Bisnis.com, JAKARTA - Raksasa ayam goreng Filipina diam-diam telah mengubah strategi untuk bertahan dan berkembang di salah satu pasar makanan cepat saji paling kompetitif di dunia, di Singapura.
Tahun ini, restoran ayam goreng itu berhasil menjadi salah satu merek dengan pertumbuhan paling cepat di Singapura.
Brand ini berhasil bertumbuh di tengah persaingan yang ketat, biaya tinggi, serta tuntutan pelanggan dan karyawan. Singapura juga menjadi tempat uji coba untuk mendorong Jollibee mengoptimalkan operasional, berinovasi dalam menu, dan meningkatkan layanannya.
Pelajaran yang didapat di Singapura berharga untuk membentuk strategi rantai makanan cepat saji di pasar-pasar negara lain.
Mengutip The Straits Times, Jolibee saat ini sudah mengoperasikan 26 gerai di Singapura, bahkan membuka gerai baru selama pandemi.
Tahun ini, ada empat gerai baru yang dibuka, termasuk di National University of Singapore, dan Distrik Punggol Digital. Langkahnya juga belum selesai, masih ada gerai di Hougang Mall dijadwalkan dibuka pada Desember mendatang.
Hilal Buka di Indonesia
Meskipun sudah tak ada di Indonesia, rasa ayam goreng Jollibee masih begitu membekas di lidah para penggemarnya.
Jollibee sempat buka di Indonesia pertama kali pada 1991 di Jakarta. Namun, gerai pertama tersebut tutup pada 1997 saat terjadi krisis finansial di Asia.
Kemudian, gerai lainnya di Kelapa Gading, Jakarta menyusul tutup pada 2004, dan di Medan tutup pada 2005, menjadi akhir eksistensi Jollibee di Indonesia.
Sejak 2018, Jollibee sempat mengumumkan niatnya untuk kembali membuka gerainya di Indonesia. Namun, hingga kini belum ada tanda-tanda gerai ayam goreng dengan maskot lebah merah itu akan muncul.
Pendiri Jollibee
Jollibee didirikan pada tahun 1975 oleh pengusaha asal Filipina, Tony Tan Caktiong.
Pria lulusan University of Santo Thomas itu membuka usaha ayam goreng dengan bantuan istrinya, Grace, keluarga, dan mertuanya.
Mereka memulai bisnisnya dengan menjual es krim di jalanan Manila. Tiga tahun setelah memulai, keluarga tersebut melihat peluang untuk makanan panas.
Mereka kemudian mengubah kedai es krim tersebut menjadi merek Jollibee yang kini begitu dikenal.
Di bawah tangan dingin Tony, Jollibee menjadi grup restoran dengan 19 merek yang dicintai dan lebih dari 10.000 toko dan kafe di 33 negara.
Menurut Forbes, Tony Tan Cak Tiong sendiri memiliki kekayaan US$1 miliar. Selain dari Jollibee, sumber kekayaan Tony berasal dari real estat, di mana bersama mitranya Edgar Sia II, ia memiliki saham di pengembang real estat yang berkembang pesat, DoubleDragon Corporation.