Bisnis.com, JAKARTA – Gurita bisnis konglomerat Anthoni Salim, Metro Pacific Investments Corporation, membukukan kinerja yang solid sepanjang sembilan bulan 2025. Laba bersih inti konsolidasi yang mampu dibukukan perusahaan yang berlokasi di Filipina itu mampu tumbuh hingga 14% YoY.
Adapun Metro Pacific Investments Corporation (MPIC) merupakan perusahaanholdingyang memiliki fokus bisnis pada infrastruktur. Beberapa portofolio bisnis dari perusahaan ini antara lain energi, jalan tol, air, real estate, kesehatan, hinggawaste management.
Grup Salim menguasai 49,9% saham MPIC melalui First Pacific Company Ltd. Di First Pacific, Salim menjabat sebagai Direktur Utama dan sekaligus menggenggam 42% saham perusahaan yang berlokasi di Hong Kong itu.
Adapun melansir laman resmi MPIC, perusahaan tersebut mampu membukukan laba bersih konsolidasi senilai ₱23,6 miliar atau setara dengan Rp6,67 triliun (kurs Rp282,9 per peso Filipina). Torehan itu naik dibandingkan posisi ₱20,8 miliar pada periode yang sama 2024.
Diperinci, segmen kelistrikan memberikan kontribusi sebesar 65% dari total laba bersih operasional perseroan. Segmen ini mencatatkan laba senilai Rp4,97 triliun. Dari sisi topline, kinerja segmen ini meningkat 5% YoY lantaran didorong oleh kenaikan biaya pass through, peningkatan penjualan listrik ritel, serta peningkatan pendapatan dari pembangkit listrik. Kenaikan biaya pass through terjadi lantaran kenaikan harga gas alam dan LNG.
Mengekor di belakangnya, segmen air dan jalan tol berkontribusi masing-masing Rp1,64 triliun dan Rp1,24 triliun. Secara total, dua segmen terakhir berkontribusi 37% terhadap laba bersih operasional perseroan.
Pada segmen air, perseroan membukukan pendapatan yang bertumbuh 10% YoY menjadi Rp7,83 triliun per September 2025. Hal itu terjadi lantaran dampak dari kenaikan tarif 8% yang diterapkan pada awal Januari 2025. Sejalan dengan itu, laba bersih inti naik 18% YoY menjadi Rp3,22 triliun.
Sementara pada segmen jalan tol, IMPC juga membukukan pertumbuhan pendapatan 17% YoY menjadi Rp7,63 triliun lantaran kombinasi kenaikan tarif tol dan pertumbuhan lalu lintas di Filipina.
Perseroan mencatat, terjadi pertumbuhan sebesar 2% terhadap pertumbuhan lalu lintas di Negeri Lumbung Padi itu. Sementara itu, Indonesia tidak mengalami pertumbuhan lalu lintas dan Vietnam justru mencatatkan penurunan volume lalu lintas.
Alhasil, setelah dikurangi berbagai beban dan pajak, segmen ini mampu membukukan laba bersih inti yang lebih rendah 2% menjadi Rp1,35 triliun karena beban biaya pendanaan yang lebih tinggi dalam akuisisi.
CEO MPIC Manuel V. Pangilinan menyebut bahwa kinerja solid sepanjang sembilan bulan 2025 telah mencerminkan ketahanan bisnis inti perseroan. Ke depan, MPIC bakal terus mengembangkan portofolio perusahaan, terutama di bidang energi, air, dan ketahanan pangan.
"Kinerja kami dalam sembilan bulan pertama tahun ini menggarisbawahi ketahanan bisnis inti kami. Bisnis kelistrikan dan air terus mencatat hasil yang kuat, sementara jalan tol berhasil menghadapi tantangan jangka pendek yang berasal dari biaya pendanaan yang lebih tinggi dan diharapkan mendapatkan kembali momentum seiring dengan matangnya jalan tol yang lebih baru," katanya dalam keterangan resminya yang dipublikasikan Senin (17/11/2025).
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.