Bisnis.com, SEMARANG — Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Jawa Tengah pada November 2025 turun menjadi 4,32%, dibandingkan kondisi Agustus 2025 yang sebesar 4,66%.
Berdasarkan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) November 2025, jumlah angkatan kerja di Jawa Tengah mencapai 22,32 juta orang atau turun 0,014 juta orang dibandingkan Agustus 2025. Sejalan dengan itu, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) juga mengalami penurunan 0,26% menjadi 74,10%.
“Angkatan Kerja pada November 2025 mencapai 22,32 juta juta dengan komposisi terdiri dari 21,36 juta orang bekerja dan 0,97 juta orang pengangguran. Apabila dibandingkan dengan Agustus 2025 jumlah Angkatan Kerja berkurang 14.000 orang, dan jumlah penduduk kerja bertambah sekitar 61.000 orang. Sementara itu, jumlah pengangguran berkurang 75.000 orang,” jelas Kepala BPS Provinsi Jawa Tengah Ali Said, dikutip pada Kamis (19/2/2026).
Bertambahnya jumlah penduduk bekerja di Jawa Tengah sebesar 21,36 juta, membuat angka TPT turun sebesar 0,34% dibandingkan dengan TPT pada bulan Agustus 2025.
“TPT pada bulan November 2025 sebesar 4,32%, artinya bahwa dari sekitar 100 orang angkatan kerja, akan terdapat sekitar 4—5 orang yang menganggur,” tambah Ali.
Lebih lanjut, berdasarkan wilayah, Ali menjelaskan bahwa TPT November 2025 di perkotaan mencapai 4,95% atau lebih tinggi dibandingkan TPT di wilayah perdesaan yang tercatat mencapai 3,44%. Sementara itu, jika dibandingkan dengan Agustus 2025, TPT di perkotaan dan perdesaan masing-masing mengalami penurunan sebesar 0,08% dan 0,73%.
Jika dilihat dari lapangan pekerjaan utama, Ali mengungkapkan bahwa pada November 2025 terdapat tiga lapangan usaha yang paling banyak menyerap tenaga kerja, yakni Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan sebesar 26,07%. Diikuti dengan industri pengolahan sebesar 21,03%, dan Perdagangan sebesar 18,01%.
“Jika dibandingkan Agustus 2025, lapangan usaha yang mengalami peningkatan terbesar adalah Pengangkutan dan Pergudangan sebanyak 0,047 juta orang, Pertanian sebanyak 0,029 juta orang, dan Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum sebanyak 0,024 juta orang,” tambahnya.
Selanjutnya berdasarkan kegiatan pekerjaan pada November 2025, penduduk yang bekerja dalam kegiatan informal mencapai 58,50%, sementara itu penduduk yang bekerja dalam kegiatan formal mencapai 41,21%. Proporsi penduduk yang bekerja pada kegiatan formal mengalami peningkatan selama Agustus—November 2025, utamanya didorong oleh meningkatnya buruh/karyawan/pegawai.
Berdasarkan kategori jam kerja pada November 2025, Ali menjelaskan bahwa sebagian besar penduduk bekerja, yakni sebesar 15,08 juta atau 70,62% merupakan pekerja penuh dengan jam kerja minimal 35 jam per pekan.
“Dibandingkan Agustus 2025, persentase pekerja penuh mengalami kenaikan 1,81% atau sebesar 70,62%. Kemudian untuk kategori setengah pengangguran pada November 2025 tercatat sebesar 6,62%, dan kategori pekerja paruh waktu pada November 2025 mencapai 22,75%,” katanya. (Fadya Jasmin Malihah)