamanan siber.
Selain itu, kedua negara juga telah menyepakati penguatan kerja sama dalam pemanfaatan teknologi AI yang fokus pada pertumbuhan ekonomi dan etika.
Mendag Budi Sebut Jepang Perkokoh Posisi sebagai Pilar Ekonomi RI
Mendag Budi menegaskan Jepang sebagai pilar ekonomi RI, dengan investasi besar di infrastruktur dan otomotif, serta kemitraan strategis melalui IJEPA. [431] url asal
#jepang-ekonomi-indonesia #hubungan-jepang-indonesia #mitra-dagang-indonesia #investasi-jepang-indonesia #infrastruktur-jepang-indonesia #perdagangan-indonesia-jepang #ijepa #kemitraan-ekonomi-jepang
(Bisnis.Com - Ekonomi) 06/02/26 09:29
v/127989/
Bisnis.com, JAKARTA – Menteri Perdagangan Budi Santoso menegaskan bahwa Jepang tetap menjadi pilar utama bagi pembangunan ekonomi Indonesia dan kemakmuran kawasan yang berkelanjutan.
Dalam sambutannya di Resepsi Hari Nasional Jepang, Kamis (5/2/2026), Mendag Budi mengatakan hubungan Jepang-Indonesia telah berkembang dari perdagangan menjadi kemitraan strategis yang didasarkan pada kepercayaan mutual dan visi bersama untuk Indo-Pasifik yang stabil dan sejahtera.
“Hubungan ekonomi kita tetap menjadi standar emas bagi kerja sama bilateral. Jepang secara konsisten menjadi salah satu mitra dagang terpenting Indonesia,” ungkap Budi.
Pada tahun lalu, total nilai perdagangan Indonesia dengan Jepang mencapai US$32 miliar, yang menempatkan Jepang sebagai mitra dagang terbesar keempat bagi Indonesia.
Dalam hal penanaman modal, Jepang terus membuktikan diri sebagai investor papan atas yang menggerakkan sektor infrastruktur, manufaktur, dan otomotif di tanah air. Pada tahun 2025, Jepang tercatat sebagai investor terbesar Indonesia dengan nilai tambahan investasi mencapai US$3,1 miliar.
"Jepang telah mendukung pengembangan infrastruktur skala besar melalui kemitraan swasta dan bantuan pembangunan, termasuk transportasi, pelabuhan, pembangkit listrik, dan infrastruktur perkotaan," ujar Budi dalam sambutannya.
Bukti nyata dari kolaborasi ini terlihat pada proyek-proyek seperti MRT Jakarta yang mentransformasi mobilitas perkotaan, atau Pelabuhan Patimban untuk meningkatkan kapabilitas logistik/
Pemerintah Indonesia saat ini terus mendorong agenda perdagangan internasional secara aktif dan membuka peluang negosiasi melalui berbagai perjanjian yang ada. Salah satu instrumen utama yang digunakan adalah Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement (IJEPA) yang telah berjalan sejak 2007, di mana kerja sama ini tidak hanya berfokus pada pertukaran barang, tetapi juga mencakup transfer keterampilan dan teknologi.
IJEPA sendiri bertujuan meningkatkan perdagangan dan investasi melalui tiga pilot utama yaitu liberalisasi perdagangan, fasilitasi perdagangan, dan pengembangan kapasitas.
Mendag Budi mendorong komunitas bisnis untuk memanfaatkan perjanjian ini guna memaksimalkan peluang pasar yang tersedia, terutama setelah adanya penandatanganan protokol perubahan perjanjian kemitraan ekonomi tersebut pada tahun lalu.
Selain penguatan infrastruktur fisik, kerja sama ke depan juga akan menyasar sektor teknologi tinggi dan keberlanjutan. Presiden Indonesia telah meminta penguatan di sektor otomotif dan elektronik melalui investasi serta pengembangan teknologi semikonduktor guna membangun industri cip masa depan nasional.
