JAKARTA, KOMPAS.com - Sejumlah perusahaan tetap melanjutkan rencana penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO), meskipun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih diliputi volatilitas yang cukup tinggi.
Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan besar, apakah saat ini merupakan momentum yang tepat bagi perusahaan melantai di bursa, atau justru mengandung risiko lebih besar bagi emiten maupun investor?
Terdapat enam perusahaan dari berbagai sektor yang akan melantai di pasar modal tanah air, baik sektor consumer non-cyclicals, consumer cyclicals, industri hingga kesehatan.
Keenam calon emiten tersebut terdiri dari PT Rans Entertainmen Indonesia Tbk (RANS), PT Bach Multi Global Tbk (BACH), PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX), PT Esa Medika Mandiri Tbk (EMMI), PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL) dan PT Niramas Utama Tbk (JELI). Perusahaan-perusahaan ini mulai mencatatkan sahamnya pada awal Juli 2026.
Adapun, IHSG ditutup menguat pada perdagangan Kamis (25/6/2026). Indeks naik 115 poin atau 1,96 persen ke level 5.999, didorong oleh penguatan sejumlah saham berkapitalisasi besar.
Meskipun menguat, investor asing masih membukukan jual bersih alias net sell sebesar Rp 201 miliar.
Sehari sebelumnya, IHSG terperosok 3,56 persen ke area 5.884 saat penutupan perdagangan Rabu (24/6/2026). Anjloknya indeks setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) mempertahankan status Indonesia sebagai Emerging Market dalam MSCI Market Classification Review 2026.
Investment Specialist KISI Sekuritas, Ahmad Faris Mu’tashim, menilai keputusan enam perusahaan untuk tetap melaksanakan IPO di tengah gejolak pasar masih cukup tepat.
Pasalnya, tekanan akibat kenaikan harga minyak sebelumnya mulai mereda, sehingga kondisi pasar secara bertahap menunjukkan stabilisasi.
Meskipun volatilitas masih terjadi, IHSG diyakini tidak lagi membentuk pola lower low secara teknikal.
Hal itu menjadi sinyal bahwa pasar berpotensi memasuki fase pembalikan arah (reversal), sehingga dapat dimanfaatkan emiten sebagai momentum untuk melantai di bursa.
“Hal yang menjadi pertimbangan adalah kondisi pasar yang setidaknya mulai stabil, sehingga emiten dapat mengambil momentum potensi pembalikan arah,” ujar Faris saat dihubungi Kompas.com, Kamis malam (25/6/2026).
Menurutnya, minat investor terhadap saham IPO juga tidak semata-mata ditentukan oleh kondisi IHSG atau fundamental perusahaan.
Mayoritas investor lebih memperhatikan kredibilitas penjamin emisi (underwriter) serta kejelasan penggunaan dana hasil IPO itu sendiri.
“Melihat behavior investor saat ini yang biasa, terlihat mayoritas orang lebih memilih saham IPO dari sisi kredibilitas underwriter dan peruntukan alokasi dana IPO. Sehingga, kondisi pasar dan valuasi yang cenderung premium seringkali tereduksi,” paparnya.
Valuas lebih murah?
Ia menilai kondisi pasar yang masih berfluktuasi tidak serta-merta membuat valuasi IPO menjadi lebih murah dibandingkan saat pasar sedang bullish.
Valuasi saham IPO pada dasarnya cenderung diperdagangkan pada level premium, sehingga kondisi pasar hanya menjadi salah satu faktor yang memengaruhi penentuan harga.
Di sisi lain, investor akan semakin selektif memilih saham IPO ketika pasar tidak menentu.
Dia yakin perhatian investor tidak hanya tertuju pada prospek perusahaan, tetapi juga mempertimbangkan kondisi makro ekonomi, termasuk potensi inflasi yang diperkirakan bergerak di kisaran atas proyeksi Bank Indonesia (BI).
Dalam situasi tersebut, sektor-sektor defensif seperti barang konsumsi dan kesehatan dinilai masih memiliki daya tarik lebih besar untuk melaksanakan IPO maupun menarik minat investor.
“Tentu Investor akan lebih selektif untuk memilih saham IPO terutama melihat data makro kita akan menghadapi data inflasi yang bergerak pada rentang atas proyeksi BI, sehingga sektor defensif seperti konsumer dan kesehatan menjadi beberapa sektor dengan peluang menarik,” kata dia.
Lebih jauh, risiko perusahaan merevisi valuasi, mengurangi jumlah saham yang dilepas, atau bahkan menunda IPO tetap ada apabila kondisi pasar kembali memburuk.
Namun, kemungkinan tersebut relatif kecil karena sebagian besar emiten yang akan melantai di bursa saat ini telah memasuki tahap book building. Dengan demikian, peluang perusahaan membatalkan aksi korporasi dinilai tidak besar.
Faris juga menyoroti kondisi likuiditas pasar saham yang masih menjadi perhatian.
Kehadiran sejumlah saham IPO justru berpotensi mengalihkan sebagian dana investor ke saham-saham baru.
Akibatnya, likuiditas pada saham-saham yang sudah lama tercatat di bursa dan telah mengalami kenaikan harga (extended) berpotensi sedikit tertekan karena terjadi perpindahan alokasi dana ke saham IPO.
“Justru, kehadiran saham IPO ini akan sedikit menekan likuiditas dari saham-saham yang sudah extend di bursa,” lanjut Faris.
Disclaimer: Artikel ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Seluruh rekomendasi berasal dari analis sekuritas. Keputusan investasi menjadi tanggung jawab investor. Pastikan melakukan riset mandiri sebelum menentukan pilihan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang