#30 tag 24jam
Survei Ungkap Masyarakat Kelas Menengah Mulai Pisahkan Alokasi Pengeluaran
Kelompok ini masih menjadi penopang utama konsumsi rumah tangga. [442] url asal
#pengeluaran #kantong-digital #kelas-menengah #dompet-digital
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Tekanan biaya hidup dan ketidakpastian ekonomi mendorong masyarakat, khususnya kelas menengah, semakin disiplin mengatur keuangan. Salah satu cara yang kini banyak dilakukan ialah memisahkan pengeluaran berdasarkan kebutuhan melalui fitur “kantong” di layanan keuangan digital.
Sebanyak 51,8 persen masyarakat telah memisahkan uang untuk tagihan bulanan dan kebutuhan sehari-hari sebagai bagian dari strategi pengelolaan keuangan, berdasarkan survei Katadata Insight Center (KIC). Selain itu, sebanyak 68 persen responden mengaku merencanakan pendapatan dan pengeluaran, sementara 44,9 persen rutin mencatat pengeluaran harian.
Kondisi tersebut muncul di tengah tekanan terhadap kelompok kelas menengah. Data 2024 menunjukkan jumlah kelas menengah Indonesia turun dari 57,3 juta orang pada 2019 menjadi 47,2 juta orang pada 2024.
Meski demikian, kelompok ini masih menjadi penopang utama konsumsi rumah tangga nasional dengan kontribusi mencapai 81,5 persen.
Dalam praktiknya, pemisahan pengeluaran kini semakin mudah dilakukan melalui fitur “kantong” yang tersedia di berbagai layanan perbankan digital. Fitur tersebut memungkinkan pengguna membagi dana ke dalam beberapa pos seperti tagihan bulanan, tabungan, transportasi, dana darurat, hingga kebutuhan harian.
Hasil survei lainnya mencatat 86 persen masyarakat telah mengetahui fitur ini lantaran diadopsi oleh berbagai bank seperti Bank Jago, BCA dan Mandiri. Mayoritas responden juga mengaku pertama kali mengetahui fitur ini melalui Bank Jago.
Sebanyak 9 dari 10 pengguna juga mengaku fitur kantong membantu menciptakan kondisi keuangan yang lebih sehat karena pengeluaran menjadi lebih terkontrol dan terukur.
Tidak hanya berdampak secara fungsional, penggunaan fitur kantong juga dinilai memberi efek psikologis. Sebanyak 96,1 persen pengguna mengaku merasa lebih tenang karena perencanaan keuangan menjadi lebih jelas.
Peneliti Pusat Ekonomi Digital dan UMKM Indef Fadhila Maulida mengatakan, fitur kantong pada bank digital pada dasarnya merupakan digitalisasi dari metode pengelolaan uang secara manual yang selama ini sudah diterapkan masyarakat.
“Sebenarnya bank digital ini lebih ke enabler dari yang amplop-amplop itu menjadi digital,” kata Fadhila.
Direktur Program dan Kebijakan Center of Policy Studies Prasasti Piter Abdullah menilai perkembangan layanan keuangan digital ikut mengubah pola pengelolaan keuangan masyarakat.
“Sekarang tanpa ke bank bisa buka rekening, buka rekening bisa satu rekening kantongnya banyak. Berbagai ekosistem yang bergabung dalam keuangan ada sekarang,” ujar Piter.
Menurut dia, fitur kantong juga relevan dimanfaatkan pelaku UMKM untuk memisahkan dan memantau arus kas usaha secara lebih rapi dan transparan.
Sementara itu, Kepala Bidang Riset dan Pengembangan Produk Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan mengingatkan pentingnya disiplin dalam menentukan prioritas pengeluaran, khususnya bagi kelas menengah.
“Ketika mendapatkan penghasilan, alokasikan mana yang untuk kebutuhan esensial, harus bisa membedakan mana yang esensial mana yang gaya hidup,” ujar Trioksa.
Survei ini juga mencatat penggunaan fitur kantong menurunkan jumlah masyarakat yang menyimpan uang tanpa alokasi jelas dari 33,8 persen menjadi 12,8 persen.
Bukan Sekadar Menabung, Ini Cara Pekerja Urban Mengatur Uang Tanpa Kehilangan Kenyamanan
Pekerja urban wajib tahu! Kelola keuangan di tengah gaya hidup serba cepat. Dengan budgeting dan fitur kantong digital, uang aman, tujuan finansial tercapai. [817] url asal
#pekerja-urban #kantong-digital #budgeting-pengeluaran #guilt-free-spending
(Kompas.com - Money) 18/05/26 15:31
v/223822/
JAKARTA, KOMPAS.com - Mengelola keuangan kini tidak lagi cukup hanya dengan menyisihkan uang ke tabungan.
