Bisnis.com, JAKARTA — Sebuah video yang beredar luas di media sosial memperlihatkan kereta api di Belgia dihiasi grafiti besar bertuliskan “Israel terrorist state”. Aksi ini memicu perhatian publik Eropa, di tengah meningkatnya ekspresi solidaritas terhadap warga Palestina. Video yang menampilkan gerbong kereta melintas dengan tulisan tersebut kini menyebar luas di berbagai platform daring.
Belum ada keterangan resmi mengenai pelaku yang membuat grafiti itu. Namun, insiden tersebut muncul ketika sentimen publik di Belgia terhadap tindakan Israel di Gaza terus mengeras. Banyak pihak menilai aksi ini sebagai bentuk protes politik warga sipil, meski otoritas transportasi Belgia kemungkinan mengklasifikasikannya sebagai vandalisme.
Insiden grafiti itu juga terjadi pada saat hubungan diplomatik antara Belgia dan Israel sedang menegang, menyusul serangkaian kebijakan keras Belgia dalam beberapa bulan terakhir, termasuk sanksi dan pembatasan hubungan dagang dengan entitas Israel.
Israel Kembali Serang Gaza
Aksi grafiti tersebut viral bersamaan dengan laporan terbaru mengenai serangan Israel di Gaza pada Sabtu (22/11). Badan Pertahanan Sipil Gaza mencatat 21 orang tewas, termasuk anak-anak, dalam lima serangan udara terpisah yang dilancarkan Israel—sebuah eskalasi yang dinilai sebagai pelanggaran nyata terhadap gencatan senjata.
Menurut juru bicara pertahanan sipil Gaza, Mahmud Bassal, serangan pertama menargetkan sebuah kendaraan di lingkungan Al-Rimal, Gaza barat. Rekaman di lapangan menunjukkan warga, termasuk anak-anak, berusaha menyelamatkan barang-barang dari reruntuhan.
Laporan Al Jazeera menyebut serangan mematikan itu terjadi pada jam sibuk ketika banyak keluarga pengungsi tengah mencari makanan di pasar jalanan dan toko roti. Dalam rentang dua jam, warga tewas di dalam mobil, tempat penampungan, hingga sisa-sisa rumah mereka, menegaskan bahwa kekerasan tetap berlanjut meskipun gencatan senjata dari AS sudah berlaku lebih dari enam minggu.
Di sisi lain, militer Israel mengklaim telah menewaskan atau menangkap 17 anggota bersenjata Hamas yang terjebak di terowongan Rafah timur. Israel menuduh Hamas sebagai pihak yang pertama kali melanggar gencatan senjata pada hari yang sama, menyebut seorang “teroris bersenjata” melintasi garis demarkasi dan menyerang tentara IDF.
Data dari Kementerian Kesehatan Gaza menyebut 312 warga Palestina tewas sejak gencatan senjata diberlakukan. Sejak awal perang Oktober 2023, korban tewas mencapai 69.733 orang, menurut data yang dinilai PBB dapat dipercaya.
Aksi grafiti pada kereta Belgia ini muncul ketika pemerintah Belgia mengambil langkah diplomatik paling tegas dalam sejarah modernnya terhadap Israel.
Menteri Luar Negeri Belgia, Maxime Prevot, mengumumkan bahwa Belgia akan mengakui Negara Palestina pada Sidang Majelis Umum PBB akhir bulan ini. Bersamaan dengan itu, Belgia menerapkan 12 sanksi terhadap Israel, termasuk:
- Larangan impor produk dari permukiman ilegal Israel di Tepi Barat
- Peninjauan ulang kontrak pengadaan publik dengan perusahaan-perusahaan Israel
- Langkah untuk mengisolasi kebijakan pemukiman Israel yang dinilai melanggar hukum internasional
Prevot menyebut keputusan ini sebagai respons langsung atas “tragedi kemanusiaan yang tidak bisa diterima” di Gaza, termasuk kelaparan dan pemutusan akses bantuan, yang menurutnya merupakan kejahatan perang.
Palestina menyambut baik keputusan Belgia dan menyerukan negara-negara Eropa lain melakukan langkah serupa. Sementara itu, Israel belum mengeluarkan komentar resmi, tetapi tokoh oposisi Avigdor Lieberman menyebut langkah Belgia sebagai bukti “kegagalan politik Netanyahu”.
Belgia menjadi salah satu negara Eropa yang secara terbuka menekan Israel melalui sanksi ekonomi dan kebijakan diplomatik, yang dinilai para analis sebagai bagian dari meningkatnya momentum dukungan Eropa terhadap pengakuan resmi negara Palestina.