Di saat yang sama, kedua negara juga bekerja sama dalam Asia Zero Emission Community (AZEC) sebagai bukti bahwa pertumbuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan dapat berjalan beriringan.
”Salah satu proyek yang berpotensi menjadi tonggak penting dalam implementasi sukses AZEC adalah Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi Munara Laboh,” jelasnya.
Selain itu, Mendag mengatakan telah mendapat arahan dari Presiden Prabowo Subianto untuk meningkatkan kerja sama di sektor otomotif dan elektronik melalui investasi dan pengembangan teknologi semikonduktor. Hal ini bertujuan untuk membangun industri chip Indonesia di masa depan, yang akan digunakan untuk industri otomotif, digital, dan elektronik.
MUFG dan Danantara Gelar 'Indonesia Day' di Tokyo, Bidik Investasi Jepang untuk Proyek Prioritas
Danantara memaparkan peta peluang investasi. [303] url asal
#investasi-jepang-indonesia #danantara-indonesia #mufg #bumn #investasi-strategis #indonesia-day-tokyo #kerja-sama-ekonomi-ri-jepang #pendanaan-proyek-nasional
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — MUFG Bank, Ltd. (MUFG) dan Danantara Indonesia menggelar “Indonesia Day” di Tokyo pada awal Desember untuk memperkuat aliran investasi Jepang ke proyek-proyek prioritas Indonesia. Acara ini menjadi ruang temu langsung antara delegasi pimpinan Danantara, sejumlah BUMN strategis, dan investor institusional Jepang untuk membangun kolaborasi bisnis jangka panjang.
Delegasi Indonesia mencakup Pertamina, PLN, BNI, Bank Mandiri, Pelindo, dan MIND ID. Dalam forum tersebut, Danantara memaparkan tinjauan makroekonomi, prioritas pembangunan, serta peta peluang investasi.
Adapun perwakilan BUMN menguraikan perkembangan inisiatif yang sedang berjalan. Investor Jepang yang hadir menunjukkan minat kuat untuk memperluas kemitraan dengan ekosistem BUMN Indonesia.
Forum Indonesia Day digelar sebagai jembatan strategis yang menghubungkan kebutuhan pendanaan nasional dengan modal dan keahlian Jepang. Melalui sesi dialog, presentasi, dan temu bisnis, MUFG dan Danantara menegaskan upaya memperluas kerja sama di sektor-sektor yang dinilai mampu menggerakkan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Format pertemuan yang langsung mempertemukan pemangku kepentingan kunci diharapkan menjadi fondasi bagi investasi lanjutan.
Managing Executive Officer dan Chief Executive for Asia-Pacific MUFG, Nobuya Kawasaki mengatakan, Indonesia terus menunjukkan posisinya sebagai ekonomi yang kuat dan tangguh di kawasan.
“Indonesia Day menjadi sarana bagi MUFG untuk memperkuat komitmen dalam mendukung agenda jangka panjang Indonesia melalui platform yang aman dan terpercaya, yang memungkinkan institusi Indonesia menjalin kerja sama dengan investor Jepang yang berorientasi jangka panjang,” kata Nobuya Kawasaki dalam siaran pers, Senin (8/12/2025).
Chief Investment Officer Danantara Indonesia, Pandu Patria Sjahrir, menegaskan pentingnya keselarasan strategi investasi dengan agenda nasional. Dia menjelaskan, fokus investasi Danantara Indonesia mencakup area yang selaras dengan prioritas nasional dan minat investor global.
“Dalam mencari mitra global, kami menekankan eksekusi, dampak, dan integritas, guna membangun kepercayaan untuk menarik modal jangka panjang dan memperkuat posisi Indonesia sebagai kekuatan ekonomi. Acaraini memberi kesempatan untuk menjelaskan strategi kami dengan lebih baik dan memastikan mitra global memahami potensi Indonesia,” kata Pandu.
#50 tag sepekan
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56