Di tengah gaya hidup urban yang serba cepat dan penuh distraksi pengeluaran, banyak pekerja urban mulai mencari cara agar uang tetap terkontrol tanpa harus mengorbankan kenyamanan hidup.
Salah satu cara yang mulai banyak diterapkan adalah melakukan budgeting pengeluaran begitu gaji diterima.
Dengan begitu, pengeluaran harian, tabungan, hingga dana hiburan tidak lagi tercampur dalam satu saldo.
Tamara (25), seorang pekerja urban di Jakarta, mengaku sudah terbiasa membagi pengeluaran sejak pertama kali bekerja.
Setiap menerima gaji, dia langsung memetakan dana sesuai pengeluaran. "Biasanya setiap gajian, langsung sisihkan uang untuk tabungan, lalu sisanya aku plot-plotin sesuai kebutuhan. Misalnya untuk transportasi per bulan sekian, makan sekian, bayar rusun sekian," ujarnya kepada Kompas.com beberapa waktu lalu.
Kebiasaan itu mulai terbentuk sejak dirinya merantau saat kuliah.
Namun, dia mengaku, kelihaiannya mengelola keuangan baru terasa ketika memasuki tahun kedua bekerja.
Kendati demikian, meski sudah melakukan strategi tersebut, Tamara mengaku kerap mengalami kebocoran pengeluaran.
Salah satu penyebabnya datang dari pengeluaran kecil yang terasa sepele, tetapi rutin dilakukan.
Dari berbagai pengeluaran, kebiasaan membeli kopi menjadi yang paling sering diam-diam menguras anggaran. "Akhir-akhir ini karena lebih sering work from cafe (WFC). Sekalinya WFC bisa keluar Rp 80 ribuan lebih, sudah termasuk transportasi sama makan atau ngopi," ungkapnya.
Pisahkan Dana Pengeluaran Menjadi Kunci
Untuk menjaga pengeluaran tetap sesuai rencana, Tamara kini memisahkan bujet pengeluaran secara terpisah melalui fitur kantong dari rekening tabungan dan e-wallet. Kebutuhan sehari-hari seperti makan, transportasi, dan belanja bulanan dia atur melalui fitur kantong digital di aplikasi Bank Jago.
Sementara pembayaran langganan seperti musik dan aplikasi dilakukan lewat dompet digital terpisah.
Menurutnya, cara ini jauh lebih praktis dibanding metode lama yang pernah dia lakukan. “Sebelum ada fitur kantong digital, biasanya habis gajian aku tarik tunai terus dibagi ke beberapa amplop yang sudah dikasih nama untuk transportasi, makan, dan lain-lain,” ujarnya.
Dengan sistem tersebut, ia merasa lebih mudah mengontrol pengeluaran tanpa harus membatasi diri secara berlebihan.
Lifestyle yang dijalani pun tidak banyak berubah.
Terapkan Konsep Guilt Free Spending
Perencana keuangan Andi Nugroho menilai persoalan utama dalam pengelolaan uang sebenarnya bukan terletak pada besar kecilnya penghasilan, melainkan pemahaman dalam mengatur arus keuangan.
Menurutnya, seseorang dengan pendapatan tinggi pun tetap bisa kesulitan finansial jika hanya fokus memenuhi kebutuhan saat ini tanpa mempersiapkan risiko di masa depan. “Mereka terlena pada kondisi penghasilan yang besar dan hanya fokus menghabiskan uang untuk kebutuhan saat ini saja, tanpa memikirkan berbagai potensi risiko,” kata Andi kepada Kompas.com, Senin (4/5/2026). Karena itu, menurutnya, solusi pengelolaan uang tidak cukup hanya dengan membatasi pengeluaran secara ketat. “Kalau hanya sekadar membatasi tanpa memahami kenapa harus dibatasi, tentu jadi kurang nyaman,” katanya.
Andi menilai konsep guilt-free spending atau menikmati pengeluaran tanpa rasa bersalah bisa diterapkan selama seseorang memiliki perencanaan yang jelas.
Salah satunya dengan membuat budgeting sejak awal dan memastikan setiap pengeluaran memang sudah dialokasikan sebelumnya.
Dia juga menyarankan pekerja urban untuk lebih mengutamakan membeli barang sesuai kebutuhan dibanding keinginan. "Bila membeli barang, utamakan yang value for money-nya paling tinggi dibandingkan dengan gengsinya," kata dia.
Selain itu juga menerapkan jeda minimal 24 jam sebelum membeli barang impulsif, serta tetap menyediakan ruang untuk self-reward sesuai kemampuan finansial.
Terakhir, hindari belanja dengan paylater ataupun kartu kredit.
FREEPIK/FREEPIK Ilustrasi menabung.Pemanfaatan Kantong Digital Jadi Solusi
Fenomena memisahkan uang berdasarkan tujuan juga tecermin dari meningkatnya penggunaan fitur kantong digital di layanan perbankan.
Head of Retail Banking Brand and Marketing Michael Hartawan menjelaskan, fitur kantong membantu nasabah melihat uang bukan sekadar nominal saldo, melainkan bagian dari tujuan finansial yang lebih jelas.
“Dengan kantong, nasabah bisa memberi makna pada setiap rupiah, mana untuk kebutuhan harian, tabungan, hingga tujuan jangka panjang,” ucap Michael kepada Kompas.com, Selasa (5/5/2026).
Berdasarkan data Bank Jago, hingga Maret 2026 terdapat sekitar 43,2 juta kantong yang digunakan oleh 15,2 juta pengguna aplikasi.
Rata-rata setiap pengguna memiliki hampir tiga kantong khusus.
Kantong pengeluaran menjadi fitur yang paling banyak dipakai, terutama untuk kebutuhan sehari-hari seperti makan, jajan, dan pengeluaran rutin lainnya.
Dia menilai masalah utama masyarakat saat ini sebenarnya bukan sekadar menyimpan uang, melainkan mengelolanya dengan disiplin dan terarah.
“Dana kebutuhan harian sering tercampur dengan tabungan, rencana jangka panjang jadi terpakai, dan akhirnya tujuan finansial tidak tercapai,” kata Michael.
Karena itu, fitur kantong dinilai menjadi cara praktis bagi masyarakat urban untuk tetap menikmati gaya hidup, tetapi tetap memiliki kontrol atas kondisi keuangan mereka.
Seiring berkembangnya kebutuhan finansial masyarakat, pengelolaan uang juga kini mulai terhubung dengan investasi.
Melalui integrasi layanan investasi di aplikasi digital, pengguna dapat mengalokasikan dana sekaligus memantau perkembangan aset dalam satu ekosistem.
Bagi banyak pekerja urban, cara seperti ini bukan lagi sekadar soal menabung, melainkan membangun sistem keuangan yang lebih rapi agar kebutuhan hari ini tetap terpenuhi tanpa mengorbankan tujuan masa depan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
Sudah Budgeting, Tapi Masih Bocor? Ini Masalah Keuangan yang Sering Dialami Keluarga Muda
Kebocoran anggaran sering mengintai keluarga muda. Pelajari cara Dian, seorang working mom, mengatasinya dengan fitur kantong digital. [792] url asal
#mengatur-keuangan #keluarga-muda #kantong-digital #kebocoran-keuangan
(Kompas.com - Money) 15/05/26 13:45
v/221792/
JAKARTA, KOMPAS.com - Disiplin membuat anggaran pengeluaran bulanan saja ternyata tidak cukup ampuh untuk mengatasi masalah kebocoran keuangan bagi keluarga muda.
Kondisi itu pernah dirasakan Dian (35 tahun), seorang working mom. Dia mengaku sempat mengatur keuangan di satu rekening tabungan.
Namun karena seluruh uang kebutuhan tercampur, akibatnya dana yang seharusnya disimpan untuk pengeluaran tertentu 'bocor' atau kerap terpakai untuk kebutuhan lain.
Dia juga sempat mencoba memisahkan uang dengan rekening yang berbeda-beda.
Namun cara tersebut juga tidak berjalan efektif untuk mencegah kebocoran karena dia jadi harus membayar biaya admin bank untuk tiap rekeningnya.
"Tantangan utamanya biasanya memastikan semua kebutuhan terpenuhi tanpa kebablasan, apalagi kalau pengeluaran lagi banyak," kata Dian kepada Kompas.com, beberapa waktu lalu.
Setelah mencoba berbagai cara untuk mengatur keuangan keluarga agar tidak bocor, kini Dian mulai memisahkan uang berdasarkan kebutuhan melalui fitur kantong digital dalam satu aplikasi perbankan.
Cara tersebut, menurutnya, membuat alur pengeluaran lebih mudah dipantau.
Uang dapat dibagi menjadi beberapa kantong digital tapi tetap ada di satu rekening pengelolaan uang jadi lebih aman dan tidak gampang bocor untuk kebutuhan lain.
"Jadi lebih kelihatan alurnya, uangnya dipakai ke mana aja, dan lebih gampang ngontrol pengeluaran," ucapnya.
Bahkan dia juga menggunakan fitur sharing kantong dari salah satu bank digital untuk menabung bersama dengan suami, kerabat, dan teman untuk berbagai tujuan.
Misalnya, dengan suami, dia gunakan fitur itu untuk menabung biaya liburan keluarga.
