Bisnis.com, JAKARTA - Pasca bencana yang melanda sejumlah daerah di Sumatra, ratusan ribu warga masih harus mengungsi dari tempat tinggal mereka.
Kondisi kesehatan di lokasi pengungsian pun menjadi salah satu perhatian utama di tengah keterbatasan fasilitas dan lingkungan yang belum sepenuhnya pulih, tak terkecuali bagi pengungsi anak.
Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Piprim Basarah Yanuarso menyebutkan, hingga kini sejumlah anak dilaporkan mengalami gangguan kesehatan selama berada di pengungsian. Ada tiga jenis penyakit yang paling banyak dialami anak-anak.
"Seperti yang telah dilaporkan oleh rekan-rekan di lapangan, tiga penyakit yang paling sering ditemukan di daerah pengungsian adalah ISPA atau infeksi saluran pernapasan, penyakit kulit, dan diare," ungkapnya di Gedung IDAI, Jakarta Pusat, Senin, (22/12/2025).
Piprim menyebut tiga penyakit ini memang telah menjadi pola yang hampir selalu muncul di berbagai lokasi bencana.
Kondisi lingkungan yang padat, keterbatasan air bersih, serta sanitasi yang belum memadai menjadi faktor utama yang mempercepat penyebaran penyakit di kalangan pengungsi, terutama anak-anak dan kelompok rentan.
Selain itu, terdapat pula sejumlah laporan kasus penyakit kronik yang membutuhkan perujukan segera ke rumah sakit. Dalam kondisi seperti ini, tenaga medis di lapangan umumnya akan langsung merespons dengan merujuk pasien ke layanan kesehatan terdekat yang lebih memadai.
Mengingat masih adanya sejumlah wilayah yang sulit dijangkau, Piprim menekankan pentingnya kolaborasi lintas pihak. Dukungan helikopter dari TNI serta berbagai institusi lainnya dinilai krusial untuk menjangkau daerah terpencil yang belum tersentuh bantuan, selain melalui pemanfaatan sarana pendukung lainnya.
Ketua IDAI Cabang Sumatra Utara, Eka Erlangga, menyatakan bahwa penyakit yang paling banyak dijumpai setelah bencana adalah infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Selain itu, kasus dermatitis, diare, gastroenteritis, infeksi kulit, serta demam juga cukup dominan ditemukan di lapangan.
Dia menambahkan, layanan kesehatan tidak hanya difokuskan pada anak-anak, tetapi juga menjangkau pengasuh dan orang tua, termasuk ibu hamil. Keluhan yang ditangani antara lain hipertensi, diare, dispepsia, hingga artritis. Di sisi lain, aspek kesehatan mental dan trauma psikologis turut menjadi perhatian dalam pelayanan kesehatan pascabencana.
Secara keseluruhan, hingga hari ini tercatat lebih dari 4.500 anak telah mendapatkan layanan dari tim kesehatan IDAI bersama organisasi profesi lainnya. Tim juga melakukan kunjungan langsung ke rumah anak-anak penyandang disabilitas di wilayah terpencil yang aksesnya masih terputus.