Indosat menargetkan 50 juta rumah di Indonesia dengan layanan internet nirkabel HiFi Air, memanfaatkan teknologi FWA untuk mengatasi keterbatasan infrastruktur kabel. [358] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — PT Indosat Tbk. mengejar pertumbuhan baru dengan mengincar sekitar 50 juta rumah di Indonesia yang masih belum terhubung internet melalui layanan internet rumah nirkabel HiFi Air. Segmen ini dinilai masih memiliki peluang pertumbuhan besar seiring terbatasnya penetrasi internet rumah berbasis kabel.
Data pemerintah menunjukkan pengembangan koneksi internet di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari kondisi geografis hingga keterbatasan infrastruktur. Saat ini, penggunaan fixed broadband atau internet rumah berbasis kabel baru menjangkau sekitar 6 dari 100 rumah tangga di Indonesia.
Director and Chief Commercial Officer Indosat Ooredoo Hutchison Bilal Kazmi mengatakan teknologi fixed wireless access (FWA) dapat menjadi solusi praktis untuk memperluas akses internet rumah bagi masyarakat.
“Kami melihat pasar internet rumah non-fiber masih memiliki ruang pertumbuhan yang signifikan,” kata Bilal kepada Bisnis.
Menurutnya, FWA dapat memberikan akses yang lebih mudah bagi masyarakat untuk menikmati koneksi internet yang andal di rumah, terutama di wilayah yang belum terjangkau jaringan fiber optik.
Hingga kini, penggunaan internet di Indonesia masih didominasi jaringan mobile melalui ponsel karena akses internet rumah berbasis kabel belum merata. Dalam kondisi tersebut, teknologi FWA hadir sebagai alternatif yang memungkinkan masyarakat menikmati internet rumah dengan memanfaatkan jaringan seluler.
Bilal menjelaskan Indosat berfokus memperluas jangkauan serta meningkatkan keandalan layanan FWA agar lebih banyak masyarakat dapat menikmati konektivitas berkualitas.
“Berangkat dari kebutuhan tersebut, pengembangan HiFi Air dilakukan secara terukur melalui optimalisasi jaringan 4G dan 5G Indosat yang telah tersedia luas,” ujarnya.
Selain itu, dengan memaksimalkan spektrum dan infrastruktur yang ada, Indosat dapat mengembangkan solusi FWA secara lebih efisien sekaligus menjaga keberlanjutan bisnis.
Layanan HiFi Air menawarkan pengalaman konektivitas plug-and-play, sehingga pelanggan dapat langsung menikmati internet rumah tanpa perlu instalasi kabel. Perangkat HiFi Air juga 5G ready, sehingga kompatibel dengan jaringan 4G maupun 5G.
Kualitas koneksi akan menyesuaikan secara otomatis dengan jaringan yang tersedia di lokasi penggunaan dan didukung layanan pelanggan selama 24 jam setiap hari.
HiFi Air menawarkan paket yang fleksibel untuk berbagai segmen pelanggan, mulai dari paket entry-level seharga Rp75.000 per bulan hingga paket berkapasitas 500 GB seharga Rp250.000 per bulan bagi pengguna dengan kebutuhan internet lebih tinggi. Sejumlah paket bahkan menawarkan masa berlaku kuota hingga satu tahun. (Nur Amalina)
Persaingan layanan FWA 5G murah di Indonesia memanas dengan hadirnya HiFi Air dari Indosat, menantang Internet Rakyat dan Orbit Telkomsel. Paket Rp100.000 jadi sorotan. [599] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Persaingan layanan internet fixed wireless access atau internet cepat nirkabel seharga Rp100.000 memasuk babak baru seiring dengan hadirnya HiFi Air milik PT Indosat Tbk. (ISAT).
PT Solusi Sinergi Digital Tbk. (WIFI) memasuki lanskap persaingan baru yang menguji perusahaan untuk dapat menguasai pasar internet tetap di kelas bawah dan menengah.
Di sisi lain, WIFI yang saat ini terus memperkuat kemitraan dengan berbagai pihak untuk mendorong layanan Internet Rakyat, juga harus menghadapi pemain eksisting FWA Telkomsel yang memiliki layanan bernama Orbit.
Indosat belum lama merilis HiFi Air dengan salah satu paketnya dibanderol seharga Rp100.000 untuk kuota sebesar 125 GB. Nilai tersebut setara dengan yang ditawarkan oleh Internet Rakyat yang menawarkan unlimited dengan kecepatan diklaim hingga 100 Mbps. Sementara itu Orbit IndiHome membanderol paket 125 GB dengan harga Rp179.000.
Direktur Eksekutif ICT Institute Heru Sutadi menilai dinamika terbaru ini berpotensi menjadi babak baru kompetisi harga di segmen FWA non-fiber. Menurut dia, kehadiran HiFi Air 125 GB Rp100.000 secara langsung menurunkan ekspektasi harga pasar di kelas internet rumah nirkabel.
“Jika dibandingkan dengan Internet Rakyat yang menawarkan unlimited di harga sama, serta Telkomsel melalui Orbit yang lebih premium, pasar akan makin sensitif terhadap value for money,” ujar Heru kepada Bisnis, Senin (9/3/2026).
Heru menegaskan, persaingan yang terjadi bukan sekadar perang tarif, melainkan perang positioning di antara pemain di kelas menengah dan bawah.
Di satu sisi, hadir penawaran harga murah dan kuota besar atau unlimited, sementara di sisi lain terdapat operator yang mengedepankan kualitas jaringan dan stabilitas layanan dengan tarif relatif lebih tinggi.
“Ini bukan hanya soal siapa yang paling murah, tapi bagaimana operator memposisikan diri antara harga, kualitas, dan pengalaman pengguna,” kata dia.
Terkait keberlanjutan model tarif FWA Rp100.000 per bulan, Heru menilai skema tersebut masih bisa bertahan secara bisnis dengan sejumlah catatan.
Dia mengingatkan, FWA berbasis 4G/5G tetap berbagi spektrum dengan layanan seluler, sehingga lonjakan trafik berpotensi mengerek biaya per gigabyte yang harus ditanggung operator. Paket kuota besar atau bahkan unlimited, sambungnya, hampir pasti membawa konsekuensi risiko kongesti jaringan.
“Model Rp100.000/bulan bisa berkelanjutan jika operator mengelola kapasitas jaringan secara disiplin dan konsumen mendapat layanan berkualitas, bukan cuma gimmick,” tutur Heru.
Teknisi memperbaiki jaringan telekomunikasi
Dia memprediksi penerapan fair usage policy (FUP) atau manajemen kecepatan menjadi keniscayaan untuk menjaga kualitas layanan di tengah tekanan tarif murah.
Heru menjelaskan, keberlanjutan bisnis FWA murah sangat bergantung pada beberapa faktor seperti kepadatan pelanggan di suatu wilayah, tingkat utilisasi base transceiver station (BTS), serta karakteristik area layanan.
Skema tarif agresif dinilai lebih realistis dijalankan di area yang kapasitas jaringannya masih longgar, dibandingkan kawasan padat trafik di kota-kota besar yang jaringan selulernya sudah mendekati batas optimal.
“Tanpa manajemen kapasitas yang hati-hati, paket murah justru bisa merusak pengalaman pelanggan dan pada akhirnya merugikan operator sendiri,” ujarnya.
Di sisi lain, Heru menilai potensi pasar internet rumah non-fiber di Indonesia masih terbuka lebar.
Penetrasi jaringan fiber optik hingga kini belum merata di luar kota-kota besar, sementara permintaan konektivitas rumah tangga terus tumbuh untuk kebutuhan kerja jarak jauh, pembelajaran daring, hingga aktivitas usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
“FWA menjadi solusi cepat karena tanpa investasi penarikan kabel yang mahal dan lama,” kata Heru.
Menurut Heru, FWA berpotensi menjadi solusi transisi bahkan semi-struktural untuk mengurangi kesenjangan digital di berbagai daerah selama harga tetap terjangkau dan kualitas layanan stabil. Namun, dalam perspektif jangka panjang, ia tetap melihat jaringan fiber sebagai infrastruktur unggulan dari sisi kapasitas dan stabilitas.
“FWA bisa menjembatani kebutuhan akses internet rumah di wilayah yang belum terlayani fiber, tetapi ke depan penguatan jaringan kabel tetap penting untuk menopang pertumbuhan trafik data yang terus meningkat,” ujarnya.
#50 tag sepekan
Warning: file_get_contents(): php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56