Fitur ini juga dia gunakan untuk arisan bersama teman-teman. "Seru banget, bisa arisan sama teman. Dan waktunya pun tidak perlu ketemu lho, kocok arisannya langsung di fitur sharing itu," ungkapnya antusias.
Fenomena kebocoran keuangan meski sudah membuat budgeting sebenarnya banyak dialami keluarga muda.
Penyebab kebocoran
Perencana keuangan Andi Nugroho mengatakan, masalah tersebut umumnya terjadi karena pengeluaran keluarga terlalu mepet dengan pemasukan.
"Secara general kita bisa bilang karena penghasilannya lebih sedikit dibandingkan pengeluarannya, atau penghasilannya begitu ngepas dibandingkan dengan pengeluarannya," ungkap Andi kepada Kompas.com, Senin (4/5/2026).
Namun, menurut dia, hal tersebut wajar terjadi karena setelah berkeluarga tentu sumber pengeluaran menjadi jauh lebih kompleks dibanding saat masih lajang.
Kebocoran keuangan bagi orang yang sudah berkeluarga sering muncul dari pos-pos kecil yang terus bermunculan dan sulit diprediksi.
"Ada kemungkinan kebocorannya di kebutuhan-kebutuhan anak seperti uang jajan anak, ataupun apabila ada kebutuhan pemeliharaan kesehatan yang mendadak, serta ada kemungkinan timbulnya biaya-biaya sosial dari masyarakat seperti banyaknya undangan pernikahan yang harus dihadiri, uang tali asih bila ada warga yang kedukaan," bebernya.
Kendati demikian, Andi menilai, sistem pengelolaan keuangan keluarga sebenarnya tidak bisa disamaratakan.
Setiap pasangan memiliki kondisi dan pola pengaturan uang yang berbeda-beda.
Karena itu, menurut dia, sistem pengelolaan keuangan yang paling realistis adalah sistem yang paling memungkinkan dijalankan secara konsisten oleh masing-masing keluarga.
"Ada yang sistemnya semua kebutuhan keluarga dicover dari penghasilan suami, lalu penghasilan istri difokuskan untuk ditabung dan diinvestasikan. Mana yang dipilih, tentu disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi keluarga tersebut masing-masing," ucapnya.
SHUTTERSTOCK/EGGEEGG Ilustrasi tabungan, rekening.Sementara itu, Head of Retail Banking Brand and Marketing Bank Jago Michael Hartawan mengungkapkan, masalah utama rumah tangga saat ini sebenarnya bukan sekadar menyimpan uang, melainkan mengelolanya secara disiplin dan terarah.
Salah satu penyebabnya, banyak rumah tangga yang masih mencampur dana kebutuhan harian dengan tabungan atau tujuan jangka panjang dalam satu rekening yang sama.
"Akibatnya, dana kebutuhan harian tercampur dengan tabungan, rencana jangka panjang sering terpakai, dan akhirnya tujuan finansial jadi tidak tercapai," ungkap Michael kepada Kompas.com, Selasa (5/5/2026).
Kendati demikian saat ini masyarakat sudah banyak yang mulai memisahkan keuangannya berdasarkan tujuan finansial melalui fitur kantong digital.
Pasalnya, dengan fitur kantong digital ini nasabah memecah dananya ke beberapa kantong dengan tujuan spesifik, tanpa harus repot membuka banyak rekening.
Hingga Maret 2026, terdapat sekitar 43,2 juta kantong yang digunakan oleh 15,2 juta pengguna aplikasi Bank Jago.
Rata-rata setiap pengguna memiliki hampir tiga kantong khusus untuk kebutuhan berbeda, mulai dari pengeluaran harian, tagihan rutin, hingga dana musiman seperti THR dan kebutuhan Lebaran.
"Jadi bukan karena tabungan biasa tidak cukup, tapi karena kebutuhan nasabah sudah berkembang. Mereka butuh tools yang tidak hanya bisa menyimpan uang, tapi juga membantu mengelolanya secara lebih terarah dan relevan dengan gaya hidup digital," jelasnya.
Dengan pengelolaan yang lebih terstruktur, budgeting dinilai menjadi lebih mudah dijalankan secara konsisten dibanding hanya mencatat pengeluaran tanpa pemisahan yang jelas.
Terlebih selain untuk kebutuhan pribadi, Bank Jago juga memiliki fitur kantong bersama atau sharing pocket untuk mengelola keuangan kolektif bersama pasangan, keluarga, maupun teman.
Menurut Michael, fitur tersebut memungkinkan beberapa orang mengakses satu kantong yang sama untuk tujuan tertentu.
Seluruh aktivitas keuangan tercatat dalam satu wadah sehingga lebih mudah dipantau bersama. "Setiap pihak bisa melihat, menggunakan, dan berkontribusi sesuai kesepakatan yang dibuat," tuturnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang#50 tag sepekan
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56